Ikut Berjuang dalam Demonstrasi Malioboro: Tetap Romantis dan Tidak Apatis

susahtidur.net – demo malioboro

Penolakan RUU Ciptakerja yang baru saja disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat telah menuai demonstrasi besar besaran di beberapa daerah Indonesia. Bersatunya mahasiswa, para buruh, dan elemen masyarakat demi kesejahteraan pegawai swasta di jalanan setiap sudut kota. Jogjakarta terutama, sebuah kota romantis yang tak apatis ikut menyuarakan keadilan bersama. Pun saya, sebagai buruh, hati saya nggerus ra karuan!

Sendirian dalam kerumunan masa aksi tolak RUU cipta kerja (yang sudah menjadi UU) , sembari merokok dan tetap memantau para manusia yang haus akan keadilan. Tampak berjalan baik-baik saja. Normal, tertib, dan tetap menyuarakan keluh kesah keadilan bagi rakyat. Suara lantang dari aktivis berulang kali mendapatkan apresiasi tepuk tangan dari gerombolan manusia yang haus akan keadilan. Saya merinding, menyaksikan bagaimana cara mereka menuntut kesejahteraan rakyat yang disia-siakan. Saking merindingnya, saya sampai menahan pipis di celana.

Seseorang lantas berkata, “Pemerintah kui pancen uwes edan kok, mas (Pemerintah itu memang sudah gila kok, mas)”. Dari balik tenda biru sebuah angkringan, lelaki separuh baya yang berprofesi sebagai tukang becak tersebut menumpahkan beberapa curhatan tentang negara ini. Lalu saya berkata kepada beliau, “Pak, njenengan niku ampun terlalu tulus nggih. Njenengan warga negara berhak menyuarakan pendapat (Pak, Anda itu jangan terlalu tulus. Anda warga negara berhak menyuarakan pendapat).”

Kemudian beliau berkata, “Nerimo ing Pandum, mas. Wong cilik mung iso pasrah, hehe (Nerimo ing Pandum, mas. Rakyat kecil cuma bisa pasrah, hehe)”. Sempat terharu dengan ucapan beliau. Saya masih menahan pipis di celana.

Beberapa jam berlalu dengan orasi dari mahasiswa, hingga kemudian terlihat kepulan asap gas air mata yang ditembakan oleh aparat keamanan. Suasana mulai memanas, saat beberapa masa dari elemen masyarakat telah maju untuk melawan pihak keamanan. Suara ricuh dan teriakan masa untuk mundur dari gedung DPR di area malioboro membuat keadaan makin mencekam. Beberapa tembakan peringatan untuk masa yang masih melawan dilontarkan. Para pedagang di pinggiran malioboro merapikan dagangan untuk segera bergegas menutup lapaknya. Bak berada di film koboy, suasana semakin mencekam, saya beneran pipis di celana.

BACA JUGA YUK :  Segala Demo Menolak UU Cipta Kerja Dijawab DPR Dengan Kerja Keras

Saya masih berusaha bertahan memantau situasi kericuhan kota romantis. Dalam kerumunan, saya tetap tenang dan sempat menyalakan rokok. Teriakan Revolusi dan kata kasar dari mulut masa untuk pihak keamanan yang melakukan tindakan represif, membuat keadaan semakin ramai. Banyak yang maju untuk melawan, sesekali mundur. Sirine mobil ambulan berbunyi, menandakan ada salah satu dari masa yang terluka. Area depan lobby Malioboro Mall dijadikan tempat para medis mahasiswa bagi masa yang terluka.

Satu jam dalam kondisi memanas, beberapa dari masa yang terluka dilarikan ke para medis jalanan. Mobil ambulan yang mondar-mandir untuk mengangkut masa yang terluka di jalan malioboro menambah situasi semakin tegang. Perlawanan dari elemen masyarakat semakin menjadi. Kedua kubu antara elemen masyarakat dan pihak keamanan sepertinya tak kenal arti lelah. Saya tahu, pihak keamanan dan elemen masyarakat tak ingin melakukan hal ini. Tetapi benar kata bapak tukang becak yang tadi, “Pemerintah memang sudah gila.”

Sore hari, saya memutuskan untuk balik kanan. Terdengar kabar bahwa sebuah restoran legenda, di samping gedung DPR Kota Jogja, telah terbakar. Sempat ingin kembali ke dalam kerumunan masa, namun hati berkata untuk pulang saja. Sungguh, tempat romantis berubah sekejap menjadi area anarkis. Keluh kesah masyarakat yang tak didengar, menuntut keadilan namun dibungkam, ya sudah tentu bakal muntah dan melakukan aksi subversif. Saya yakin, masyarakat negeri ini berjiwa tulus kepada setiap keputusan pemerintah. Namun ketulusan mereka telah disakiti berulang kali. Mereka sudah menahan diri untuk tidak bergerak dan melawan.

Bagaimanapun juga, merusak fasilitas umum tetap akan menuai kecaman dari pihak manapun. Faktanya, merusak kepercayaan rakyat lebih buruk daripada merusak fasilitas umum. Kota romantis, tetap akan menjadi anarkis, apabila mereka telah mencapai batas wajar kesabaran dan kepercayaan. Jogjakarta, kamu tetap romantis. Meskipun jujur, rasanya seperti diiris-iris.

BACA JUGA YUK :  3 Alasan Mengapa Kita Nggak Perlu Pindah Kewarganegaraan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *