Nestapa La Sengge dalam Menanggung Beban Keluh Kesah Masyarakat Tomia

susahtidur.net – La Feki

susahtidur.net – Kepulan nikotin dari asap lintingan tembakau La Palabe terus dihembuskan. Sorot matanya menyeramkan, hampir mirip seperti Genderuwo difabel. La Sengge yang baru saja merasakan manisnya dikagumi oleh perempuan yang bernama Va Sofi, seketika menjadi khawatir dengan aura negatif yang dipancarkan La Palabe. Seolah La Palabe sedang dirasuki oleh siluman ikan lele.

“Fotocopy dua lembal, enamlatus lupiah. Palkilnya dualibu. Bajingan!” Emosi La Palabe memuncak, namun alih-alih terkesan sangar justru tampak imut-imut menggemaskan karena kecadelannya. Hisapan lintingan semakin cepat. Mulutnya dipenuhi dengan ucapan kasar—yang tentunya ada konversi dari r menjadi l—dan kepulan asap rokok. Ya, tampak seperti lokomotif.

Khawatir akan mengamuk dan membanting gelas, La Sengge mencoba menenangkan hati La Palabe. “Sudah, tenang saja. Cuma dua ribu kok. Nanti tak tukar pakai gorengan, ya.”

Alih-alih menghibur, La Sengge malah semakin membuat emosi La Palabe memuncak. “Belantem saja kita. Satu lawan satu. Di sini mumpung angklingan ini sepi. Bajingan kamu!” Tantang La Palabe kepada La Sengge.

Seketika La Palabe membanting gelas yang berisikan es teh hingga pecah. Tanpa banyak kata, kemudian La Palabe meninggalkan angkringan La Sengge dengan emosi yang semakin memuncak. Itu semua karena kebodohan La Sengge yang mencoba memberikan ketenangan untuk La Palabe.

“Semoga tetap diberikan ketenangan hati oleh yang Maha Kuasa. Aku yakin, La Palabe orang baik. Hanya mungkin karena suasana hatinya saja yang tidak stabil,” gumam La Sengge sembari membersihkan pecahan kaca yang berserakan. “Hash, beli gelas baru lagi.”

Tak lama kemudian, tampak sebuah wajah kusut. Pandangannya ke bawah dan terlihat pucat. Berjalan lesu menuju ke tikar angkringan. La Sengge yang masih sibuk membereskan pecahan kaca akibat ulah La Palabe, seketika tersontak melihat wajah La Gusuti. Sungguh, aura mendung membasahi hati dan raganya.

BACA JUGA YUK :  La Feki dan Cinta yang Kelam

“Ketika Sang Maha Cinta berbalik menjadi Maha Luka. Lalu atas dasar apa hingga takdir tak merestuiku dengannya?” ujar La Gusuti dengan linangan air mata.

La Sengge terdiam. Setelah apa yang dialaminya dengan La Palabe, kini La Sengge dihadapkan dengan permasalahan hati La Gusuti. Tak ingin mengucapkan sepatah katapun karena takut jika ia akan menjadi kesalahan untuk yang kedua kalinya.

“Woi bangsat! Sahabat macam apa kamu ini! Apa kau sudah tuli?! Kau yang setiap hari bercerita tentang kisah asmaramu, selalu kudengarkan. Kini giliranku yang bercerita, namun kau sibuk dengan pecahan kaca! Apa kau sudah tak perduli lagi denganku?! Ha?!” La Gusuti lebih mirip sedang berpuisi alih-alih mangkel.

“Astaga.. Ada apa denganmu? Maaf, aku tak ingin mengulang kesalahan lagi seperti….”

“Tolooong!!! Siapapun Tolong!!!”

Suara teriakan keras dari arah pantai terdengar. Makhluk itu berlari dengan cepat dan tampak sangat ketakutan. Memecah obrolan emosi antara La Sengge dengan La Gusuti yang belum rampung.

Dialah La Feki. Penduduk asli dari Tomia yang sedang dikejar oleh makhluk besar tak kasat mata.

“Tolong. Aku dikejar Genderuwo difabel”

La Sengge dan La Gusuti saling menatap. Emosi antar mereka meredam karena ucapan La Feki. Membuat La Sengge semakin bingung dengan apa yang terjadi pada hari ini.

“Fek, genderuwo difabel itu gimana? Apa Genderuwo yang tangannya kiri semua atau kakinya lumpuh?” tanya La Gusuti dengan raut muka yang bingung. La Sengge menahan tawa dan menahan pipis di celana. Di sisi lain ingin tertawa, namun dia juga ketakutan.
“Itu, Genderuwo yang kakinya cuman ada satu, Pak. Kakinya cuman ada satu” Jawab La Feki.

BACA JUGA YUK :  La Feki dan Orang-orang di Angkringan Tomia

Suasana menegang antara La Sengge dan La Gusuti pecah akibat penjelasan La Feki. Bagaimana bisa ada demit yang hanya mempunyai satu kaki? Mengejar La Feki dengan cara loncat-loncat dan menggunakan kruk sebagai alat bantu berlari. Begitulah bayangan La Sengge hingga mengakibatkan tawa hingga tak mampu menahan kucuran air seni di celananya.

“La Sengge, rumah kita satu arah. Kita pulang bareng, ya! Aku tunggu kamu closing. Sungguh aku sangat takut. Aku gentar,” ucap La Feki dengan napas terengah-engah.
“Sudah, kamu aman di sini bersama kami. Ada aku dan La Gusuti yang akan menemanimu. Aku buatkan segelas es jeruk agar kamu tak terlalu lelah. Tunggu sebentar, akan kubuatkan.”

“Sekalian, aku kopi hitam pekat seperempat gelas seperti biasanya,” pinta La Gusuti yang wajahnya mulai tampak sedikit ceria. La Feki menyelamatkan La Sengge dari amukan kedua La Gusuti, yang mungkin akan lebih parah dari La Palabe.

Obrolan hangat di angkringan La Sengge membuat malam semakin teduh. Desir angin pantai dan gemuruh ombak membuat suasana semakin syahdu. Ditambah dengan aroma khas wedang jahe dari angkringan La Sengge.

Gelap menjadi teman, burung camar menyaksikan kicauan mereka bertiga, pohon kelapa yang terkena angin, seolah ikut merasakan apa yang menjadi keluh kesah para pelanggan La Sengge. Dari pembahasan politik, agama, hingga asmara, angkringan La Sengge diubah menjadi seperti pertemuan antar pemimpin negara.
Malam semakin larut. Muncul seorang lelaki dengan rambut gondrong yang kelaparan.

“Mas, Mie rebus tanpa telurnya satu ya,” pesan lelaki gondrong tersebut.

“Pedas nggak mas?” tanya La Sengge.

“Ya nggak tahu! Belum juga dibuat, sudah tanya pedas atau belum. Bakul aneh!” sambar lelaki tersebut.

BACA JUGA YUK :  Tomia dan La Feki: Perjalanan yang Di-reshuffle

“Baik, tunggu sebentar ya, Mas.” Dengan nada yang lelah, La Sengge melayani pelanggan kurangajar itu dengan senyuman. Tanpa bergumam, dan tanpa emosi. Prinsipnya adalah, apapun semua permintaan pelanggan, dilakoni dengan ikhlas. Ingin sekali La Sengge istirahat sejenak, menutup terpalnya untuk sehari saja. Demi ketenangan batin karena tumpukan setiap keluh kesah masyarakat. Namun beban keluarga berada di pundaknya sebagai anak semata wayang yang penuh dengan banyak harapan.

Keluh kesah pelanggan dan masyarakat menjadi makanan keseharian La Sengge. Beruntung, ia mempunyai seorang Va Sofi yang selalu setia mendengarkan sambatan La Sengge jika memang sudah benar-benar muak dengan kondisinya yang banyak menanggung keluh kesah masyarakat Tomia.

Grantino Gangga

Grantino Gangga

Tinggi Badan: 185cm

View all posts by Grantino Gangga →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *