Tawa-Tawa Santai NET dan Kemiskinan Konten Televisi

Sumber foto dari tribun

Banyak yang bilang acara ini menganggu waktu tunggu antara Tonight Show dan Malam-Malam Net TV. Selama satu jam, rasa bosan dan malesi membuncah karena adanya acara Tawa-Tawa Santai yang nyelip di antara dua acara andalan Net di jam prime time.

Apakah iya acara ini semembosankan itu? Ah, nggak juga. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari acara ini. Salah satunya adalah betapa mudahnya membuat konten. Niat hati membuat acara seperti Spontan, jatuhnya malah beberapa alasan yang membuat mengapa acara Tawa-tawa Santai dapat dijadikan sebuah rujukan acara yang tidak kreatif dan tidak lucu. Lengkap, kan?

Bikin kangen Komeng dengan Spontan-nya

Sekitar awal milenium baru, ketika televisi masih menjadi primadona, ada tayangan yang barangkali menjadi inspirasi bagi YouTuber prank sekarang ini. Tayangan tersebut selalu lucu walau isinya hanya ngerjain orang ditambah dubbing uniknya.

Saya tidak mengatakan bahwa prank mereka selalu lucu (walau ketika itu, saya selalu ngakak melihatnya), namun hadirnya suara khas Komeng selalu menjadi pecah ketika menggambarkan suasana. Itu adalah dua kombinasi yang sempurna.

Ya, “Spontan” dengan jargon uhuy adalah jawabannya. Salah satu acara bergenre komedi, yang lepas dari pakem sketsa yang sedang marak kala itu. Komeng adalah andalan, walau jarang turun ke lapangan untuk mengerjai target-targetnya. Namun, siapa dinyana bahwa suara impersonate blio dapat menambah gelak tawa.

Dengan melihat acara ini yang anyepnya minta ampun, akan membuat kita betapa gold-nya acara Bang Komeng. Nggak trying so hard to be funny, tapi udah funny dari sananya. Tanpa pakai suara ketawa ngeselin dan bikin bergidig ngeri.

BACA JUGA YUK :  "Penulis yang Menulis Demi Uang Itu Budak Kapitalisme!" Emang Iya?

Jadi menghargai humor bapack-bapack

Mengutip apa yang dikatakan Agus Mulyadi perihal tingkatkan sebuah humor. “Humor paling tinggi adalah humor falsafah. Di bawahnya ada humor gelap alias dark jokes. Di bawahnya lagi ada humor intelektual. Di bawahnya lagi ada humor satir. Di bawahnya ada humor standar. Di bawahnya lagi ada humor receh. Dan yang paling bawah adalah humor grup wasap bapak-bapak kampung.”

Andaikan Mas Agusmul melihat acara ini, se-so yesterday yesterday-nya humor grub wasap bapack-bapack, sepertinya lebih jayus guyonan yang disajikan dalam acara ini. Humor bapak-bapak, saya masih bisa menangkap letak lucunya, bahwasannya makin garing maka di situ letak lucunya. Namun, dalam acara yang disajikan Net TV bada Tonight Show dan sebelum Malam-Malam, saya coba preteli komedinya, saya justru menemukan kehampaan.

Tapi melalui acara ini, setidaknya humor bapak-bapak itu kini ada lucunya. Soalnya, ada guyonan cringe yang lebih nggak lucu dari guyon apapun yang tersebar di grub mereka. Terus berguyon, Pak!

Bikin konten itu gampang. Tinggal mencurry di akun shitpost saja…

Kontennya pun saya bingung lantaran semua video yang disajikan sudah menjadi santapan masal di sosial media. Barangkali sudah anyep. Banyak menggunakan dead meme pula. Ditambah guyonan-guyonan si dubber yang justru menambah keanyepan.

Semua sudah tersedia di grub Facebook, akun-akun shitpost dan masih banyak platform lagi, wahai Paman Paijo. Jika di sosial media hanya tinggal santap dan membedah letak lucunya secara mandiri, di acara ini jokes tersebut dijelaskan satu per satu walau sudah jelas di mana letak lucunya. Jadi, satu video saja bisa makan waktu 3 menit lebih. Ya, ini pandangan pribadi saya. Pun, kebetulan saya percaya suatu teori bahwasanya ketika sebuah guyonan dijelaskan, maka sirna sudah letak lucunya di mana.

BACA JUGA YUK :  Selain Meniadakan Kawasan Khusus Pesepeda, Harusnya Pemprov DKI Juga Meniadakan Hal-hal Ini

Dengan menyertakan gambar bergerak berformat gif atau apalah itu, yang biasanya mendekam dalam obrolan grub wasap PKK ibu-ibu, kini harus saya lihat di depan layar kaca. Barangkali kata cringe terlalu kasar, yang masih halus dalam kosa kata perbendaharaan dalam otak saya ya hanya satu, yakni wagu.

Kamu orang paling nggak lucu di tongkrongan? Bersyukur dan lihat acara ini, ada yang lebih nggak lucu dari kamu

Acara ini awalnya bernama “Retjeh” dengan ejaan lama jika saya tidak salah. Pikiran saya, oh memang konsepnya receh, tidak mengandalkan kelucuan, tapi kewaguannya. Banyak formula receh yang sukses, tarik saja dua nama yang bisa dicontohkan yakni Uus dan salah satu konten dalam Cameo Project. Namun, lama kelamaan komedi acara ini justru bikin kepala saya cenat-cenut.

Saya masih percaya, komedi itu bisa mati suri. Jika tidak setuju, boleh-boleh saja. Namun, burung puyuh asal Malaysia menjelaskan ini semua, perlu satu dekade lebih untuk menjelaskan makna dari komedi burung puyuh. Bisa saja, Tawa-Tawa Santai memang wagu untuk sekarang, namun bisa saja satu abad kemudian guyonan mereka bisa bikin kemekelen pating mbribit sambil bilang “aduh humor aq~~~”.

Namun, satu hal yang bisa saya petik, mengisi suara sekaligus membentuk sebuah formula lucu itu memang sulit. Sebenarnya tidak hanya Komeng saja yang sukses dengan formula tersebut, namun seluruh pengisi suara kartun juga benar-benar luar biasa dan patut diapresiasi. Bahkan tajuk The Biggest Game Show in The World besutan RCTI yang digawangi Arie Untung juga contoh dubbing yang baik.

Terlepas dari keduanya, penempatan acara ini di tengah-tengah Tonight Show dan Malam-Malam sungguh saya apresiasi. Setidaknya menghasilkan satu hal, yakni membuat saya ikhlas memutar Paijo yang sedang mbebeki jayus demi menunggu Surya Insomnia marah-marah. Toh, selama pandemi, acara berformat seperti ini memang menjadi opsi yang terbaik. Tik-Tokan juga salah satu acara wagu lainnya.

BACA JUGA YUK :  Pesepeda Maksa Bawa Masuk Sepedanya ke Kafe. Ya Iya, Brompton Sih!

Ya, saya tahu, bakal banyak yang bilang saya terlalu kaku dan spaneng. Tapi satu hal saja, alangkah baiknya riset dulu dan melihat-lihat gaya Komeng dan Spontan-nya. Kalau nggak ya selancar saja di akun shitpost grub Facebook. Kalau nggak mau repot, ya jelajahi dulu kanal YouTube seperti hatihatiDiInternet atau fluxcup institute. Setidaknya petik satu hal, nggak perlu maksa untuk menjadi lucu.

Ya, angkat topi untuk Tawa-Tawa Santai. Setidaknya jika ada yang bilang “halah kamu kayak bisa ngelucu aja” saya bakal gelagapan menjawabnya. Prestasi saya guyon hanyalah badut di tongkrongan, yang guyonannya seperti Spongebob sedang stand up yang materinya tanpa membahas kebodohan tupai.

Avatar

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *