Memasuki Era Surveillance Capitalism. Distopia yang Kita Nikmati!

sumber gambar dari pexels.com

Sadar nggak sih kalo beberapa tahun ke belakang ini kita dipaksa butuh sesuatu yang sebenarnya nggak kita butuh-butuh banget? Kayak… dulu nggak ada olshop ya nggak masalah, nah sekarang sehari aja nggak buka shopee kayak dunia ada yang kurang. Iya, kita yang dulu nggak begitu peduli dengan ecomerce menjadi dipaksa peduli dan butuh. Itu baru di satu bidang aja ya. Mari lihat bidang lainnya. Bidang yang lebih besar seperti… google.

Mari mulai dengan perkara simpel. Saat kita pindah kos, barang apa sih yang bakal dibawa? Nggak bakal banyak-banyak, kan? Mentok baju, buku, alat-alat elektronik, pokoknya simpel deh pas pindahan. Nah setelah kita pindahan, apa yang kita lakuin? Ya mendekorasi tempat baru kita, bener nggak? Cara paling gampang ya beli perabotan simpel kayak rak buku, lemari, meja kecil, atau gantungan handuk sekalian. Di mana tempat paling gampang nyari begituan? Ya di olshop. Tinggal cari-cari-cari, pesen, bayar, tunggu aja sampe barang sampai. Dah, gampang!

Ini yang kemudian menarik. Sebuah algoritma luar biasa menjerat aktivitas kita di olshop. Kita kayak lalat yang nabrak jaring laba-laba super ribet, dan saat kita nabrak jaring akan tercipta getaran yang mentrigger jaring-jaring lainnya. Apa yang terjadi setelah itu? Ya aktivitas kita diketahui dan dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain. Contohnya setelah kita belanja perabotan buat mendekorasi kamar kos baru, eh pas buka olshop isinya cuma itu-itu aja. Kalau ga lemari, rak buku, atau cuma meja. Iya, ngeri banget gimana kita terjerat dalam sebuah sistem bedebah terkait perekaman aktivitas kita!

Welcome to the age of surveillance capitalism!

Keadaan di mana pasar itu berjualan bukan lagi barang, tapi data. Jadi data kita ngapain aja di Internet itu diawasi secara masal oleh perusahaan internet yang gede-gede, kemudian datanya dijual untuk menarget produk ke konsumen tertentu. Pasti banyak yang nggak sadar bahwa sebenernya perusahaan yang menyediakan layanan gratis mereka, kaya Google atau Facebook itu mengawasi semua kegiatan kalian.

BACA JUGA YUK :  Alasan Kenapa Gaji di Atas UMR Tapi Masih Berasa Miskin

Atau sebenernya kita sadar tetapi nggak peduli. Eh apa ya… bukan nggak peduli juga sih, lebih kayak membiarkan. Iya, kita membiarkan kegiatan kita di dunia maya direkam karena merasa kita bukan siapa-siapa dan bodo amat kalo data digital kita dilihat. Toh aktivitas di dunia digital kita remeh temeh, kalo nggak belanja, ya googling foto-foto selebgram cakep. Dan ya itu, ngapain juga data digital kayak gitu kita permasalahkan kalo diambil dan dimanfaatkan? Nah, itu dia pikiran sebagian besar dari kita. Merasa aktivitas remeh temeh itu nggak ada gunanya, padahal sebenernya… ada gunanya!

Perusahaan teknologi besar dunia mengumpulkan semua data ‘remeh’ kita kaya dislike, like, comment, search, social network, pembelian, keranjang. Data-data yang dikumpulkan itu mereka timbun dan dianalisa untuk keuntungan. Ngeri? Ya kita juga memberikan informasi kepada mereka secara gratis sih ya.

Saat kita mencentang kolom Agree with Terms and Service, kita setuju secara ‘sadar’ bahwa semua data kita akan diberikan kepada mereka secara gratis. Data gratis ini kemudian mereka putar lagi supaya dapet untung.

Pada tahun 2017 the Economist merilis artikel ‘The world’s most valuable resource is no longer oil, but data’ yang menjelaskan bahwa komoditas utama dunia saat ini bukan lagi minyak, tapi data. Ini semua nggak kebetulan. Amazon dengan semua layanannya berhasil mengambil separuh dari seluruh pendapatan online di US. Gila emang. Kok gila. Lebih ke… nggak waras. Atau… kok bisa sih?

Zaman sekarang siapa yang nggak make google, youtube, social media dan olshop? Nggak ada! Pasti kita semua pake, dan banyak dari kita yang bahkan nggak bisa bayangin hidup tanpa platform digital. Banyak dari kita yang kalau ga punya kuota internet merasa kaya ‘layangan putus’ karena nggak tau mau ngapain. Ya itu tadi, kita menjadi dipaksa membutuhkan sesuatu yang sebenarnya nggak kita butuhkan. Kita dimudahkan. Lalu dibikin kecanduan.

BACA JUGA YUK :  Menilik 7 Sisi Gelap Manusia Lewat Drama “The World of the Married”

Surveillance Capitalism merupakan sebuah masalah yang sebenernya ada, tapi karena layanan mereka dibuat secara ‘gratis’ makanya kita nggak berpikir buat ninggalin itu.

Shoshana Zuboff mengatakan, “Secara sepihak mengklaim pengalaman manusia sebagai bahan baku gratis untuk diterjemahkan ke dalam data perilaku. Meskipun beberapa data ini diterapkan untuk peningkatan layanan, sisanya dinyatakan sebagai surplus perilaku eksklusif, dimasukkan ke dalam proses manufaktur canggih yang dikenal sebagai ‘kecerdasan mesin’, dan dibuat menjadi produk prediksi yang mengantisipasi apa yang akan anda lakukan sekarang, segera, dan kemudian. Akhirnya, produk prediksi ini diperdagangkan di pasar jenis baru yang saya sebut pasar perilaku masa depan. Para Surveillance Capitalist telah tumbuh sangat kaya dari operasi perdagangan ini, karena banyak perusahaan bersedia untuk bertaruh pada perilaku masa depan kita.”

Ini menunjukan betapa data yang kita berikan secara ‘gratis’ membuat para Surveillance Capitalist jadi semakin kaya. Sekarang ini yang sebenarnya terjadi, saat sebuah platform memberikan layanan gratis kepada kita, maka objek penjualan platform itu adalah kita sendiri.  Ngeri banget, nggak tuh?

Semua ini berawal dari google di mana mereka pada tahun 2001 mengalami krisis keuangan. Mereka memang berhasil menggunakan data pengguna untuk meningkatkan keuntungan advertorial mereka, tapi hal ini justru malah mebuat pintu baru di mana semua kegiatan internet kita diawasi secara masal.

Makanya, jangan heran kalau kita lagi buka youtube akan keluar rekomendasi dari beberapa topik yang kemarin kita lihat. Begitu juga dengan olshop yang iklannya juga sesuai dengan apa yang kita kemarin cari. Google, kalau kita sadari, dia bisa tahu apa yang akan kita ketik selanjutnya di search box.

Jangan pikir itu karna mereka hebat banget bisa ngeramal, mereka itu cuma ambil semua data kita yang kemudian digunakan buat itu semua.

BACA JUGA YUK :  Shopee dan M-Banking Adalah Duet Maut Penghancur Kantong!

Nah, semua itu emang keliatan ngeri yak. Kayak… kita beneran diawasi gitu. Data-data kita dijual belikan gitu. Tetapi tunggu dulu, emang kayaknya praktik begituan terkesan jahat dan nggak manusiawi, tetapi sebenarnya ada manfaatnya juga. Ya iya, wong jadi komoditas paling menguntungkan, ya pasti ada manfaatnya. Maksudnya gini, saat segala aktivitas manusia terekam secara digital dan ada pihak-pihak yang sengaja menggunakannya untuk keperluan tertentu, kita bisa memanfaatkan hal itu. Untuk apa? Sebagai media pemasaran. Google memiliki data hampir semua perilaku manusia. Apa yang mereka lakukan? Mereka menawarkan konsep periklanan yang tertarget. Kita bisa mengiklankan produk kita tepat ke orang-orang yang ingin kita sasar. Memudahkan kita, bukan? Facebook juga melakukan cara yang serupa dengan konsep iklan yang mirip-mirip tetapi lebih menarget tentang brand awareness.

Nah, aksi pemanfaatan data untuk keperluan iklan ini membuka bisnis-bisnis baru. Terlepas dari pengiklan yang mendapatkan manfaat karena penargetan yang spesifik, di sisi lain banyak pihak yang mendapat keuntungan karena menjadi media penayang iklan tersebut. Iya, banyak yang bercita-cita jadi youtuber gegara penghasilan yang uwow kan? Ya itu imbas dari penargetan iklan. Penargetan iklan didapat dari mana? Ya dari aktivitas kita yang direkam google, facebook, maupun penyedia internet lainnya.

Di satu sisi privasi kita terancam, tetapi di satu sisi ada pula manfaat yang sangat banyak. Jadi… sebenarnya ini positif atau negatif? Ya tergantung. Kita mau bersungut-sungut membenci konsep penyebaran data digital kita, atau ikut memanfaatkan aktivitas itu? Lagian kalo emang merasa google sebagai mesin pencari sudah terlalu keterlaluan merekam aktivitas digital kita, ada kok mesin pencari yang mengklaim nggak mengambil menfaat dari jejak digital kita. Kok mengambil keuntungan, bahkan mereka mengklaim nggak merekam jejak digital kita. Apa mesin pencari itu? Silakan berkenalan dengan duckduckgo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *