Kekacauan di Negara yang Pemerintahannya Buruk itu Sesekali Perlu

susahtidur.net – katanya demokratis

Kekacauan memang tidak bisa dipisahkan dari sebuah negara, terutama negara yang mempunyai pemerintahan yang tidak beres. Tidak hanya negara yang totaliter, negara yang katanya demokrasi pun tidak bisa lepas dari yang namanya kekacauan. Entah itu ditimbulkan oleh kelakuan sekelompok masyarakat, atau akibat dari kebijakan pemerintah yang semaunya sendiri. Ya kebanyakan kekacauan yang terjadi memang disebabkan oleh pemerintah sendiri, sih. Toh masyarakat juga tidak akan marah kalau misalnya pemerintahannya benar. Kalau sampai rakyat marah dan membuat kekacauan, pasti ada yang tidak beres dengan pemerintah dan kebijakan yang dikeluarkan.

Tahun 2020 ini memang banyak sekali terjadi kekacauan. Penyebabnya banyak dan bermacam-macam. Ada yang disebabkan isu rasial yang sampai melebar ke mana-mana, ada isu pemilu, perebutan tanah, dan isu lokal seperti kebijakan dari pemerintah. Hal yang terakhir disebutkan adalah hal yang sedang terjadi di beberapa negara di dunia. Ada gerombolan orang yang duduk di parlemen, membuat sebuah kebijakan atau undang-undang yang sangat merugikan masyarakat, terutama rakyat kecil. Proses penyusunannya pun ganjil dan sarat pembungkaman. Bahkan untuk menghalang protes yang diakibatkan kebijakan ini, pemerintah menyiapkan pasa-pasal karet untuk menjerat masyarakat.

Kebijakan ini tentunya tidak muncul begitu saja. Kepemimpinan sebuah rezim yang katanya demokratis tetapi nyatanya otoriter jelas mendukung penuh apa yang dilakukan orang-orang di parlemen. Dengan dalih mengamankan situasi dan stabilitas, pemerintah yang otoriter melakukan hal-hal yang semaunya, bahkan tidak peduli hak asasi dan sebagainya. Semua dikekang dan dipaksa mengikuti apa maunya pemerintah. Masyarakat yang mulai geram, perlahan membangun sebuah kekuatan untuk melawan.

Tenang, tulisan ini tidak sedang membahas kondisi Indonesia. Tulisan ini sedang membahas kondisi negara Inggris di masa depan, yang diceritakan melalui film “V for Vendetta”. Inggris yang diceritakan berada di bawah kepemimpinan rezim yang totaliter, berkuasa dengan dalih menyelamatkan negara paska perang dunia, kelaparan dan wabah penyakit yang melanda sebelumnya. Ini jadi alasan bagi seorang politikus untuk berkuasa dan menerapkan sistem kekuasaan yang totaliter dan fasistik. Negara benar-benar mengontrol semuanya. Kebijakan publik, agama, pers, dikontrol dan dibuat semaunya oleh negara dan tidak ada kebebasan berpendapat. Ya hampir sama, lah, dengan di sini.

BACA JUGA YUK :  Demo Revolusioner Army Ricuh, Shichibukai: Udah Baca Poneglyphs Belum?

Dari sebuah negara yang dipimpin oleh rezim totaliter dan fasis, muncul seorang yang bernama V, seorang pemberani yang memakai kostum dan topeng Guy Fawkes. V melakukan berbagai macam propaganda untuk melawan rezim yang totaliter. Tidak hanya propaganda, V juga melakukan aksi “vendetta” yang kurang lebih berarti sebagai balas dendam dengan membunuh para politisi yang terkait dengan rezim. Aksi perlawanan V tergolong sangat rapi, bahkan cenderung senyap. Tidak heran kalau V didapuk sebagai simbol atau tokoh perlawanan terhadap rezim totaliter di seluruh dunia, tidak hanya di Inggris saja.

V tentu tidak hanya menyalahkan para politisi. V menyebut juga bahwa rakyat juga berperan atas lahirnya rezim ini. “Untuk mengetahui siapa yang bersalah atas semua yang terjadi, kalian hanya perlu bercermin,” begitu kataya. V menentukan tanggal 5 November sebagai tanggal perlawanan. Mulai 5 November saat ini hingga 5 November tahun depan, V akan mulai membunuhi para politisi totaliter dan reim totaliter akan hancur 5 November tahun depan. V dibantu oleh Evey, peremuan yang ia selamatkan dari polisi rahasia pemerintah, yang juga sebagai korban rezim totaliter ini.

Keberuntungan V nampaknya berhenti di tengah malam, ketika pada puncak perlawanannya, V tewas saat akan menemui Evey di terowongan. Jasadnya dimasukkan ke dalam kereta, yang akan melewati gedung parlemen dan meledakkan gedung. V mungkin sudah mati, tetapi propagandanya berhasil. Sekelompok orang dengan jumlah besar berjalan menuju gedung parlemen dengan memakai jubah hitam dan topeng Guy Fawkes. Tentara yang berjaga tidak berkutik dan menyerah. V mungkin mati, tetapi cita-citanya tercapai. Gedung parlemen meledak dan rezim totaliter berhasil runtuh.

Apa yang dilakukan V di film “V for Vendetta” mungkin harus ditiru oleh masyarakat-masyarakat yang sedang menghadapi rezim yang totaliter. Apalagi di negara yang katanya demokratis, tetapi nyatanya totaliter. Sesekali memang perlu melawan, turun ke jalan, atau kalau perlu gulingkan saja rezimnya—sekali lagi, kalau memang perlu, kalau tidak perlu ya tidak usah. Biar mereka para politisi yang duduk di parlemen tahu bagaimana kalau publik sudah marah.

BACA JUGA YUK :  Hak Buruh Squidward dan Spongebob yang Selalu Nrimo Ing Pandum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *