Segala Demo Menolak UU Cipta Kerja Dijawab DPR Dengan Kerja Keras

susahtidur.net – UU Cipta Kerja

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya angkat topi menghormati anggota DPR RI kita. Bertahun-tahun saya menunggu kerja nyata DPR, selalu disuguhkan dengan foto anggota DPR yang bobok siang. Tapi, di tengah kondisi tak pasti dalam pandemi COVID19, para anggota DPR yang terhormat tidak berpangku tangan.

Bayangkan, weekend di awal Oktober ini dipakai anggota DPR untuk lembur. Tidak ada malam mingguan seperti nom-noman nusantara pada umumnya. Ketika presiden dan para menteri istirahat, anggota DPR kita lembur menyelesaikan tugas mereka mengesahkan RUU Cipta Kerja. Pak, buk, saya kagum pada anda. Saya haturkan hormat tertinggi saya pada Anda.

Tapi boong. Hormat dengkulmu mlocot!

Betapa harga diri rakyat ditampar anggota DPR yang terhormat. Sejak pertama wacana RUU yang dulu disebut Cipta Lapangan Kerja pada Oktober 2019, sudah muncul polemik di masyarakat. Memang, fokus pada RUU Cilaka ini sempat terganggu dengan RUU KUHP yang lebih ngehek. Namun, roda RUU Cilaka tidak pernah berhenti. Dan gerak cepat dan semangat anggota DPR ini yang ingin saya apresiasi.

Memang, RUU yang ganti nama jadi Cipta Kerja (karena Cilaka memang berkonotasi buruk) ini menjadi bagian dari 100 hari kerja Presiden Joko Widodo. Maka wajar jika RUU ini dikebut dalam pembahasannya. Alasannya sih untuk menarik investasi. Seolah-olah rakyat hanya bisa hidup dari investasi saja. Halo mimpi memperkuat UMKM?

Ternyata, RUU Cipta Kerja ini benar-benar dikebut. Terhitung sejak pertama muncul ke permukaan, RUU ini akan sah pada bulan Oktober 2019. Jadi, dalam setahun RUU ini bisa sah jadi UU. Lihat nasib dua RUU lain: RUU KUHP, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), dan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP).

BACA JUGA YUK :  Bodo Amat Pendidikan Tinggi Fokus Memenuhi Kebutuhan Industri. Tapi Kudu Gini Sistemnya!

RUU KUHP dibatalkan setelah geger di berbagai kota. Sedangkan RUU PKS ditunda pembahasannya karena “terlalu susah” (sebuah alasan yang sekelas anak SD menolak mengerjakan PR). RUU HIP sendiri tidak jelas nasibnya dan malah ganti nama menjadi RUU Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Bagaimana dengan RUU Cipta Kerja?

Meskipun penolakan RUU ini tidak pernah berakhir, namun RUU ini selalu sukses naik kelas dalam urusan pembahasan. Seolah-olah, penolakan masyarakat hanya menjadi bumbu dalam dinamika bernegaraan. Tanpa mengacuhkan opini grassroots, pembahasan RUU Cipta Kerja digeber seperti motor RX King yang melintasi Ring Road Jogja di waktu malam.

Inilah yang membuat saya berdecak kagum. Kagum dengan kebebalan para anggota DPR RI serta pemerintah yang bermuka tebal. RUU ini bisa melenggang kangkung seperti tanpa beban. Meskipun Pak Jokowi pernah menunda pembahasan RUU Cipta Kerja, toh tundaan ini tidak berakhir ke pembatalan.

Sejauh yang bisa saya temukan, demo pertama yang mempermasalah RUU Cipta Kerja (yang dikenal juga sebagai Omnibus Law) dimulai pada Januari 2020 di Jakarta. Demo ini diprakarsai oleh para buruh, sekaligus mengangkat isu penolakan kenaikan iuran BPJS

Gayung bersambut, dan terpantiklah titik api perlawanan di berbagai daerah. Tidak hanya oleh buruh, demo berikutnya juga melibatkan berbagai elemen masyarakat. Mahasiswa, buruh pabrik, sampai pekerja informal ikut ambil bagian dalam penolakan ini. Alasannya tidak perlu saya bahas ya. Silahkan baca draft RUU ini agar paham mengapa banyak orang menolak RUU Cipta Kerja ini.

Namun, RUU Cipta Kerja hampir tidak pernah kehilangan momentum. Anggota DPR kita tetap ngotot menyelesaikan RUU ini. Meskipun pada bulan Februari Indonesa mulai tenggelam dalam pandemi COVID19, semangat DPR RI tidak pernah surut. Salah satunya tetap mengadakan rapat paripurna pada 2 April 2020.

BACA JUGA YUK :  Tonight Show dan Malam-Malam Adalah Alasan NET TV Masih Layak Tonton

Puncak kerja keras wakil rakyat ini ada pada tanggal 3 Oktober 2020 kemarin. Pada malam minggu yang diluar 5 hari kerja, anggota DPR RI berkumpul untuk menyelesaikan pembahasan RUU ini. Dan pada akhirnya RUU ini segera sah pada tanggal 05 Oktober 2020 kemarin. Tidak sampai tujuh hari lho! Luar biasa!

Menurut saya, kerja DPR kali ini patut diapresiasi. Pertama, DPR kita sukses menyelesaikan RUU yang sangat kontroversial. Sebuah pencapaian gemilang meskipun harus mengorbankan weekend para wakil rakyat. Mengorbankan waktu istirahat mereka. Padahal biasanya anggota DPR malah bobok siang di kursi parlemen yang terlihat empuk dan nyaman itu.

Kedua, RUU Cipta Kerja, yang kini sudah sah menjadi UU, ini sukses mengalahkan 3 RUU lain yang tidak jelas nasibnya. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, RUU KUHP gagal. RUU PKS ditunda dan sepertinya akan gagal karena “terlalu sulit”. RUU HIP juga ikut-ikutan RUU Cipta Kerja dengan ganti nama, tapi nasibnya tidak jelas. RUU Cipta Kerja adalah satu-satunya RUU yang disahkan, meninggalkan saudaranya yang lain.

Ketiga, RUU ini telah menyita keperkasaan para anggota DPR sampai puncak. Anggota DPR harus rapat di tengah ancaman COVID19. Mereka juga harus menunda istirahat dengan rapat malam-malam. Belum lagi harus menutup telinga dari protes masyarakat. Pokoknya los dol demi cita-cita membuka keran investasi dan lapangan kerja (kata mereka saja sih)

Namun, apakah apresiasi di atas berarti kita perlu mengapresiasi (R)UU Cipta Kerja? Tentu tidak! Tidak ada alasan untuk mengapresiasi produk politik yang penuh kontroversi ini. Dari buruh sampai alam bisa dieksploitasi dengan payung hukum. Memang, pemerintah mengatakan bahwa UU Cipta Kerja ini baik bagi rakyat. 

BACA JUGA YUK :  Balap Lari Liar Harusnya Bisa Menjawab Keluhan Jokowi Soal Sulitnya Mencari Bibit Atlet

Tapi, rakyat yang mana? Rakyat yang seperti kami, yang sesak menyongsong undang-undang yang mencekik ini? Atau rakyat seperti Anda, yang menanti keuntungan berlipat dari kesesakan kami? Ah, apakah ini adalah implementasi dari istilah, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat yang ‘Itu‘”?

Avatar

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *