Memutus Paradoks Melamar Kerja bagi Fresh Graduate

sumber gambar dari unsplash

Sampai dengan saat ini, dunia kerja masih menyimpan satu paradoks yang tidak berkesudahan. Paradoks yang melibatkan antara para pelamar kerja fresh graduate dengan lowongan kerja yang kebanyakan mencantumkan persyaratan minimal memiliki pengalaman serupa/di bidang yang sama sekian tahun.

Karena hal tersebut, tentu saja para pelamar kerja yang tergolong lulusan baru menjadi kelimpungan dan mencari alternatif agar bisa segera mendapat pengalaman kerja.

Sederhananya seperti ini; lulusan baru butuh pengalaman untuk bisa bekerja di posisi yang diinginkan atau dicita-citakan. Di sisi yang lain, tidak sedikit perusahaan yang membutuhkan kandidat berpengalaman untuk mengisi suatu posisi. Sekarang, bagaimana caranya lulusan baru mendapat pengalaman kerja jika tidak diberi kesempatan untuk bekerja?

Tidak sedikit pula para lulusan baru yang cemas lebih dulu ketika ingin apply untuk suatu posisi, karena salah satu persyaratannya harus memiliki pengalaman beberapa tahun (biasanya berkisar 1-5 tahun, tergantung posisi yang di tempati).

Sebetulnya, sah-sah saja jika ingin mencoba apply, itu hak setiap pelamar kerja. Namun, konsekuensinya, harus bersaing dengan kandidat yang sudah memiliki pengalaman.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh para lulusan baru yang betul-betul minim, bahkan belum ada pengalaman kerja?

Setidaknya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para fresh graduate. Meski pengalaman secara langsung belum ada, paling tidak bisa meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan perusahaan untuk posisi tertentu. Tingkatkan satu atau beberapa kemampuan hardskill dan softskill.

Kemudian, seandainya dapat kesempatan mengikuti proses interview, persiapkan diri dengan baik. Jika kesempatan tak kunjung datang, coba lagi di beberapa loker yang persyaratannya untuk fresh graduate. Kalaupun coba di loker yang persyaratan pengalamannya 1-3 tahun, masih bisa dicoba, kok. Buktikan bahwa sebagai fresh graduate memiliki kompetensi yang dibutuhkan, yang kita dapatkan saat magang, kursus, maupun belajar secara otodidak.

BACA JUGA YUK :  Ketika Tertawa Mulai Dilarang dan Indonesia yang Darurat Komedi

Tidak masalah bekerja di posisi apa pun sebagai pengalaman pertama. Justru dari situ, sikap kerja dan kemampuan akan terbentuk. Baik dari sisi softskill maupin hardskill. Percaya, deh. Jika kalian—para fresh graduate—diberi kepercayaan untuk mengisi posisi tertentu di perusahaan, mau itu kontrak awalnya magang, probation, atau langsung kontrak, gunakan kesempatan tersebut dengan baik. Dapatkan ilmu, wawasan, dan pembelajaran sebanyak mungkin. Jangan sia-siakan hal tersebut. Jangan.

Sebab, permasalahan lain yang sering kali dihadapi oleh sebagian fresh graduate adalah tidak betahan. Saya sering kali mewawancara kandidat yang bekerja selama tiga bulan, setelah itu langsung resign. Baru bekerja 8 bulan, resign dengan alasan tidak kuat tekanan atau ingin mencari tantangan/pengalaman baru.

Maksud saya, jika memang bukan karena projek atau kontrak kerja berakhir, bertahanlah minimal hingga satu tahun. Syukur kalau bisa 2-3 tahun, agar kemampuan semakin terasah dan dianggap berpengalaman sekaligus cukup matang untuk menempati suatu posisi di perusahaan.

Bukannya tanpa alasan, ya, karena banyak sekali pengalaman kerja yang mewajibkan kandidat memiliki pengalaman minimal 1 tahun. Kurang dari itu, jika HRD-nya mau meluangkan waktu untuk interview, yang pengalamannya kurang dari 1 tahun pun akan diundang untuk proses wawancara. Jika memang saklek dan persyaratan tidak bisa diganggu gugat karena kebijakan perusahaan, apa jadinya nggak nanggung resign saat kontrak masih kurang dari satu tahun?

Itu kenapa, untuk mengakhiri paradoks seperti ini, betul-betul dibutuhkan peran antara pelamar kerja maupun perusahaan. Sudah banyak kok loker yang diperuntukkan untuk para fresh graduate. Sekarang, tinggal bagaimana para fresh graduate mau mendapatkan dan memanfaatkan pengalaman kerja yang didapat dengan sebaik-baiknya, pada kesempatan yang diberikan.

BACA JUGA YUK :  Menkes Ceko Harusnya Tiru Menkes Indonesia, Tidak Perlu Mundur dan Tetap Diam Teratur

Dan untuk para fresh graduate, saran saya sebagai recruiter, nggak ada salahnya kok coba apply di posisi yang tersedia lebih dulu, apa pun itu, meski tidak berbanding lurus dengan jurusan kuliah. Barangkali, kalian bisa eksplor potensi terpendam sekaligus menambah juga meningkatkan kemampuan diri, berawal dari posisi tersebut, yang menjadi pengalaman kerja pertama.

Apa pun posisinya, mau fresh graduate atau pun yang sudah berpengalaman, akan selalu beradaptasi dari awal ketika menempati suatu posisi di perusahaan. Jadi, kemampuan dalam beradaptasi juga tidak bisa diremehkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *