Urusan Pembangunan, Semua Rezim Sama-sama Amburadul di Kampung Saya

susahtidur.net – ilustrasi pembangunan amburadul

Orang-orang di “negara maju”—sebutan saya untuk daerah kota—sebagai buah dari pembangunan dan kemajuan, menayangkan berita-berita tentang politik sebagai barang yang sucinya tidak tanggung-tanggung.

***

susahtidur.net – Sekali waktu, teman saya—sebut saja namanya Mas Prabu—pernah bertanya apakah di Wakatobi presidennya masih Pak Soeharto? Saya lantas mengiyakannya. Blio tentu saja kaget pada jawabannya saya. Saking terbelakangnya kampung saya, sampai membuat kemajuan dan pembangunan hanya mentok sebatas angan-angan, mitos, ghoib, dan segala diksi yang nggak nyata lainnya. Belum lagi kalau saya sudah cerita mengenai hal-hal primitif lainnya, Mas Prabu dan teman saya lainnya pasti akan mengangguk sekaligus menggelengkan dalam satu waktu.

Prabu dan teman-teman saya pasti langsung memikirkan satu hal, bahwa kampung halaman saya adalah daerah di Indonesia yang tertinggalnya nggak ketulungan, sampai tidak ada daerah lain lagi yang lebih tertinggal di belakangnya.

Namun ketika saya menjawab pertanyaan Mas Prabu, saya tidak sedang ngelantur. Soeharto terkenal karena pembangunannya yang masif, dan karena pembangunan sudah mulai dan sedang masif-masifnya di Wakatobi, maka nggak salah kalau saya merasa Presidennya masih Soeharto. Lha gimana, wong saat semua daerah dulu dibangun, Wakatobi belum diapa-apain, ya barangkali sekarang ini baru dapat giliran.

Ya, dalam kekagetan Mas Prabu dan teman saya yang lain, saya membayangkan, mengira-ngira lalu bercerita kepada diri saya sendiri. Di wakatobi sana, saya masih merindukan bagaimana orba mengungkung saya dan kami dalam sebuah peradaban bernama “berpikir dengan akal sehat”.

Saya boleh bertaruh kepada siapa saja yang mengatakan saya sedang ngelantur tentang keyakinan saya ini. Bahwa boleh saja mereka menganggap saya sedang meromantisasi kemelaratan di masa lalu. Membuatnya seolah harga yang telah dibayarkan kepada suatu entitas bernama demokrasi, bagi kami—atau lebih tepatnya saya secara personal—tidak lagi terasa sakralnya.

Begini, saya tentu tidak mengenal atau bisa dengan pasti menyebut bahwa saya mengenal Orba ini dengan sangat baik. Pun saya hanya meraba-raba apa yang sedang bergejolak di masa lalu ketika orang-orang berbondong berani mengangkat isu demokrasi sebagai kontra narasi dari otoritarianisme Orba. Saya masih berusia enam atau tujuh tahun ketika huru-hara terjadi antara rezim Orba melawan rakyat. Tapi mari saya ceritakan hal yang juga tidak berakhir bagus dengan adanya cerita demokrasi yang menyentuh akar-akar peradaban baru manusia-manusia—yang katanya merdeka—di Wakatobi sana.

BACA JUGA YUK :  Dilarang Adzan Pada Siang Hari di Kampung Saya

Saya mengenal sedikit sekali hal tentang bagaimana Orba mampu menutupi kebusukannya, termasuk ketertinggalan peradaban di kampung saya. Tapi sejauh yang bisa saya ingat sebagai eksekusi dari sebuah lalapan bernama pembangunan dan kemajuan setelah perlawanan untuk demokrasi, saya juga tidak mengerti mengapa orang dengan bangganya menyebut demokrasi telah berhasil. Kalau pun tidak 100 persennya, paling tidak ya setengahnya.

Maksudnya, apanya yang berhasil dari demokrasi di negara ini? Pemilu juga main duit, suara-suara dibeli, bahkan sodara-sodara penguasa ya ikutan jadi penguasa di daerah lain? Apanya yang berhasil? Dari segi pembangunan, apakah pemerintahan berdasarkan demokrasi yang katanya berhasil ini mampu menjangkau Wakatobi? Hah, ketawa saya memikirkannya.

Orang-orang di “negara maju”—sebutan saya untuk daerah kota—sebagai buah dari pembangunan dan kemajuan, menayangkan berita-berita tentang politik sebagai barang yang sucinya tidak tanggung-tanggung. Lucunya, semuanya tampak diulang-ulang sampai saya bosan dan muak. Lebih lucunya lagi, pengulangan itu disampaikan secara total dan mendalam.

Semua hal mengenai kebaikan dan keburukan dalam politik dikemas sebagai satu kesatuan yang tidak boleh saling melepas satu sama lain. Ketika kebaikan dalam politik dilepas dari ikatan keburukan, ambyar sudah semua. Hal yang sama berlaku sebaliknya.

Baiklah, mari lupakan politik lucu di negara maju itu. Saya ingin menceritakan beberapa proyek yang pernah mampir di kampung saya, namun proyek yang manfaat dan tujuannya nggak jelas itu malah berubah menjadi barang ghoib.

Orang-orang menyebut beberapa proyek ini sebagai proyek pesanan, proyek politik, atau apa pun terserah meraka. Tentu saja semuanya tidak asal sebut. Semua bermuara dari sebuah cerita pembangunan demi kemajuan yang gagal, dan itu semua buah dari demokrasi yang dikendalikan memakai setir politik picik.

Amburadulnya Pembangunan Vila dan Tempat Wisata

Ini adalah sebuah proyek inisiasi dari bupati yang menjabat dua periode. Tepat ketika saya kelas dua SMP (sekira tahun 2006), proyek itu diadakan. Pembangunan vila dan tempat wisata tepat di sebelah sebuah resort besar yang telah berdiri sejak 1997 dan telah memiliki bandara perintisnya sendiri. Bahkan, pertama kali saya bisa menyaksikan pesawat—sampai bisa menyentuhnya—ya berkat resort besar yang saat ini malah berubah menjadi perusahaan itu.

BACA JUGA YUK :  Upaya Melawan Rezim Politik dengan Petisi yang Tampak Sia-sia

Saat proyek itu berlangsung, dengan optimisme tinggi, segala lini di kampung saya saling bahu membahu. Semua saling membantu. Masyarakat yang lelah bekerja sebagai kuli namun digaji sekadar ucapan “terima kasih” berubah menjadi sangat materialis saat itu juga.

Semua hal yang sekiranya bisa menjadi uang dijajakan bebas. Dari batu sampai keringat. Dari yang membeku sampai yang mendidih bahkan mencair. Semuanya seketika menjadi warna-warni bernama cuan. Di luar itu, iming-iming pembangunan dan kemajuan juga turut memberi dampak “kerja tidak rodi” ini terasa menjadi perlombaan.

Tapi rencana tinggallah rencana. Padahal gembar-gembor di awal, proyek ini akan menjadi aset berharga milik pemerintahan berkolaborasi dengan masyarakat.

Namun kenyataan berkata lain. Tidak ada kelanjutan kisah macam pembubaran ormas yang ketika kena tutup lapak masih bisa tetap membuka lapak di tempat lain dengan nama baru. Ini berbeda. Proyek politik hasil pesanan ini berakhir sangat tragis. Lebih tragis daripada proyek Candi Hambalang yang justru mampu menyeret nama pejabat mendekam di balik jeruji. Proyek Candi Hambalang diketahui publik, tetapi proyek vila dan tempat wisata di Wakatobi benar-benar moksa.

Amburadulnya Pembangunan Tembok Penepis Gelombang

Ini adalah sebuah proyek acak bernama PNPM Mandiri. Sebuah proyek yang saya kira adalah CSR sebuah bank swasta namun ternyata bukan. Sebuah proyek yang oleh pemerintahan—pusat—dimaksudkan sebagai sebuah terobosan untuk mengentaskan kemiskinan.

Nama tinggal nama, pun tujuan tinggallah tujuan. Program itu berjalan dengan sangat amburadul, dimotori oleh pihak yang bisa kita sebut sebagai kontraktor swata. Berakhir dengan dibangunnya sebuah tembok di pinggir laut yang saat-saat ini justru terlihat sebagai hiasan yang bukan hiasan. Sebuah hiasan yang justru membuat pemukiman menjadi berlumpur.

Awalnya tembok itu didirikan sebagai pelindung area pantai dari gelombang, namun posisinya justru salah. Ya gimana nggak salah, wong daerah yang dibangun tembok itu justru kawasan yang nggak ada gelombangnya. Hasilnya ya malah memperburuk keadaan.

Proyek yang turut dibantu oleh masyarakat sekitar dan belakangan justru menyulitkan orang-orang yang dulu terlibat di dalamnya. Sebuah proyek bumerang. Proyek yang justru menyusahkan orang-orang yeng terlibat di dalamnya. Masterpiece!

BACA JUGA YUK :  Pemutaran Film Propaganda yang Sarat Kebohongan di Sebuah Negara Fiktif

Amburadulnya Pembangunan Jembatan Titian

Yang ketiga, mari kita melongok ke sebuah komunitas bernama Bajo. Entitas yang oleh orang-orang pribumi kampung saya sudah seperti saudara, bahkan diminta untuk tetap menjadi bagian dari masyarakat kampung. Komunitas Bajo ini sering sekali mendapat proyek yang saya lebih suka menyebutnya proyek goblok.

Begini, ada sebuah proyek jembatan titian besar agar orang-orang Bajo bisa mudah mengakses rumah sesamanya yang masih berupa rumah panggung di atas laut. Terdengar sangat heroik, bukan?

Permasalahannya adalah, proyek jembatan ini seperti menjadi rutinitas setiap tahunnya. Dilakukan sejak bertahun yang lalu saat saya baru masuk ke sekolah menengah pertama. Sampai saat ini, proyek jembatan tersebut telah dilakukan entah sebanyak apa dengan kontraktor yang berbeda-beda tiap kali proyeknya.

Perlu diingat bahwa itu bukan proyek perbaikan atau renovasi, tetapi proyek dari awal. Terlihat sangat progresif namun tanpa otak dan pikiran sama sekali. Saya jadi membayangkan, jika proyek renovasi Tugu Pal Putih di Jogja yang diprotes Mas Prabu setiap akhir tahun itu dianggap mengganggu, bayangkan dengan proyek goblok jembatan titian untuk satu-satunya kampung Bajo di Tomia ini.

***

Tiga dari begitu banyak proyek titipan, proyek politik, atau malah kita sebut saja proyek goblok di atas adalah segelintir dari sekian banyak hal yang meyakinkan saya bahwa ketika diksi “kemajuan” dan “pembangunan” masuk ke Wakatobi, wajahnya tidak ada bedanya dengan omong kosong bernama sama oleh rezim orba di tahun-tahun terdahulu.

Rasa-rasanya, tidak terlalu butuh kepala yang ngotak untuk bertanya “Apa bedanya rezim Soeharto di tahun-tahun dulu dengan demokrasi setelahnya jika pembangunan masih penuh dengan kebaikan dan keburukan dalam satu wadah yang diikat dengan rapi?” Bahkan mungkin malah keburukannya mendapat porsi lebih besar, lebih banyak.

Dengan segenap kesamaan antara rezim Pak Harto dan rezim-rezim setelahnya ini, berarti nggak salah dong kalo saya bilang di Wakatobi presidennya masih Pak Harto. Ya iya, wong rasanya sama saja. Sama-sama amburadul.

Efalki

Efalki

Menulis setengah hati, mencintaimu sepenuh hati

View all posts by Efalki →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *