Kelindan Rasisme Sepakbola

susahtidur.net – rasisme

susahtidur.net – Di depan televisi yang cahayanya mulai meredup lantaran ada beberapa kabel yang kendur, tak mungkin diservis karena tak ada reparasi yang mampu, Om saya menyiapkan kacang beraneka macamnya dengan satu tujuan; menonton sepakbola. Polong, rebus, goreng, apapun ada, yang belum tersedia adalah kemenangan Liverpool kontra Manchester United pada malam itu. Pada malam itulah pertama kalinya saya akan berkenalan dengan istilah rasisme.

Sebuah malam yang sayup, redup, rendah, dan bulan bersinar dengan terang pada perubahan titimangsa 2011. Tepat ketika saya berumur dua belas, bencana besar dalam sejarah sepakbola terjadi, di depan mata saya yang menghadap layar berukuran dua puluh satu inci.

Di depan kelumit gawang lawan, striker gaek Liverpool era itu terlihat mulutnya sedang komat-kamit tidak jelas. Dengan wajah tegang, bek kawakan Manchester United berteriak, terkejut, dan ketegangan sontak terjadi pada dua belah kubu. “Astaga, kenapa lagi si tonggos itu?” Begitu kata Om saya, si pendukung setia Manchester United. Dengan wajah takut, malu, dan sedikit kemerahan, saya mengelap keringat di kening dengan sebuah jersey Liverpool yang baru saja saya beli di Jalan Pramuka dengan menebus mahar dua puluh ribu saja.

“Rasis! Rasis!” Begitu kata Om saya setelahnya. Entah barang dagangan jenis apalagi rasis itu. Sebuah kata yang baru pertama saya dengar. Yang bisa saya lakukan hanya menonton, berharap Manchester United bertekuk lutut di hadapan Luis Suarez. Nahas, keadaan malah sebaliknya, Luis Suarez yang tergulung jatuh atas dakwaan rasisme kepada Patrie Evra. Sebab musababnya, Suarez mengatakan “negro” kepada Evra. Mau tahu apa yang saya katakan pada saat itu? Begini, “Apa salahnya bilang negro? Jelas Luis Suarez tidak salah!”

Umur dua belas, saudara-saudara! Umur yang tidak bisa dikatakan kecil lagi. Umur yang bahkan sudah tidak layak menghisap puting susu ibu lagi. Umur yang harusnya sudah mempelajari sejarah dunia dengan Eropa sebagai sentralnya. Si bodoh ini belum tahu apa bahayanya kata-kata yang dihunuskan oleh Suarez malam itu. Selain atas dasar bodoh, hal ini terjadi karena rasa cinta mati saya kepada Liverpool yang membutakan, jujur saja. Tapi saya serius, pada umur dua belas, otak saya memeras dengan keras bahwa salahnya Suarez itu ada di mana.

BACA JUGA YUK :  Bahaya Laten Coach Justin untuk Anak Kecil

Saya adalah Prodak Rasisme Hasil Kandung Lapangan Desa

Di sebuah sore yang langitnya begitu rendah, sejuk, seakan bisa untuk disentuh, saya merayakan gol ke dua. Pada umur delapan tahun, saya bisa dibilang lumayanlah dalam masalah mengolah kulit bundar. Besoknya, saya merayakan tiga gol dengan elegan. Lusa, saya selebrasi entah yang keberapa kalinya. Gelontoran gol terasa mudah. Cukup melewati lawan, tendang sekuatnya ke arah gawang karena kiper yang berjaga pada hari ke hari, selalu itu-itu saja. Dirinya yang tak kuasa memilih kehendaknya bermain di posisi apa. Dan skill menangkap bolanya dapat dikatakan amat payah.

Sebut saja namanya A, si kiper yang selalu kebobolan dengan mudah. Ia dipilih menjadi kiper hanya karena berkulit putih dan berbadan gendut. Anak yang kulitnya paling bersih, mendekati kata “putih”, entah awal mulanya bagaimana, disebut sebagai anak mama. Di tongkrongan, A selalu mendapatkan perlakuan yang kurang adil. Bukan masalah diejek atau ditendang, tidak sampai hati kami melakukan itu. Namun masalah di lapangan desa, ia adalah kiper yang tidak pernah tergantikan.

Anak mama selalu dianggap tidak bisa bermain bola. Ringkih, lemah, dan tanpa skill, begitu dakwaan demi dakwaan yang anak mama terima. Sedang posisi kiper adalah diperkenankan bagi mereka yang berkulit putih dan anak mama. Benar, itu sebabnya A bermain dalam posisi kiper dari hari ke hari. Seakan tak pernah tergantikan dari masa ke masa. Kultur seperti ini, apa yang membedakan dengan perilaku kolonial Belanda? Ingat kata-kata verboden voor honden en Inlander? Begitulah tradisi ini seolah dihidupkan kembali, lantas dilanggengkan di lapangan desa hingga kini.

Lapangan desa tidak pernah berperilaku adil. Modifikasi demi modifikasi dari rasisme, seakan diwajarkan sehingga terjadi kesatuan yang tak akan pernah lepas. Glorifikasi masa muda penuh dengan kenang, sejatinya diberengi dengan masa-masa yang penuh dengan tindakan rasis yang disetujui secara sadar.

Si coklat jadi bek karena biasa saja, si putih jadi kiper karena lemah, dan si hitam sudah pasti jadi pelari utama guna mengejar bola. Pengelompokan warna kulit dan spesifikasi ras tertentu seakan mengendap di kepala dan menjadi semacam konsep-konsep—yang saya sebutkan di awal—modifikasi rasisme yang diwajarkan.

Rasisme dari masa kolonial, selalu diwujudkan dalam olah fisikal. Pribumi dianggap sebagai anjing yang terjajah, sedangkan penjajah adalah mereka yang agung, luhur, dan tentu saja berkulit putih bersihnya. Penjajahan demi penjajahan kecil di negara kita, pada akhirnya menciptakan sebuah rasisme yang tak hanya berwujud fisikal, namun juga pikiran. Dalam sepakbola di lapangan desa, anak-anak yang bermain bukan sesuai peran kemampuan, melainkan—yang saya sebutkan di awal—modifikasi rasisme yang diwajarkan.

Menyiram Tanah Gembur Rasisme, Pengebirian Total Bakat Sepakbola

BACA JUGA YUK :  Antifasisme di dalam Dunia Sepak Bola

Terbiasa dengan modifikasi rasisme yang diwajarkan, maka lahirlah saya yang berumur tiga belas yang kala itu berkata dengan bodohnya, “Apa salahnya Suarez bilang negro kepada Evra?” Terbiasa dengan rasisme atau justru memaklumi hadirnya rasisme bahkan sejak umur belia. Ditarik dari garis lurus, dari mana pola pikir bahwa warna kulit menentukan skill masing-masing individu? Jawabannya tentu akan panjang. Kita mulai pelan-pelan.

Permasalahan rasisme mungkin menjadi basis permasalahan baru yang hadir di negara kita pasca-merdeka. Kala terbiasa menerima tindakan rasis para penjajah, maka menjadi soal kala mengolah tindakan-tindakan dari dalam kala menjadi individu yang merdeka—yakni menghindari tindakan sendiri dari cikal bakal munculnya kehendak rasis. Sejarah menentukan, namun lingkungan yang sudah tentu mencoret-coret tabula rasa insan manusia di bawah sepuluh tahun yang bisa dikatakan masih hijau dari pemberian stigma di otak mereka.

Kita telah menyepakati bahwa rasisme adalah wujud kekerasan sistemik. Kekerasan yang bisa melebar, menjadi wujud yang lebih menyeramkan—kekerasan contohnya. Lapangan desa ketika berkelumit dengan tindakan rasis, barang tentu akan menjadi ladang pembantaian masal bakat dalam sepakbola.

Sudah jelas A tidak mahir menjadi kiper, namun dari waktu ke waktu, warna kulitnya seakan mengharuskan dirinya memenuhi panggilan pos sebagai kiper. Kita tidak pernah tahu bilamana si A diberi posisi gelandang serang, akan lebih mematikan ketimbang dirinya yang dijadikan kiper karena warna kulit. Jika dari kecil A bermain di posisi yang ia suka, kita tak pernah tahu bahwa bakatnya akan terus terjaga sampai ia merasa bisa dan sanggup mengolah kemampuan dan menakar kemauan.

Kompetisi menjadi tidak sehat bahkan sejak berada di lapangan desa. Saya tidak akan membahas umpatan suporter dengan nada rasial atau pemain vis-à-vis dengan pemain lain yang ujung-ujungnya menyeret serta tindakan rasial ke dalam pesta dansa lapangan sepakbola. Saya membahas lebih dasar dari itu semua bahwa tindakan rasial yang seakan diwajarkan di lapangan desa, dapat berimbas banyak sampai pada ranah masa depan si anak.

BACA JUGA YUK :  Kamboja Layu Yogyakarta

Rasisme yang membekas dan diterima secara kolektif memang bisa menjadi pemersatu. Lihat saja negara-negara Asia dan Afrika dalam masalah politik internasional. Mereka hadir karena pengalaman rasial yang bangsanya terima dari kolonial. Masalahnya, jika tindakan rasial tidak ditunjukan pada kolektif, melainkan individu, maka apa yang bisa dilakukan individu kepada sekumpulan bajingan di tengah lapangan bola? Di sebuah zaman di mana koloni Mars telah disiapkan, rasisme masih berkelindan di lapangan desa.

Sejatinya sepakbola adalah olahraga yang tidak turun dari langit—karena tipikal itu biarlah Maradona saja yang memilikinya. Kebanyakan atlet sepakbola di zaman kontemporer memulai kiprahnya dari nol. Dalam artian mereka berlatih dan meningkatkan kemampuan tubuh. Namun apa yang terjadi di lapangan desa, seakan mereka memberikan arah yang berlainan, kisut, dan kusut. Anak-anak itu, mempelajari rasisme entah dari mana.

Seorang pandit di kanal YouTube-nya bertalu-talu mengucapkan kata demi kata yang sungguh tak enak untuk didengar. Ia memaki-maki pemain bola dengan sebutan “kardus”, “bengkoang”, “tolol”, hingga kata-kata tidak sopan lainnya. Dan ini ditonton oleh anak-anak. Mereka yang akan bermain di lapangan desa. Tidak hanya rasisme saja, bahkan sampai perundungan karena dianggap keren dan sering dilakukan oleh pundit idola mereka. Hal-hal seperti ini yang bisa menjadi kelumit benang rasial makin berputar entah ke mana juntrungnya.

Anak-anak malang ini seakan sedang menyiram tanah gembur bernama tindakan rasial, hasilnya adalah pengebirian secara total bakat-bakat yang bahkan belum bisa dikatakan benar-benar mekar dan berkembang.

Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *