Lennon dalam Lanskap Politik dan Agama

Agama, bagi John Lennon, adalah hasil langsung dari semua kebrengsekan. Agama adalah alat untuk merepresi dirinya. Ia merasa tersiksa oleh sistem bahkan sejak kecil. Ia sadar mengenai represi kelas yang terjadi pada dirinya bahkan sejak kecil. “Aku tahu apa yang terjadi kepada diriku dan aku memahami represi kelas sedang terjadi pada dirimu.”

***

susahtidur.net – Kota pelabuhan yang selalu dingin. Seakan, pesta tiap malam di bar adalah jalan paling wahid guna menghangatkan tubuh. Kota itu bernama Liverpool. Kapal-kapal bersandar di pelabuhan, para pelaut singgah menuju bar, dan para remaja menenggak cinta sebagaimana mestinya. Selain minum, mereka juga butuh penghantar hangat yang lainnya. Lebih sehat, bergairah, mengundang libido luar biasa. Ya, musik tentu saja. Memangnya, apalagi?

Folk adalah pilihan paling realistis—saat itu. Folks masuk teramat dalam melalui nadi-nadi Kota Liverpool. Lihat saja para mahasiswa itu, mereka bahkan sedang merapalkan mantra-mantra Dominic Behan dengan ritmis. Ah, atau lihat ke sebelah sana, para remaja sedang berdiskusi bahwa folks adalah nuansa kelas menengah di kota ini. Folks adalah sebuah baptis perihal rekaman radio tua yang banyak bercerita tentang pekerja di Irlandia.

Dari semua yang berdansa dengan folks, hadir seorang remaja yang mengatakan, “Folks adalah orang-orang yang berusaha mempertahankan sesuatu yang lama dan sudah tiada. Semuanya agak membosankan, seperti balet: hal minoritas yang terus dihidupkan oleh kelompok minoritas.”

Peluru berupa kata-kata itu adalah hasil kokang seorang laki-laki bernama John Lennon. Ia tembakkan peluru itu melalui tulisan. Pria yang dikenal bersama dengan The Beatles, yang kelak tewas pun dengan bongkah peluru. Sayangnya bukan peluru kata-kata, melainkan peluru yang terbuat dari timah panas.

John Lennon dan Paul McCartney

Menulis perihal Beatles, itu berarti menulis tentang empat kesatuan. Fab Four lah nama luhurnya. John Lennon mengatakan bahwa Beatles adalah empat kesatuan dan tak bisa dipisahkan begitu saja. “Kami menyukai mitos The Beatles. Aku tak tahu apakah anggota lainnya masih meyakini mitos itu. Kami adalah empat lelaki….” Begitu ujar Lennon yang saya kutip seutuhnya dari Rebel Notes.

Lennon bertemu dengan Paul, “Maukah kau bergabung denganku di band?” Dengan sebuah catatan bahwa mereka telah terlibat dengan sejarahnya sendiri. Mereka berdua adalah dua arah mata angin yang sama besar dan kuat perannya. Lantas George masuk, diikuti dengan Ringo. Satu hal yang amat saya suka, Lennon berkata, “Karya terbaik kami tak pernah terekam.”

BACA JUGA YUK :  Habib Munzir Al-Musawa: Dakwah Akhlak dan Kemanusiaan

Bukan tentang karya, bukan tentang terbaik, melainkan bagaimana Lennon menempatkan kata “kami” dalam tulisan tersebut. Ia tak pernah terjebak dalam ke-aku-an yang kadang kala terjadi kepada front-man-band.

Straight rock mereka tak pernah tersentuh di Liverpool, dengan cepat mereka menemukan Inggris, pun dengan Britania Raya. Ah, bukan, bukan hanya itu saja, bahkan mereka tak perlu repot-repot menaklukkan dunia. Sibuk. Remaja asal Liverpool itu menjadi pujaan seluruh dunia tanpa terkecuali.

“Sebagai musisi, musik The Beatles telah mati. Itulah mengapa kami tak pernah berimprovisasi sebagai musisi; kami membunuh diri diri kami sendiri kemudian kami mewujudkannya. Dan itulah akhir musik kami.”

Kesedihan Lennon terpanjat kala film Let It Be meledak. Lennon merasa bahwa film itu dibuat oleh dan untuk Paul seorang. “Itulah alasan utama Beatles bubar. Aku tak dapat bicara demi George, namun aku hanya sedikit tahu bahwa kami telah menjadi orang-orang pinggiran bagi paul.”

Lennon meneruskan, pasca kepergian Brian Epstein, manager The Beatles, ia merasa sebuah kondisi yang semakin tidak sehat bagi band. “Kerja kamera adalah menyoroti pertunjukkan Paul dan tidak pada yang lainnya. Dan begitulah aku merasakannya.” Setelah itu Beatles kolaps. Paul mengambil alih banyak hal dan Lennon merasa dikendalikan.

Politik, Agama, dan Rock n’ Roll

Jelas Lennon selalu sesumbar, tidak ada yang konseptual lebih baik daripada rock n’ roll. Membayangkan Lennon hanya Beatles, kita akan terjebak dalam pengkerdilan sosok yang bahkan selalu memikirkan perihal status quo. Ia membicarakan kelas pekerja di mana nilai-nilai itu tumbuh kala kau mulai membenci dan merasa takut kepada polisi.

Gamblangnya, polisi adalah musuh alamiah. Sedang tentara, Lennon menganggap sebagai sesuatu yang membawa setiap orang pergi serta meninggalkan mereka dalam keadaan mati entah di mana. Tentu ucapan ini terjadi dalam latar belakang keadaan Lennon saat itu, yakni masa kecanduan pada 1965.

BACA JUGA YUK :  Paket Komplit Politisi Budiman Sudjatmiko

Walau asumsi saya pribadi, perkataan itu merupakan sisi paling sadar dari seorang Lennon. Maksud saya, polisi yang hingga kini masih menjadi musuh alamiah masyarakat alih-alih melindungi, pun tentara yang bertugas dalam label melindungi negara dan menanti perang. Dengan catatan, Lennon tak pernah bersikap politis. Walaupun katanya, “Agama cenderung mendorong dalam masa-masa kecanduanku.”

Agama, bagi John Lennon, adalah hasil langsung dari semua kebrengsekan. Agama adalah alat untuk merepresi dirinya. Ia merasa tersiksa oleh sistem bahkan sejak kecil. Ia sadar mengenai represi kelas yang terjadi pada dirinya bahkan sejak kecil. “Aku tahu apa yang terjadi kepada diriku dan aku memahami represi kelas sedang terjadi pada dirimu.”

Seperti apa yang dikatakan kepada majalah Rolling Stone, jika orang yang sama tetap memegang kekuasaan, maka sistem kelas tidak mengubah sedikitpun. Brian Epstein mewanti-wanti Lennon dan George untuk tidak mengatakan apapun tentang “Vietnam” kala mereka tour ke Amerika. Mereka—George dan Lennon—seakan mengibarkan bendera bahwa mereka tak suka dengan perang.

Lennon merasa terkurung di “rumahnya” sendiri. Ia merasa tertekan. Bahkan ia merasa amat tertekan kala mengekspresikan dirinya sendiri. Sampai pada suatu ketika, Lennon pun berkata, “The Beatles lebih besar daripada Jesus.”

Lennon mengaplikasikan pemikirannya itu ke dalam musik. Lahirlah lagu Revolution. Menurut saya pribadi—pun diakui oleh Lennon—yang ada lagu itu justru menunjukkan anti-revolusi itu sendiri. Dalam satu versi yang dirilis dalam single, lagu tersebut mengatakan, “when yout talk about destruction, you can count me out!”

Lennon memberikan keterangan, “Sebagai seseorang yang berasal dari kelas pekerja aku selalu tertarik dengan Rusia dan Cina serta segala hal yang berkaitan dengan kelas pekerja, walaupun aku terlibat dalam kehidupan religius yang brengsek sehingga aku menyebut diriku sebagai seorang Komuni-Kristen, namun seperti kata Janov (Arthur Janov, red.) agama adalah kegilaan yang absah.

BACA JUGA YUK :  Cacatnya Agama Perihal Cinta

**

Dalam sejarah panjang umat manusia, berpikir adalah bahan bakar penentu eksistensi mereka. Bagi siapapun yang enggan berpikir, mereka akan tergerus oleh zaman. Mereka yang melulu bersembunyi di balik kantor wangi, dingin, dan nyaman, tanpa menghasilkan buah karya maupun pikir, mereka hanya akan abadi—yah, paling tidak—lima sampai tujuh tahun pasca meninggal. Namun tidak dengan Lennon.

Kita kudu bersepakat, “Please Please Me“, “A Hard Day’s Night“, bahkan sampai “Strawberry Fields Forever” adalah keabadian. Bayangkan saja semisal Lennon adalah PNS yang menghabiskan hidupnya secara membosankan. Pasca pengajian seribu hari, lupa sudah siapa dirinya. Namun ini adalah karya, ini tentang musik dan buah pikirnya. Ia menjadi abadi tanpa harus menjadi Tuhan. 

Ya, benar, seorang manusia yang tak jauh dari tabiatnya. Manusia yang selalu berpikir dan Lennon pun sama. Ada politik, agama, kultur, budaya, bahkan cara dirinya menempatkan diri di dalam lingkungan. Ya, if you want money for people with minds that hate, all I can tell you is brother you have to wait sebagaimana termaktub dalam Revolution yang menjadikan Lennon itu bukan hanya The Beatles. Lennon adalah manusia.

Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *