Musik dan Lorong Waktu yang Diciptakannya

sumber gambar dari pexels.com

Siapa yang nggak suka dengerin musik? Jawabannya mungkin nggak ada. Semua orang pasti memiliki genre musiknya sendiri-sendiri, dan apapun aktivitasmu pasti kerap berhubungan dengan musik. Pas kerja, ya pake headset buat dengerin musik. Pas makan di warmindo, ada aja musik yang disetel. Pas di kendaraan umum juga pasti disetel berbagai jenis musik. Pas mau tidur juga kita dengerin musik ringan untuk menambah perasaan tenang agar lebih gampang tidur.

Bahkan pas minum teh botol sosro sekalipun pasti auto nyetel jingle iklannya di otak kan. Indomie juga. Pokoknya segala produk yang iklannya pake jingle, kita pasti auto dengerin musik pas nggunain produk itu.

Pokoknya musik sudah menyatu dengan DNA kita sebagai manusia modern dan wajib ada di setiap aktivitas kita, entah untuk menambah semangat ataupun sekedar sebagai teman untuk begadang. Pokoknya apapun kegiatannya, wajib ada musik!

Kalau kalian ingin memiliki semangat, maka kalian harus memutar musik yang menghentak tetapi memiliki tempo yang tidak terlalu cepat. Contohnya ya musik theme One Piece yang I Will Beat You. Iya, orkestra. Ia memiliki nada yang membuat penasaran dan menghentak di tengah, seakan meminta kita untuk tenang terlebih dahulu, lalu beraksi. Berimajinasilah ketika mendengarnya, mungkin kamu akan membayangkan dirimu sedang menunggangi kuda sembari membawa pedang dan siap bertempur. Bisa saja. Terserah.

Dan tahu nggak, kalo musik memiliki gelombang/vibrasinya sendiri-sendiri, yang secara otomatis akan mengubah frekuensi pendengarnya. Hah?? Maksudnya gimana?

Jadi gini. Ketika kamu sedang dalam keadaan biasa, anggap sedang duduk santai, dan tiba-tiba kamu mendengar nada yang sangat tinggi, nyaring, yang bahkan membuat telingamu sakit, sejenak mungkin kamu akan merasa pusing, dan ketakutan. Terutama kalo lagi malam hari dan nadanya bersuara ‘Hi hi hi hi hi’, mending langsung kabur karena kemungkinan besar itu Kuntilanak.

BACA JUGA YUK :  What About Us?—Lagu Baru Ify Alyssa yang Pantas untuk Disney Movie

Atau apalah. Pokoknya kalo kita mendengar suara dengan frekuensi yang tinggi kita kan merasa nggak nyaman. Pernah merasa ngilu saat mendengar suara berdecit akibat logam digesek-gesekkan ke permukaan? Atau suara kuku yang digesekkan ke papan tulis? Itu semua adalah bentuk bagaimana frekuensi nada bisa menyakiti kita.

Dua orang Musikolog dari Jerman dan Austria pernah melakukan penelitian terkait kenapa kita merasa nggak nyaman saat mendengar suara kuku digesekkan ke papan tulis. Mereka berdua mengumpulkan beberapa orang sebagai bagian dari penelitian, dan konklusi dari penelitian itu adalah karena para pendengarnya tau bahwa suara itu berasal dari gesekan kuku dan papan tulis. Sesungguhnya suara itu bak komposisi musik. Saat responden mendengarkan suara serupa tetapi suara tersebut merupakan bagian dari komposisi musik, reaksi mereka tidak terlalu buruk. Ditambah lagi, suara-suara dengan rentang frekuensi 2000 sampai 4000 Hz memang sangat mengganggu bagi manusia. Jadi sudah jelas bahwa suara dengan frekuensi di rentang angka itu akan membuat kita tidak nyaman, ketakutan, atau bahkan kesakitan.

Ya, itu semua karena nada yang memiliki frekuensi tinggi, dan jangan sekali-kali mencoba sengaja mendengar suara-suara yang mengganggu ya, apalagi di saat kamu sedang memiliki suasana hati yang kurang nyaman. Pernah mendengar sejarah bahwa hukuman paling sadis bagi para pelaku kriminal adalah dengan mengurung mereka dan memutarkan lagu dengan frekuensi yang tinggi? Salah satu yang paling populer barangkali adalah lagu berjudul Carl Mayer yang bisa kita dengar dengan mudah di youtube. Konon lagu yang berisi suara dari berbagai macam benda dan entah apa saja itu bisa membuat kita gila hanya dengan mendengarnya, bahkan ada yang menyangkutpautkannya dengan hal magis. Suara-suara dalam lagu itu memang sangat mengganggu, apalagi jika kita mendengarnya melalui headset. Hasil akhir dari mendengar lagu itu sampai habis adalah kepala kliyengan dan perut mual-mual. Mau coba? Tanggung sendiri resikonya ya.

BACA JUGA YUK :  Menebak Mana Saja ‘Sewu Kuto’ Dalam Lagu Almarhum Didi Kempot

Tetapi itu untuk urusan yang nyebelin-nyebelinnya, karena jika kita memilih mendengar nada yang frekuensinya bisa diterima dan bikin kita nyaman, banyak juga manfaatnya loh. Lagu dapat meningkatkan daya ingat otak. Terutama, kenangan. Entah itu kenangan pahit sampe manis-tanpa gula. Contoh adalah ketika kamu kecil dulu, mungkin ayah atau ibumu sering memutar lagu kesukaan mereka atau lagu yang sedang populer pada zaman itu. sampai suatu ketika kamu sudah besar dan mendengar lagu yang sama, entah mengapa mulai dari perasaan hingga kenangan tersebut hadir kembali, seakan-akan lagu tersebut dapat membuat kita kembali ke masa lalu. Dan mungkin akan mengingatkanmu akan kenangan bersama orangtuamu.

Iya, otak kita memang memiliki ikatan baik dengan musik. Musik membantu kita merekonstruksi ingatan. Coba saja ingat-ingat kapan lagu dari sebuah grup musik tenar, maka secara otomatis kita akan membayangkan tahun tertentu beserta peristiwa-peristiwa yang terjadi di hidup kita pada masa itu. Mengingat lirik lagu tertentu juga akan membawa kita ke tahun di mana lagu itu populer lengkap beserta kenangan. Di dunia kedokteran, musik berperan untuk membantu pasien yang kehilangan memorinya. Pasien tersebut diminta untuk mengingat-ingat lirik sebuah lagu, dan secara perlahan memori-memori pasien juga akan kembali meski hanya berupa kilasan.

Tetapi bagaimana sebenarnya cara musik bisa membawa kembali kenangan? Untuk mengetahuinya, kita kudu tau gimana cara kerja otak kita menyimpan ingatan. Jadi gini, ada bagian otak manusia yang bernama hippocampus yang fungsinya sebenarnya banyak, tetapi fungsi yang paling utama berkaitan dengan pembelajaran, penyimpanan, serta pengolahan memori jangka panjang.

Nah, ketika kita menerima rangsangan dari lingkungan yang memicu kenangan, maka cara kerjanya adalah otak kita mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan dan merekonstruksnya menjadi satu gambaran utuh. Otak kita bekerja dengan memutuskan seberapa penting sebuah memori berdasarkan konteks, dan konteks itu adalah emosi di saat kenangan itu pertama kali terekam dulu. Semakin kuat emosi, maka semakin kuat sebuah memori, dan semakin mudah juga kita mengingatnya.

BACA JUGA YUK :  Yang Tanya Selera Musik Bagus Buat Apa, Ini Jawabannya!

Apa hubungannya dengan musik? Jelas berhubungan. Musik yang kita dengarkan—terlebih yang sangat kita sukai—akan menciptakan emosi yang kuat. Maka dari itu semakin kuat emosi saat ingatan terekam otak, semakin mudah pula otak kita untuk mengingat kenangan tersebut. Bukti nyatanya, pernah suka dengan sebuah lagu dan mengulangnya seharian penuh selama berhari-hari? Pasti saat mendengar lagu itu beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian, kita bisa mengingat banyak peristiwa saat kita menyukai lagu itu. Mengingat kejadian-kejadian di masa itu, bahkan sampai ingat baju apa yang dipakai saat itu. Iya, sehebat itu bagaimana musik membangun emosi dan memperkuat ingatan.

Jadi sudah jelas bahwa musik—entah apa pun jenisnya itu—memiliki ikatan yang sangat kuat dengan kita sebagai manusia. Tidak larangan untuk menyukai genre musik apa pun, karena ya untuk urusan selera mana bisa diatur. Toh alasan kita menyukai genre musik tertentu ya karena banyak hal terkait lingkungan, budaya pop yang kita ikuti, atau bahkan bagaimana perjalanan kita hidup selama ini. Apa pun jenis musiknya terserah, asalkan tidak berdampak buruk bagi kita sendiri atau malah orang lain. Dan iya, memiliki selera musik entah seperti apa seleranya itu perlu. Untuk apa? Ya itu tadi, untuk merekonstruksi ingatan. Untuk merekam memori. Agar ingatan kita semakin kuat dan saat kita tua nanti, ketika mendengar musik tertentu, kita bisa mengingat-ingat masa lalu kita.

Makanya, yuk kecanduan musik, biar emosi semakin kuat, dan ingatan juga semakin kuat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *