Melupakan Kurt Cobain

susahtidur.net – Kurt Cobain

susahtidur.net – Mari kita melupakan kisah kelam Kurt Cobain yang agaknya terlampau bosan dikisahkan. Ya, ya, saya tahu, glorifikasi masa kecil—hingga dewasa—Kurt berkutat tentang perceraian orang tua, depresi, dan ketergantungan kepada obat. Pun bosan juga membicarakan Kurt sebagaimana dewa yang terbang di atas langit Grunge. Walau agak perih, saya mengamini perkataan Chris Dubrow, yang akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini.

Dalam tulisan ini, saya akan mengajak kalian melihat Kurt sebagai Kurt Cobain itu sendiri. Ya, Kurt Cobain. Benar, kawan, Kurt Cobain. Sebuah nama yang bisa menghadirkan resonansi tanpa adanya rambatan suara yang lamat-lamat berbisik mesra di telinga. Bukan magis, ini adalah Kurt. Kurt Cobain. Sudah berapa kali saya menyebutkan nama Kurt Cobain? Ah, sial, Come as You Are berputar di kepala.

**

Hari ini, ah, bukan, maksud saya, bahkan detik ini, piringan Nevermind masih saja diburu para kolektor. Detik ini pula segerombolan anak muda memainkan lagu-lagu seperti In Bloom, Smells Like Teen Spirit, hingga Lithium di sebuah studio musik dengan kualitas yang nggak bagus-bagus amat, namun mereka bermain dengan semangat.

Pun saya yakin, di sebuah kafe perbatasan antara Seattle sana, atau bahkan suburban Jakarta, suara Kurt Cobain masih saja terdengar dengan megah. Para pemburu popularitas di ibukota, memainkan lagu-lagu Nirvana dengan versinya, agar dewan juri berani memberikan tiket emas untuk diri mereka. Mungkin saja di dalam batin mereka, “Kelak aku akan menjadi sebesar Kurt.” Walau mereka pasti lupa, Kurt besar dengan wajar, bukan mencari popularitas hingga liang lahat.

Namun kita harus mengamini apa yang dikatakan oleh Chris Dubrow, kisah perihal Nirvana itu terlalu dibesar-besarkan. Tulisan Dubrow di Guardian dengan judul, “Nirvana Had Nothing on Australia’s Lubricated Goat“, yang dikutip dari Tirto, memang beralasan. Baginya, Australia memiliki aliran deras perihal Grunge. Nirvana bak sebuah band yang menciptakan lagu-lagu suci bagi para apatis Generasi X, sehingga membuat Kurt kian tak tenang dalam masa istirahat panjangnya.

BACA JUGA YUK :  Tarian Sunyi Audrey Hepburn

Itu adalah salah satu upaya “melupakan” Nirvana. Jika pertanyaan serupa ditautkan, bagaimana cara terbaik melupakan Kurt Cobain yang menjelma bak dewa bagi satu generasi, tentu kita akan bergidik ngeri membayangkannya. Bagaimana bisa seorang Kurt dilupakan? Diabaikan? Sedang tiap malam, playlist di sebuah gawai terus memutar Bleach dengan khusyuk. Dari sebuah zaman kaset yang mudah kusut, hingga Spotify yang tak pernah mengalami surut, In Utero masih ramai menjadi rujukan.

Banyak yang “mengguncang” Kurt—atau lebih luasnya Nirvana—selama mereka berkareir, dan itu adalah siklus yang sehat bagi dunia musik. Selain apa yang dikatakan oleh Dubrow, Pansy Division pernah mengakali Teen Spirit milik Nirvana menjadi Smells Like Queer Spirit yang rilis pada 1995. Dalam Rebel Notes (2017:31), Pansy Division mengucapkan terima kasih kepada sikap pro-gay yang tidak ditemukan dalam band rock lainnya.

Benar, sikap pro-gay Kurt nampaknya menjadi sebuah wadah yang enak betul dibedah pada masa itu. Kurt, dalam catatannya, sadar betul bahwa banyak pihak yang mengatakan bahwa lirik-lirik lagu ciptaannya bermuatan rujukan gay yang provokatif. Kurt mengatakan bahwa lirik-lirik itu (lagu ciptaannya) bukan refleksi saat itu, melainkan sebuah keyakinan yang ia pegang teguh. Kembali dalam Rebel Notes, “Aku kira lirik-lirik itu provokatif secara komersial, berdasarkan seberapa banyak album kami yang terjual.” (2017:31).

Kurt merasa terbantu oleh zaman. Kala itu, ada segmen di MTV dengan tajuk Free Your Mind yang melaporkan isu-isu terkini, termasuk isu perihal gay. Kurt membandingkan dengan gelombang musik heavy metal era 80-an yang nyaris sepenuhnya mati. “Aku merasa lucu melihat grub-grub musik seperti Poison, Warrant, Skid Row […] yang bergantung pada identitas lama mereka namun sekarang berusaha memiliki sudut pandang alternatif dalam musik mereka.”

BACA JUGA YUK :  Legenda itu Seorang Pelacur: Mata Hari dan Spionase Perang Dunia

On a Plain misalnya, Kurt menciptakan itu soal alienasi klasik, setiap ia menyanyikan lagu itu, maka ia akan mengubah kisahnya. Karena Kurt merasa tersesat sebagaimana orang lain. Kurt menciptakan lirik-lirik yang bagus itu dari potongan puisi yang ia tulis dalam catatan kecil. Kala ia mencoba menggoreskan sejarah dalam sebuah agenda menulis lirik, ia tinggal membuka catatan tersebut. Artinya, Kurt merasakan terbantu oleh perkembangan zaman—waktu itu—yang berjalan dengan lebih menyeluruh dalam melihat isu.

Memahami isu besar kala dewasa, tak mungkin Kurt kecil menjadi bocah yang abai. Ia membaca apa pun yang bisa ia baca. Pada masa sekolah menengah, Kurt meninggalkan sekolah, dan tempat satu-satunya yang ia tuju adalah perpustakaan. “Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku baca, aku hanya membaca apa pun yang aku temukan. Selama di sekolah aku membaca buku-buku S.E. Hinton—pengarang The Outsiders—dan karya-karya lainnya tentang remaja dan alienasi.” (2017:33).

Kurt benar-benar menikmatinya. Kurt banyak membaca di kelas. Ia gunakan membaca untuk menjauhkan diri dari banyak orang. Sebagaimana olahan dari membaca, menulis adalah pilihan wajib. Kurt pun mengalaminya. Kurt mulai menulis pada umur empat belas. Ia tak pernah memulai dengan serius. Kata Kurt dalam catatannya, bahkan ia tak pernah menyimpannya sebagai jurnal pribadi.

“Aku tak pernah menyimpan buku-buku harian, aku tak pernah berusaha menuli cerita-cerita dalam bentuk puisi; sajak-sajakku terlalu abstrak,” begitu kata Kurt sebagai gerbang rencana hidup yang memutuskan dirinya untuk menjadi seniman komersial. Kurt didukung oleh ibunya yang menginginkan Kurt menjadi seorang yang artistik. Ibu Kurt selalu menghargai segala upayanya, termasuk perihal gambar dan lukisannya.

Pernahkah kau menganggap bahwa Kurt hanyalah khayalan belaka? Atau begini, bisa saja, kita semua yang menikmati karyanya bak Boddhah dalam impuls otaknya, yakni sahabat imajiner kala ia kecil. Atau selama ini, kita tumbuh kembang dalam pikiran Kurt dan sejatinya eksistensi kita di dunia ini hanyalah berpusat kepada imaji Kurt belaka? Bisa saja, bukan?

BACA JUGA YUK :  Wieteke van Dort dan Rindunya kepada Indonesia

Maksud saya, sebanyak apa pun upaya untuk melihat Kurt dengan rendah, apa adanya, yang terjadi malah makin besar nama Kurt itu selalu dikenang. Ketika banyak jurnalis menuliskan “Kurt itu biasa saja”, pasti sintesa yang didapatkan adalah, memang kenapa? Kurt kan memang manusia biasa. Lantas mengapa Kurt yang merupakan manusia pada umumnya harus dilihat secara biasa saja?

Upaya melupakan Kurt—atau nama-nama besar lainnya—justru bak sebuah air langit yang menuang biji di tanah. Bersemai. In bloom. “He’s the one. Who likes all our pretty songs. And he likes to sing along. And he likes to shoot his gun”.

What a brilliant irony.

Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *