Lebih Memilih Terlihat Hancur daripada Terlihat Baik-baik Saja

susahtidur.net – lebih memilih terlihat hancur

Dalam hidup, manusia tidak lepas dari seabrek permasalahan. Mulai dari masalah sepele yang bisa diselesaikan dengan segelas kopi, hingga masalah rumit yang mengharuskan menguras dompet dan tenaga untuk pergi ke sana-sini. Kita mungkin sering menjumpai orang-orang yang siang-malam selalu berkutat dengan seabrek masalah. Wajar, namanya juga manusia, tidak sah disebut manusia kalau tidak pernah menghadapi seabrek masalah. Kalau sampai ada yang mengaku tidak pernah menghadapi masalah, tentu perlu dipertanyakan identitas manusianya.

Dari pembahasan mengenai manusia dan masalah, ada satu fenomena yang kerap kali terjadi dalam hidup banyak orang. Fenomena yang dimaksud adalah banyaknya orang-orang yang terkesan malu untuk terlihat punya masalah, atau terlihat hancur karena bermasalah. Perlu dipahami juga, bahwa fenomena ini tidak mengenal gender. Laki-laki atau perempuan pun mengalami dan merasakan fenomena serupa. Penyebabnya tentu beragam, ada yang gengsi dengan lingkungan, ada yang sungkan karena tidak mau orang terdekatnya direpotkan dengan masalahnya, ada yang memang egois merasa masalah yang menimpa dirinya tidak berpengaruh banyak, dan ada yang punya masalah dengan rasa percaya.

Kalau mau ditarik ke belakang menuju akar permasalahan, orang yang malu terlihat hancur, atau malu terlihat punya masalah, terkadang ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Ada kemungkinan mereka bermasalah dengan kehidupannya, entah itu kepribadiannya, atau lingkungannya. Tentu kita banyak sekali menemui orang yang selalu berlindung di balik kalimat, “Aku tidak apa-apa, kok.” Padahal akhirnya kita tahu bahwa tidak ada yang tidak apa-apa dalam hidupnya. Bahkan orang yang terlihat ceria dan selalu tertawa pun kadang hidupnya penuh dengan masalah. 

Orang-orang dengan kecenderungan malu untuk terlihat hancur biasanya punya masalah trust-issue. Iya, mereka tidak mau bercerita dengan orang terkait masalahnya, atau menunjukkan bahwa dia bermasalah adalah karena dia tidak percaya dengan orang lain. Mereka sengaja menutup dirinya, dan bahkan tidak percaya bahwa dengan bercerita, masalah yang dia alami akan sedikit lebih teratasi. Ada banyak pertanyaan ketika dia ingin memutuskan untuk bercerita kepada orang lain. Apakah bercerita akan membantu? Apakah orang akan peduli dengan cerita ini? Apakah orang akan membantu? 

BACA JUGA YUK :  Quarter Life Crisis dari Pandangan Penderita Mental Illness

Saya adalah salah satu orang yang bisa dibilang sedang mengalami hal seperti ini. Kejadian bertubi-tubi saya alami membentuk saya hingga seperti ini. Mulai dari tujuh tahun lalu, ketika tiba-tiba ayah saya meninggal, lalu disusul oleh meninggalnya nenek lima bulan setelahnya. Ditinggal oleh dua orang yang sangat dekat dengan saya jelas menghancurkan sebagian besar hidup saya. 

Setelah kejadian itu, rasanya tidak ada hal ringan yang saya alami. Mulai dari tanggung jawab sebagai anak yatim sekaligus anak sulung, hingga hubungan yang tidak terlalu akrab dengan ibu. Belum lagi, saya mengalami kesulitan untuk akrab, atau bahkan bercerita kepada orang lain. Tetapi, berbagai masalah yang membuat syaa hancur tidak serta merta membuat saya menyembunyikannya. Saya selalu mencoba untuk selalu jujur. Ya kalau sedih ya sedih, tidak perlu ditutup-tutupi. 

Wajar sebenarnya kalau orang-orang dengan seabrek masalah tidak mau atau bahkan malu untuk terlihat hancur. Mereka memilih untuk menyembunyikan masalahnya dalam-dalam, dan jangan sampai orang lain tahu. Ini tentu berbahaya. Seperti bom waktu, masalah yang disembunyikan tanpa dicari jalan keluarnya, akan semakin membesar dan akan meledak suatu saat. Sebagai contoh, banyaknya kasus bunuh diri adalah contoh ledakan dari bom waktu tersebut. Mereka yang sudah tidak mampu mengatasi masalahnya, lalu tidak percaya dengan orang lain, maka tidak ada pilihan lain selain mengakhiri hidup.  Masalah ini memang terkesan kecil dan sepele, tetapi memiliki imbas yang tidak main-main.

Maka dari itu, tidak perlu malu untuk terlihat hancur atau terlihat punya banyak masalah. Kita tentu tidak mau kalau sampai ada lagi kasus-kasus bunuh dari dengan latar belakang seperti ini. Sebagai manusia yang berakal, kita harusnya lebih malu kalau terlihat baik-baik saja, tetapi ada seabrek masalah yang harus diselesaikan. Jangan pernah malu untuk bercerita, atau meminta bantuan kepada orang lain. Rubuhkan semua tembok ketidakpercayaan di dalam diri. Belajarlah menjadi pribadi yang terbuka.

BACA JUGA YUK :  Mari Menjadi The Regular Guy yang Keliatan Biasa Aja Tapi Bisa Ngapain Aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *