Setuju Nggak Setuju, Pikiran Kita Adalah Rumah yang Sesungguhnya!

sumber gambar dari pexels.com

Kalau kita ditanya orang “Di mana rumah kamu?” pasti kita akan menjawab “Di daerah situ Bang, Tante, Om, Teteh, Mbak, Mas!” atau mungkin alternatif lain akan menjawabnya dengan lengkap alamat rumah. Eits, tapi kudu inget, jangan asal ngasih alamat rumah ya, siapa tau tu orang punya maksud kurang bagus, misalnya mau ngasih kucing padahal kita ga suka kucing. Atau yang lebih ekstrim, ada yang iseng ngirim pacar orang ke rumah kita. Lah kan bahaya.

Tetapi sebenarnya rumah sejati kita bukanlah bangunan fisik yang tersusun dari batu bata dan disemen itu. Bukan. Bukan itu. Bukan rumah yang menjadi tujuan akhir setelah beraktivitas seharian, dua harian, atau mungkin bulanan dan tahunan.

Yang akan kita sebut sebagai rumah di sini adalah otak-iya otak kalian dan otak saya, yang pastinya berbeda. Mengapa otak? Padahal otak adalah salah satu dari organ vital tubuh manusia, bisa-bisannya menyebut otak sebagai rumah, kok bisa? Bukan calon sarjana aja?itu sih chanel youtube!

OTAK DAN BAGAIMANA KENANGAN TEREKAM

Jadi begini sobat susah tidur, otak merupakan pusat kendali atas keseluruhan “apa yang kita lakukan”. Mulai dari berpikir, mengolah informasi, hingga mengirimkan respon-respon ke anggota tubuh lain, tak terkecuali otak itu sendiri. Karena di otak juga merupakan memori manusia tersimpan—lebih spesifiknya di bagian bernama hipokampus.

Di sanalah tempat kita menyimpan berbagai kenangan yang kalo mau dipelajari gimana proses otak nyimpen kenangan bisa sangat ribet. Simpelnya sih kita mendapat rangsangan, kemudian otak kita merekam rangsangan tersebut, lantas mendecodenya menjadi serpihan-serpihan acak, dan saat kita teringat tentang rangsangan itu suatu saat nanti, maka otak kita akan menyusun serpihan-serpihan tadi menjadi satu gambaran jelas. Pokoknya gitu gampangnya.

BACA JUGA YUK :  Akankah Tetralogi Bumi Manusia Sukses Jika Terbit Dekade Ini?

SATU PERISTIWA YANG SAMA BISA MENJADI KENANGAN BERBEDA

Pun kenangan, sama seperti segala hal lainnya, akan memiliki dampak yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain. Sebuah kejadian di masa lalu sebenarnya bersifat netral, tetapi satu orang bisa mengenangnya dengan negatif, satunya bisa mengenangnya dengan positif. Iya, ini konsep filosofi stoa. Apa yang kemudian membuat satu peristiwa dikenang dengan cara yang berbeda? Ya itu kembali lagi ke masing-masing manusianya. Keterikatan terhadap sesuatu yang membuat prespektif kita berbeda. Bingung? Gini deh contohnya:

Kamu ada dalam perjalanan wisata bersama keluarga menggunakan mobil. Di mobil ada Ayah, Ibu, Kakakmu, kamu, dan Adikmu. Ketika di jalan ada pengendara lain yang tidak sengaja menyenggol spion mobil, apa reaksi kamu? Pasti kaget! Adikmu juga kaget., atau mungkin kakakmu juga kaget. Tetapi untuk ayah dan ibumu selain kaget mereka juga pasti marah dan sebel. Ayah marah karena mobil kamu masih baru—jadinya dia pasti nglakson sambil teriak-teriak, sedangkan ibu marah karena kudu ngeluarin duit buat benerin spion yang remuk. Iya, ayah dan ibu memiliki keterikatan terhadap benda bernama mobil itu. Lah, kenapa kamu, adikmu, kakamu, nggak marah atau sebel? Ya simpel karena kalian nggak mudeng apa-apa kalo mobil itu mahal, mobil itu masih ngredit, biaya ganti spion itu nggak sedikit, dan lain-lain. Murni karena nggak tau.

Nah, memori-memori yang dan segenap perspektif kita tentang kejadian itu sering kita putar ulang, bukan? Kita jadi demen banget gitu kalo malem-malem nggak bisa tidur dan bayangin yang dulu-dulu. Pokoknya entah kenangan manis—kayak judul lagunya Pamungkas—atau kenangan buruk, pokoknya bersliweran ria dan sukses bikin kita nggak bisa merem. Dari fakta-fakta itu saja sudah menunjukkan bahwa kita menghabiskan sebagian besar waktu di dalam kepala. Jadi, bisa dibilang kepala kita itu sudah menjadi rumah.

BACA JUGA YUK :  Televisi Lokal Juga Punya Tayangan Edukatif Kok!

MANUSIA TERSUSUN OLEH ATOM TETAPI HIDUP KARENA KENANGAN

Kenangan atau memori itulah, adalah sesuatu yang membentuk diri kita dan menjadikan kita itu ‘kita’. Tubuh manusia ibarat cangkang, dan memori adalah yang menjadikan cangkang itu kita. Tubuh manusia tanpa memori ya hanya sekumpulan atom yang tersusun. Memori itulah yang menjadikan siapa kita.

Pernah denger perusahaan besutan Elon Musk bernama neuralink? Fokus utama dari perusahaan neuralink adalah menciptakan penghubung antara manusia dengan komputer. Menurut Musk, manusia sudah menjadi lebih pintar karena mengakses informasi dari internet dengan gadget kita. Hanya saja proses tersebut dirasa masih lambat. Neuralink akan mempercepat proses koneksi manusia dengan dunia digital tersebut dengan cara menambahkan chip yang menurut Musk bentuknya semacam benang ke bagian otak manusia. Benang tersebut yang akan membantu manusia mengakses dunia digital secara otomatis tanpa perlu menggunakan gadget konvensional seperti ponsel.

Neuralink menyediakan sebuah interface di mana kita bisa mengakses segala sesuatu di internet langsung ke pikiran kita. Itu berarti manusia bakal benar-benar menyatu dengan komputer. Kita bisa menyimpan memori-memori dan bisa memanggilnya kapan saja. Kita bisa menjadi manusia sangat jenius karena tersedia akses ke segala informasi.

Bahkan klaim dari Elon Musk, kita bisa merekam diri kita sendiri—memori-memori kita—dan bisa menanamkan rekaman diri kita itu ke wadah baru apabila tubuh biologis kita mati. Artinya apa? Kita abadi. Abadi dengan memori yang selalu dipindahkan dari wadah satu ke wadah lain saat sebuah wadah sudah usang. Iya, memori kita akan terus ada selama proses perekaman diri kita dilakukan di setiap wadah baru. Terdengar seperti episode-episode di serial Black Mirror, kan? Memang begitu. Tetapi untuk sampai sejauh itu masih dibutuhkan waktu panjang karena fokus utama neuralink saat ini masih ke ranah penanganan medis terkait otak manusia.

BACA JUGA YUK :  Menandingi Kecerdasan Tikus Lebih Susah daripada Lomba Cerdas Cermat Kelurahan

Kenapa perusahaan besutan Elon Musk itu disoroti dalam tulisan ini? Ya karena konsep memori itu tadi. Memori manusia adalah yang membentuk kita. Kita merekam segala sesuatu yang terjadi dan kerap mengulang-ulang kenangan itu. Bukankah sudah jelas bahwa sebenarnya manusia menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pikiran dan kenangan? Jadi sangat jelas, bukan, jika memori-memori kita, yang ada di otak kita, merupakan rumah sejati manusia?

MENDEKORASI RUMAH DI PIKIRAN KITA

Nah, lantas kalau sudah tau bahwa pikiran manusia adalah rumah sejati kita, apa yang perlu kita lakukan? Tentu sama seperti memperlakukan rumah fisik kita, yaitu menghiasnya. Mendekorasinya. Mempercantiknya. Membuatnya menjadi tempat paling nyaman untuk tumbuh dan bersenyawa di realitas ini. Caranya gimana? Ya… dengan memperluas wawasan kita. Bebas terhadap segala apa pun yang memang kita sukai—ya iya, wong pikiran-pikiran kita sendiri. Tetapi sebisa mungkin ya yang bermanfaat ya. Misalnya… dengan rajin membaca artikel ini di situs ini, barangkali?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *