Pengalaman Menjadi Bakul Angkringan yang Pernah Digrebek Satpol-PP

susahtidur.net-digrebek satpolpp

Saya adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan sektor pariwisata yang terdampak pandemi. Walaupun tidak sampai dirumahkan dan kena PHK, namun saya tetap mengalami berbagai perubahan yang signifikan terkait pekerjaan. Jam kerjanya sih enak karena jadi berkurang, tapi ya imbasnya gaji berkurang juga. Naudzubillah, dengan gaji yang makin dipotong, membuat saya bergumam dalam sunyi dan bertanya-tanya apa yang akan mengisi kekosongan perutku esok hari? Senyum manis dari sang gebetan sajanggak bakal cukup untuk menambah energi.

Saking frustrasinya, saya sampai pada level setiap berangkat ke kantor selalu terlintas pikiran jahat untuk merampok. Ini serius. Yakin. Jiwa kriminal saya menggelora di tengah desakan ekonomi seperti ini. Untungnya—atau sayangnya?—saya bisa bertahan dan nggak merampok sama sekali.

Terlepas dari persoalan hidup yang latar belakang keluarga saya adalah orang-orang baik dan jujur, saya memutuskan untuk bekerja sambilan saja. Saya membuat usaha mikro dengan nasi kucing sebagai ciri khasnya. Yap, Angkringan.

Bersama dengan sahabat karib sejak SMA, saya dan beliau yang akrab dipanggil Evan ini berniat untuk menambah penghasilan. Tak banyak modal yang harus dikeluarkan. Keberuntungan berpihak kepada kami saat menemukan gerobak angkringan yang sangat murah dan di luar batas harga kewajaran. Sembari memutuskan hari baik untuk memulai proses grand opening tongkrongan (yang katanya) romantis tersebut, kami mencari tempat yang selayaknya cocok buat dijadikan angkringan.

Bilangan Umbulharjo, Barat Polsek dan di atas Kali Manunggal atau yang biasa masyarakat menyebut Kali Mambu akhirnya kami pilih. Tempat ini menjadi pelabuhan bagi Angkringan kami yang akan segera mengubah dunia.

Cukup ramai saat hari pertama buka. Bahkan sampai kekurangan kursi dan tikar bagi pengunjung. Hari-hari pertama aman jaya sentosa tanpa kendala, tetapi ada rasa khawatir juga kalo sewaktu-waktu digrebek karena angkringan saya menciptakan kerumunan. Menuju dua minggu kekhawatiran saya mulai terjadi. Beberapa kali angkringan tempat saya mencari uang tambahan didatangi oleh pihak Satpol-PP, ya karena emang saya bandel. Tapi ya gimana, saya butuh duit biar dompet nggak kosong-kosong amat.

BACA JUGA YUK :  Bumi Banyak Musibah, Ini Saatnya Pindah Ke Mars

Bapak-bapak Satpol-PP masih memperingatkan untuk jaga jarak dan tidak berdekatan satu sama lain dengan cara yang halus, namun karena saya kadung mangkel, saya menjawab, “Bungkusin jahe anget mau pak? Gratis kok. Ada berapa orang di mobil? Ngobrol yuk!” tentu saja dengan nada tengil nan memperolok, sampai akhirnya bapak aparat itu pergi. Tolong jangan ditiru ya, teman-teman. Asli, ini kelakuan saya yang tidak baik dan budiman. Saya yakin, bapak aparat tersebut berniat baik, tetapi stigma saya terhadap aparat sudah terlanjur buruk. Maaf Pak, saya khilaf.

Suatu hari yang menyebalkan, tiba-tiba gerobak angkringan saya sudah diangkut aparat. Saya yang syok mencoba tetap tenang meski sambil menangis. Ya gimana nggak nangis, lha wong satu-satunya penghasilan tambahan malah digusur dan dihilangkan.

Ibu saya yang tau kejadian ini sempat panik dan malah menambah beban pikiran. Untungnya sih, saya punya tetangga seorang SatpolPP yang baik hati dan disukai oleh masyarakat kampung. Saya mengadu kepada beliau sambil mengiba, sehingga dipermudah urusan untuk mengambil gerobak angkringan yang saya sayangi dan saya cintai.

Usut punya usut, dalam kertas pemberitahuan pengangkutan gerobak tersebut tertulis bahwasannya, saya telah meninggalkan banyak barang dagangan seperti gelas, piring, dan lain sebagainya. Yah, saya kudu menerima hukuman tersebut. Terlepas dari apakah karena alasan meninggalkan barang-barang sehingga gerobak saya diangkut, atau karena mereka sebel gegara saya kerap nggodain—baca: memperolok—mereka pas lagi tugas sehingga mereka mangkel, saya tetap nggah nggih nggah nggih saat mau ngambil gerobak. Pokoknya iya.. iya.. saya yang salah

Setelah satu bulananan menekuni usaha angkringan ini, banyak sekali rasa bangga yang saya alami. Banyak perubahan-perubahan positif  seperti hilangnya ke egoisan masa lalu, hingga membuat circle pertemanan semakin erat karena temen-temen sering nongkrong, reuni SMA dadakan, bahkan keluarga besar ikutan bangga dan mendukung usaha anak-anaknya, dan masih banyak hal menyenangkan lainnya.

BACA JUGA YUK :  Alasan Kenapa Jogja Disebut Kota Pelajar. Nggak Melulu Karena Banyak Kampusnya!

Sayangnya, kembali terjadi tragedi menyebalkan di bulan berikutnya. Harga sewanya mulai naik. Satu hari dibandrol dengan harga Rp30.000 dan menurut saya itu sangat nggak masuk akal. Saya sempat memutuskan untuk bertahan, namun yang terjadi hanya kesia-siaan. Penghasilan dari angkringan ini nggak lebih dari seratus ribu dalam satu hari. Akhirnya ya saya dan Evan berunding bagaimana baiknya. Lanjut, atau pindah. Di kemudian hari kami memutuskan untuk berpindah tempat saja. Sembari mendorong gerobak untuk diletakkan di dalam garasi rumah, kami berdua menangis. Ya gimana nggak nangis, wong sudah merintis, mencoba bertahan, digrebek satpol-PP, eh sekarang sang tuan tanah semena-mena menaikkan tarif harian. Lalu, setelah kami nggak nempatin lokasi itu, sekarang sudah ada minimarket yang dibangun di sebelah lahannya, dong. Ada pula angkringan yang saya yakin milik si tuan tanahnya. Bangsat benar, sudah tau prospeknya bagus lihat usaha saya dan teman saya, terus berhasil ngusir, eh sekarang bikin angkringan juga. Licik bener kayak pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *