Pornografi, Kontrasepsi, dan Pentingnya Edukasi tentang Seks

Photo by Charles Deluvio on Unsplash

Saya tergugah untuk menulis ini setelah membaca beberapa postingan dengan tema serupa. Maaf, apabila ada yang tidak sependapat dengan tulisan ini nantinya. Dan untuk beberapa kata yang dianggap sebagai kata terlarang, menurut saya semua tergantung pada konteks kalimat.

Saya wanita berusia 29 tahun dan menggunakan jilbab sejak SMA. Tepat sehari sebelum saya ikut POPDA cabang pencak silat, saya memakai jilbab. Satu-satunya atlet pencak silat yang mengenakan jilbab saat itu ya saya. Saya sengaja mengatakan ini agar tidak ada yang menduga bahwa saya tidak mengenal agama.

Sebagai seorang wanita, saya adalah orang yang pro dengan edukasi seks secara terbuka. Hal ini mungkin sedikit banyak karena latar belakang pendidikan saya yang IPA. Mengenal istilah seputaran seks, bukan lagi hal yang baru bagi saya. Kata-kata semacam vagina, penis, sperma, ovum, masa subur, atau yang lainnya, adalah hal yang biasa untuk saya. Jadi, walaupun belum menikah, saya sudah mengerti sedikit banyak tentang alat kontrasepsi.

Hal yang saya sadari selama ini adalah banyak [sangat banyak malah] masyarakat yang seakan menentang edukasi seks. Alasannya, tabu. Alasannya, seperti tidak memiliki malu. Dan alasan-alasan lainnya yang akan berputar di sekeliling kata tabu dan malu. Padahal, saya menilai bahwa layaknya ilmu pengetahuan, edukasi seks justru harus diajarkan. Lebih baik lagi apabila diberikan sedini mungkin dengan menggunakan bahasa yang sopan dan pilih kata-kata yang sesuai dengan siapa edukasi seks akan diberikan.

Jangan menganggap edukasi seks itu porno ya. Edukasi seks bukan hanya berbicara mengenai hubungan seksual. Termasuk di dalamnya cara merawat vagina dan apa yang tidak boleh dilsayakan selama menstruasi, juga mengenai betapa berbahayanya memasukkan benda asing ke vagina. Saya harap tidak ada lagi yang berpikir bahwa edukasi seks itu hanya sebatas kapan waktu yang pas untuk berhubungan badan atau berapa kali baiknya dalam seminggu pasutri berhubungan badan. Edukasi seks luas. Dan semoga pikiran kita bisa seluas itu untuk mempelajarinya.

BACA JUGA YUK :  Tawa-Tawa Santai NET dan Kemiskinan Konten Televisi

Karena harus disadari bahwa hingga saat ini banyak sekali wanita yang terjebak oleh pemikiran-pemikiran yang tidak sepenuhnya benar. Seberapa banyak wanita yang berpikir bahwa vagina itu harus mulus dan bewarna pink? Jawabannya banyak. Padahal, vagina setiap wanita itu berbeda. Asal dia sehat, sudah. Itulah yang terbaik.

Dan sebanyak apa gadis kecil yang tidak tau betapa berharganya vagina mereka sehingga mereka tertipu iming-iming pemerkosa? Serta sebanyak apa bujang kecil yang begitu polos menganggap, ‘Ini kan hanya lubang dubur,’ sehingga hal itu dimanfaatkan oleh predator seks? Jawabannya banyak.

Melihat dari sisi inilah mengapa saya pikir edukasi seks itu penting. Sebagai orang tua, penting untuk mengajarkan ini dengan anak-anaknya. Tak perlu menggunakan bahasa yang rumit. Cukup edukasikan dengan cara yang sederhana. Perkenalkan organ mereka yang tidak boleh disentuh dan dilihat orang lain. Beritahu mereka bagaimana cara merawat sendiri organ intim mereka. Jadi, inilah edukasi seks.

Karena orang tua, kalau kalian menganggap ini tabu dan malu, mereka akan belajar pada siapa? Video porno? Well, kalian tau dari mana stigma vagina mulus dan pink berasal? Yang seolah membuat standar bentuk vagina yang bagus? Salah satunya dari video porno.

Mungkin sebagian orang tua akan merasa ‘ribet’ mengajarkan hal ini pada anak-anaknya. Tapi, sayangnya itulah tugas orang tua. Kalian berjanji di depan Tuhan untuk menikah, lalu memiliki anak. Maka itulah yang harus ditunaikan orang tua. Bertanggungjawab terhadap janji kalian, termasuk mendidik anak.

Selain itu, untuk para kakak-kakak, tak ada salahnya bila orang tua kalian tidak memahami hal ini, maka kalianlah yang menggantikan perannya untuk memberitahu pada adik-adik kalian. Itu salah satu bentuk rasa sayang kalian pada saudara. Ssst. Jujur saja, saya pernah berkata seperti ini pada adik saya yang cowok, “Jangan pernah nonton hentai, itu bohong.” Terus pernah suatu hari adik saya yang cewek bertanya, “Mbak, oral seks itu apa?” Dan saya pun menjelaskannya.

BACA JUGA YUK :  Dari DI/TII Sampai West Papua: Memahami Mental Pemberontakan

Saya bahkan tidak tau mengapa sampai ada yang bangga ketika ada yang berkata bahwa dirinya tidak tau apa-apa tentang kondom, KB, tata cara membilas vagina, atau yang lainnya. Apakah ini menandakan ketidaktahuan akan edukasi seks menjadikan kita sebagai orang yang polos dan patut untuk diapresiasi? Atau justru saya yang kurang mengikuti tren masa kini? Jangan-jangan kalau dulu banyak orang yang bangga karena tau sesuatu, sekarang sedang tren orang bangga karena tidak tau apa-apa?

Waduh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *