Kesaksian Kursi Kosong Menkes Terawan di Acara Mata Najwa

susahtidur.net – kursi kosong

Minggu lalu acara Mata Najwa mengolah satir luar biasa dan menohok setengah mati. Seakan, Menkes Terawan sedang duduk di kursi tamu acara Mata Najwa, diberondong pertanyaan oleh Najwa Shihab, sang empu acara. Tentu saja Terawan tak ada, hanya kursi kosong yang terpampang di sana. Terawan tak mungkin ada lantaran ia adalah Menkes paling low-profile di muka bumi.

Dengan melakukan penyelidikan yang seutuhnya dibiayai Susahtidur Media, seminggu setelahnya, saya langsung menuju lokasi. Kenapa seminggu? Tanya saja kepada hasil tes swab saya yang mahal itu. Berangkat dari Jogja menuju ibukota, tentunya dengan menaati berbagai protokol kesehatan terlebih dahulu.

Tunggu dulu, usaha saya ke sana, ke studio Mata Najwa oleh Narasi TV, bukan untuk mencari Terawan lantaran usaha itu pasti sia-sia. Bukan juga mencari Mbak Nana lantaran saya tahu ia butuh istirahat. Melainkan saya mendatangi si kursi kosong tersebut. Kenapa? Saya dengar, sih, ia tertekan.

Ketika dicari di studio Mata Najwa, hanya kekecewaan yang saya dapatkan. “Sejak kejadian itu, blio (si kursi) langsung dibawa ke rumah sakit untuk menjalankan perawatan intensif,” kata salah satu petugas kebersihan di studio itu. Setelah kami bertanya, saya tercekat, si kursi dibawa ke rumah sakit jiwa!

Langkah kaki saya langsung berlari menuju rumah sakit yang sudah diberi tahu oleh petugas kebersihan tadi. Di rumah sakit yang dimaksud, blio, si kursi, hanya duduk tercenung dan imbas-imbis nggak jelas.

Mas Kurnomo (21) alias Kursi Nomoboyo, kursi kosong yang seolah diduduki Menkes Terawan dan face-to-face langsung dengan Mbak Nana. Ia sedang terkulai di ruangan kosong seperti karantina dengan keadaan senyam-senyum medeni dan nggak jelas. Saya pun menjelaskan itikad saya untuk mewawancarai, ternyata diterima dengan lapang dada oleh blio ini. “Silakan, silakan,” jawabnya, masih senyam-senyum, tapi terkulai lemas.

BACA JUGA YUK :  Nggak Ada Alasan Buat Nggak Mendengarkan Orang Lain Ngomong

Saya pun memulai pertanyaan dengan keadaan resah sekaligus senang. Resah karena nggak bisa menimang kondisi narasumber dan senang karena disambut. Ya udah, trabas saja. “Dalam episode #MataNajwaMenantiTerawan (09/28/10), Anda menjadi sosok yang selalu di-shoot karena Menkes—selalu—nggak mau tampil di publik, tapi guyonan nggak lucunya selalu hadir di balik kumis wagu itu. Bagaimana perasaan Anda, Mas Kur?”

Kursi pun tersenyum tambah lebar. Perlahan ia menjawab, “Edan!” pekiknya. Saya hampir lari tunggang langgang karena saya pikir blio ngatain saya edan. “Pertama kali saya melihat Mbak Nana ngobrol di depan wajah saya langsung, Mas! Biasanya wajah saya terhalang oleh bokong bejabat atau orang besar yang selalu berkeringat.”

Saya hanya ngampet ketawa. Setelah sukses menahan tawa, saya bertanya lagi, “Tapi kan seolah ada Menkes Terawan di depan Anda. Jadi, Mbak Nana kan seolah sedang ngobrol sama Menkes kesayangan masyarakat Indonesia.”

“Mas ini gimana, sih,” welah, si Kursi malah maido. “Kita kan sama-sama tahu bahwa ada atau nggak adanya Menkes, efeknya tetap sama.”

“Apa efeknya, Mas?” pancing saya.

“Nggak ada efeknya, Mas!” jawabnya dengan wajah datar dan cenderung serius. Bangsatnya, saya hampir tertawa. “Saya serius ini, jadi misal Menkes beneran datang dan duduk di wajah saya (kursi, red), efeknya sama saja, sama-sama nggak menghasilkan apa-apa,” katanya. Saya hampir tertawa, setelah tahu blio nggak tertawa, saya urungkan niat tersebut.

“Opsi yang paling baik malah Anda dapatkan, yakni Menkes nggak datang dan seolah Anda ngobrol dengan Mbak Nana?”

Ia tersenyum lagi. Saya bisa menebak, memori malam itu kembali memutari ingatannya dengan sangat manis. Ia menjawab, “Iya. Opsi terbaik dan sukses membuat saya senang setengah mati.”

“Ceritakan dong, Mas Kur, pengalaman luar biasa apa yang Anda dapatkan sewaktu face-to-face dengan Mbak Nana.” Saya klekaran di ubin ruang ICU yang dingin dan sunyi, berbeda dengan wajah Mas Kursi yang bahagia berisi.

BACA JUGA YUK :  Bedah Teknik Marketing Odading Mang Oleh, Sang S3 Marketing Indonesia

“Ada banyak,” katanya dengan sumringah. “Aku mulai dari yang paling yahud, ya. Kejadian itu ketika Mbak Nana bilang, ‘Berkali-kali kami mengundang Menkes ke Mata Najwa, inilah kursi dan panggung Mata Najwa, untuk Menteri Terawan.’ Wuuuuuhhh rasanya seperti Anda menjadi Superman!”

“Padahal itu kan untuk Menteri Terawan, ya? Menteri yang seakan bisa hilang, setelah makan buah iblisnya Absalom di One Piece.”

“Oh, nggak, dong. Blio bahkan menyebut nama saya. Nih dengerin kata Mbak Nana, ‘Inilah KURSI dan panggung Mata Najwa, untuk Menteri Terawan,’” katanya. Ia terlihat sengaja mencethakan bagian kursi.

Saya menggaruk-garuk pantat. Mau protes lagi karena Mbak Nana nggak spesifik nyebut kursi itu untuk Mas Kursi, namun saya urungkan. “Hmm oke, bisa diterima. Lalu apa lagi momen yang paling menohok yang Anda dapatkan malam itu?”

Mas Kursi kembali tersenyum amat lebar. Kalau ia manusia, pasti pipinya sudah merah merona. Sayangnya ia bukan manusia. Setidaknya kursi itu lebih berguna dari pada narasumber penting yang berkali-kali diundang, namun nggak pernah datang. Padahal kehadirannya itu sangat dinanti untuk menjernihkan carut-marut keadaan bangsa selama pandemi ini. Asudahlah.

Mas Kursi menjawab, “Waktu Mbak Nana membacakan list teguran Pak Presiden kepada Menkes, sih. Padahal nih ya, Mas, teguran itu untuk Menkes lho. Tapi kok ya yang malu malah saya. Sumpah, saya malu banget. Saya jadi mengerti perasaan beberapa Menteri Kesehatan di negara lain yang menyatakan mengundurkan diri karena nggak mampu mengendalikan pandemi di negaranya.”

“Hmm menarik,” hampir kelepasan saya tertawa. Akhirnya saya kendalikan karena menjaga wibawa di depan sosok yang face-to-face langsung dengan Mbak Nana. “Keadaan itu, apa yang terlintas di pikiran Anda, Mas Kur?”

“Hahaha,” ia terbahak-bahak, padahal selang infus nancep di gagang kursi sebelah kiri. “Saya jadi berpikir, pilihan Menkes nggak datang itu ada benernya juga, sih. Bayangkan saja kalau hadir, bakal ngomong apa blio? Statemen publik saja jawabannya lucu-lucu, apa lagi malam itu ketika diberi pertanyaan ultimate ala Mbak Nana. Saya khawatir, Sule dan Andre kehabisan job untuk melucu.”

BACA JUGA YUK :  Nggak Balikin Barang ke Rak yang Benar di Minimarket itu Ngeselin!

Saya diam. Bukan tersinggung karena Mas Kursi nyebut pelawak favorit saya. Saya diam karena menahan tawa.

Mas Kursi melanjutkan, “Data tentang corona di Kantor Kemenkes saja nggak transparan, apa lagi orangnya. Udah pantes, sih, Mbak Nana menghadirkan kursi kosong. Karena…..”

“Karena apa, Mas Kur?” saya menyimak. Takutnya, saya kelewatan untuk mencatat bagian penting dari statemen Mas Kursi.

“Karena…..sama-sama kosongnya,” jawabnya dengan enteng. Saya pun tak kuasa menahan tawa.

“Btw, Mas Kur kelihatan nggak sakit, kenapa sehabis acara Mata Najwa, Anda masuk rumah sakit jiwa?”

Ia melihat saya, melihat ke sekitar, seperti melihat kondisi dan suasana. Ketika ia sadar kondisi ICU sepi, ia berkata, “Saya di akhir acara pingsan, Mas, karena degdegan banget diberondong pertanyaan sesuai fakta miris mengenai kondisi negeri ini yang sedang nggak baik-baik saja. Apa lagi kita tahu yang memimpin kita dalam bidang kesehatan, orangnya macam itu.”

“Mas, denger-denger kabar terbaru, Mbak Nana mau dilaporkan lho!”

Mas Kursi hanya senyam-senyum. “Nah, itulah mengapa saya memilih rumah sakit jiwa. Setidaknya orang-orang di sini nggak lebih gila dari orang-orang tamak di luar sana!” Tawa bahagia tadi sekarang menjadi haru yang saya rasakan. Masker saya, rasanya lembab karena menahan tawa dan tangis miris sekaligus. Padahal, ini hanya berlangsung beberapa saat saja. Nggak kebayang para tenaga kesehatan garda terdepan, capeknya bagaimana dalam membendung laju korban pandemi yang kurvanya belum menunjukan melandai, tapi pemimpinnya nggak jelas kayak si anu.

Avatar

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *