PPKM Paska Tahun Baru Adalah Kebijakan Paling HAMBOH yang Pernah Ada!

susahtidur.net – PPKM

susahtidur.net – Wasyuuuu tenan kebijakan PSBB kali ini. Saya nggak bisa nggak misuh-misuh dan terpaksa ngambil jatah Prabu di ceplas-ceplos kali ini. Ya gimana nggak misuh-misuh, wong ujug-ujug pemerintah memberlakukan PSBB untuk kawasan Jawa-Bali. Sik, sik, namanya bukan PSBB, tetapi PPKM atau Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, dan dilaksanakan mulai 11 sampai 25 Januari 2021.

Angel, hobine pemerintah cen nggawe ukoro-ukoro anyar. Lockdown dadi Pembatasan Sosial Berskala Besar disingkat PSBB. Saiki nggawe anyar neh singkatane PPKM. Cen marakke ngelu.

Itu artinya banyak sektor bakal kena dampak lagi. Itu artinya jam kerja bakal kepotong lagi. Itu artinya gaji bulan ini bakal lebih sedikit lagi. Buuuajingan tenan emang. Lebih bajingan lagi, PPKM kali ini diadakan setelah sebelumnya membebaskan masyarakat pesta hura-hura di tahun baru.

Nggatheli, ra? Diadakan setelah liburan NATARU alih-alih pas momen NATARU itu. Mikir ora sih janjane?

Iya saya tau, Pak Presiden pasti sedang ngelu-ngelunya melihat angka positif Covid-19 naik terus setiap harinya, dan mau nggak mau kudu ngambil tindakan. Tapi yang bisa dilakuin Pak Presiden ya itu-itu saja: ngelu lihat angka, ngadain rapat, bikin kebijakan, diterapkan, dan dibiarkan. Gitu aja terus sampai periode berganti.

Rasanya Pak Presiden, dan pemerintah secara keseluruhan, menjunjung tinggi prinsip ‘Mengobati Lebih Baik daripada Mencegah!”. Hah, almarhum Pak Paikin guru Bahasa Indonesia saya semasa SD bakal ketawa guling-guling mendengar prinsip itu. Wajarnya kan ‘Mencegah lebih baik daripada mengobati’ ya. Tapi karena pengin anti-mainstream, pemerintah lebih demen membalik ungkapan tersebut. Entah sengaja membalik atau malah pikirannya emang sudah kebalik dari sononya.

BACA JUGA YUK :  Pendidikan di Indonesia: Kalau Goblok dan Miskin Jangan Kepikiran Sekolah!

Iyalah kebalik, wong kasus naik dulu baru PSBB, eh PPKM, asu bingung aku.

Pola pikirnya sama kayak mereka yang merasa kehujanan dulu baru sedia payung, menabung dulu baru kaya, crot di dalam dulu baru pakai kondom, atau has mbuh lainnya. Su, utekmu kudu direparasi!

Maksudnya, mbok mikir alih-alih melaksanakan PPKM setelah tahun baru, kenapa nggak pas tahun barunya sekalian? Kenapa nggak dibatasi aktivitas masyarakat selama liburan NATARU kemarin? Kalo PPKM dilakukan pas NATARU kemarin, kan angka penularannya nggak akan terlalu geger kayak sekarang ini.

Mbok mikir dikit sih. Giliran angka positif covid-19 naik tajam langsung menyalahkan masyarakat yang katanya nggak nerapin protokol kesehatan. Katanya nggak pake masker lah. Katanya berkerumun lah. Katanya pesta tahun baru lah. Lah, lah lah, hasssu lah disalahke terus.

Masalahnya, misal ada kerumunan orang yang joget liar di acara DJ-DJan yang diadakan di sebuah kedai kopi di pinggir selokan mataram Yogyakarta, dan mereka semua itu pake masker, tetep bakal dianggap memenuhi protokol kesehatan.

Protokol kesehatan semata-mata dilihat dari orang itu pake masker apa enggak. Negara ini mungkin bingung menentukan mana yang lebih salah antara ‘berkerumun tapi pake masker’ atau ‘yang leha-leha di emperan seorang diri tanpa masker’. Sungguh sangat dilematis dan jauh lebih kompleks ketimbang permasalahan bubur lebih enak diaduk atau disiram ke mukamu!

Itu yang asik-asik dugem di kedai kopi—seriusan ada yang dugem di kedai kopi—nggak bakal digrebek dan dibubarkan, wong mereka pada pake masker semua. Kalo nggak pake ya, seenggaknya bawa masker buat jaga-jaga lah.

Yang massanya nggak seberapa aja nggak ditertibkan, apalagi yang membludak kayak pas tahun baru kemarin. Dalihnya kemarin sih kewalahan. Ya iya kewalahan, wong hampir semua wisatawan dan warga Jogja tumpah ruah demi merayakan pergantian tahun, sementara nggak ada kebijakan buat PPKM. Pegimane ceritanye nggak kewalahan?

BACA JUGA YUK :  Jogja Adalah Representasi Penanganan Pandemi Paling Loss Doll

Larangan—atau himbauan—sih ada. Saya dengan tololnya mengikuti himbauan dan nggak ngajak pacar buat tahun baruan. Saya nyantai di kos-kosan sambil nonton TV, ketika mendadak saya misuh pas denger ledakan kembang api. Bajingan, kok ya tetep ada yang merayakan tahun baru? Itu yang nyalain kembang api nggak mungkin nggak berkerumun.

Nggak mungkin ada manusia introvert level dewa yang nyalain kembang api sendirian. Pun nggak mungkin yang nyalain kembang api itu Google Assistant, Siri, maupun JARVIS sekalian. Sudah pasti ada orang berkerumun. Dan itu nyata adanya, tepat pada pukul 00.00.

Lucu, padahal konon segala aktivitas nggak boleh lewat pukul sepuluh malam. Ya gimana nggak mau ngelanggar, wong wisatawan sudah kadung berada di Jogja. Masa sudah berlibur buat merayakan tahun baru, endingnya hanya kayak saya yang berdiam diri di kos sambil misuh-misuh? Ya nggak mungkin.

Kerumunan-kerumunan di malam tahun baru, yang membuat aparat ‘kewalahan’ tadi, sebenarnya bisa saja diatasi dengan penerapan PPKM. Tapi karena Pemerintah sudah ber-positive thinking kalo masyarakat mau diem di rumah aja dan nggak keluyuran, makanya nggak dilakuin itu PPKM. Iya, optimisme yang terlalu gegabah dan berujung ngelu bagi Pak Presiden.

Makanya, lucu saja saat tau mendadak PPKM bakal dilakukan beberapa hari setelah pesta tahun baru itu. Kayak… ngapain woy? Ngapain? Ngapain kudu dibatas-batasi setelah kasusnya naik sampai level ndlewer-ndlewer gini? Mau nyalahin masyarakat lagi karena nggak taat protokol? Iya lah, soalnya nggak bisa lagi nyalahin MRS yang udah ditangkep itu.

Juga nggak mungkin dong nyalahin diri sendiri, sekalipun diri sendiri pernah maksa ngadain Pilkada Serentak di tengah pandemi itu. Gimana? Nggak mau direview itu Pilkada bikin angka positif covid-19 naik apa enggak? Ah, kan Pilkada sudah memenuhi protokol 3M, terutama bagi Pak Jokowi. Jadi ya nggak masalah kali ya? Iya 3M, Menantu-Maju-Menang.

Tapi enggak, saya yakin Pilkada serentak kemarin tetap diaveluasi kok. Pasti setelah melihat kasus naik, Pak Jokowi ngadain rapat terbatas lagi. Ngelu lagi. Mikirin solusi lagi. Minta kerja lebih keras lagi. Pas rapat sih pasti serius—bahkan salah satu keseriusan pemerintah nanganin pandemi emang ada pada rapat berkali-kalinya—tetapi setelah itu ya…. hambuh.

Hahhay, saya kok jadi geli kalo kayak gini terus. Apa nggak kasihan sama yang udah bikin resolusi tahun 2021? Apa nggak kasihan sama yang yakin 2021 bakal lebih baik daripada 2020? Dipikir pandemi bakal mereda setelah berganti tahun? Yo ra ngono, Su! Ora ngono, terutama kalo pemerintah hobi latah kayak gini. Kasus naik, kita rapat lagi, rapat lagi, kurang lebih iramanya kayak gitu dengan njiplak nada ‘Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki!”

BACA JUGA YUK :  Kota yang Kembali Ramai, dan Masalah Lama yang Kembali

Tetapi kalo saya ternyata bisa bertanya langsung kenapa ngadain PPKM sekarang setelah kasus menjadi ndlewer-ndlewer, bukannya pas tahun baru kemarin sebagai upaya preventif, pasti pemerintah—kalo bisa ngomong—bakal jawab, “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

Angel. Angel tenan. Has mbuh. Asu cen kowe!

Larka

Larka

Bercita-cita punya rambut gondrong

View all posts by Larka →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *