Eva Braun dan Cintanya yang Berujung Maut

susahtidur.net – Eva Braun

susahtidur.net – Adolf Hitler. Sebuah nama yang kiranya sangat ditakuti dan dibenci pada masa Perang Dunia II, seorang diktator kejam yang berambisi menguasai Eropa, bahkan dunia. Kekejaman yang paling nyata dilakukan oleh Hitler adalah genosida terstruktur kepada orang-orang Yahudi, yang hari ini dikenal sebagai Holocaust. Hitler digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan hati. Tapi, nyatanya ia memiliki perasaan dan cinta. Aneh, ya? Sebuah paradoks yang paling tidak masuk akal.

Adolf Hitler yang dikenal sebagai diktator itu nyatanya punya seorang kekasih, kelak juga menjadi istrinya di saat-saat terakhir sebelum bunuh diri di bunkernya. Namanya Eva Braun, seorang perempuan yang bisa dibilang penuh misteri, tapi juga tidak misteri-misteri amat.  Sebab, selama menjadi pemimpin Jerman Nazi, Hitler tidak pernah mempublikasikan hubungannya dengan perempuan itu, walaupun akhirnya diketahui oleh khalayak ramai. Hitler menikahi dia, dan mereka menjadi sepasang suami-istri kurang lebih selama 36 jam saja. Rekor.

Inilah kisah tentang seorang Eva Braun, perempuan yang selalu menemani Adolf Hitler hingga ajal mereka temui bersama.

Eva Braun lahir dari dua pasangan Jerman bernama Friedrich “Fritz” Braun dan Franziska “Fanny” Kronberger. Eva lahir di Munich, kota yang hari ini dikenal karena klub sepak bola yang sangat jago di liga domestik. Lanjut, Eva juga memiliki dua saudara bernama Ilse dan margarete. Eva lahir pada tahun 6 Februari 1912. Ia mengecap pendidikan di sekolah Katolik, lebih tepatnya sekolah biarawati di Simbach am Inn.

Awal mula pertemuan Eva dengan Hitler barangkali berkat ia bekerja di bawah Heinrich Hoffman, seorang fotografer resmi Partai Nazi. Selepas lulus sekolah menengah, Eva bekerja sebagai asisten Heinrich Hoffman, dan mulai mempelajari bagaimana cara menggunakan kamera, walaupun awalnya ia bekerja sebagai juru tulis. Oktober 1929, ia bertemu dengan sosok Adolf Hitler yang umurnya terpaut sangat jauh dengannya. Hitler saat itu berumur 40 tahun, dan ia hanyalah gadis berumur 17 tahun.

BACA JUGA YUK :  Wieteke van Dort dan Rindunya kepada Indonesia

Namun, pertemuan mereka saat itu tidak langsung membuat mereka intens bersama. Memang Hitler kadang-kadang mengajak Eva untuk makan dan menonton opera, tapi saat itu Hitler sedang mencintai perempuan lain. Perempuan itu adalah Geli Raubal, keponakan tirinya yang tinggal bersama Hitler di Prinzregentenplatz. Mulai dari 1929 sampai Geli ditemukan tewas bunuh diri pada September 1931.

Hitler yang merasakan kehilangan cintanya itu mulai melihat Eva Braun, perempuan yang selama ini juga mencintainya. Tapi, Hitler masih belum yakin sebab perasaan miliknya kepada Geli masih terlalu dalam.

Mungkin karena (((terinspirasi))) dari kematian Geli Raubal, Eva akhirnya mencoba menembak dirinya pada Agustus 1932. Sejak saat itu, Hitler mulai memperhatikan lebih. Ouh iya, mereka memiliki satu persamaan, yakni masing-masing keluarga tidak merestui. Ayahnya Braun tidak suka Hitler dan Angela Braun, saudara tirinya, tidak suka dengan Eva. Kecocokan yang amat mantap.

Namun begitu, meski mereka sudah “resmi” menjadi sepasang kekasih, Hitler tidak pernah menampilkan atau mengenalkan Eva Braun sebagai kekasihnya. Dikutip dari buku “Inside the Third Reich” karya Albert Speer, Hitler merasa dirinya adalah sosok suci dan status “lajang” sebagai daya tarik seksual untuk pendukungnya yang perempuan. Ada-ada saja memang Hitler ini.

Hitler yang merasa dirinya superior itu memang brengsek juga, ia sudah memiliki Eva Braun tapi masih bermain belakang. Renate Müller adalah salah satu selingkuhan Hitler yang paling terkenal, ia adalah seorang aktris tersohor pada waktu itu. Hitler memiliki hubungan gelap dengannya, lalu memintanya untuk menjadi aktris dalam film propaganda, tapi ia menolak. Akhirnya hubungannya terekspos publik, dan akhirnya pasti kalian tahu. Ia bunuh diri pada tahun 1937.

BACA JUGA YUK :  Melupakan Kurt Cobain

Walaupun sering diselingkuhi, Eva Braun tetap saja cinta dengan Hitler. Entah ini tulus, polos atau kelewat bloon. Sampai akhirnya Jerman terdesak oleh sekutu, Eva Braun masih mau menemani fuhrer itu. 16 Januari 1945, Adolf Hitler beserta orang-orang kepercayaan berlindung di balik bunker di gedung kanselir. Bunker tersebut menjadi pusat komando, serta perlindungan dari dari pesawat musuh yang menjatuhkan bom di Kota Berlin.

Hitler sempat senang karena Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt, meninggal dunia pada 12 April 1945. Hitler mengira itu titik balik, padahal Amerika Serikat santai saja, karena sistem pemerintahan yang demokrasi tidak memucuk pada satu pemimpin. Tinggal ganti saja, begitu. Akhirnya 16 April 1945 tentara Uni Soviet menerobos Berlin, dan 28 April 1945 ia memutuskan untuk menulis wasiat, dan tentu saja bunuh diri.

Keesokan harinya, Eva Braun dan Adolf Hitler menikah di bawah runtutan bom-bom sekutu yang bergemuruh menghujani Kota Berlin. Disaksikan oleh Menteri Propaganda, Josef Goebbels dan asisten pribadi Hitler, Martin Bormann. Mereka menikah dalam upacara pernikahan yang singkat dan padat. Tidak pakai resepsi, rasanya tidak mungkin juga. Sekutu sudah di depan mata, coy.

Keesokan harinya, pukul 15. 30 waktu setempat, Hitler dan Eva masuk ke dalam kamar pribadi mereka. Sesaat kemudian Hitler melakukan bunuh diri dengan tembakan ke arah mulutnya, dan Eva menelan racun untuk bunuh diri. Eva Braun yang baru berumur 32 tahun itu akhirnya wafat di samping kekasihnya. Kisah Eva Braun yang selalu mendampingi Adolf Hitler terdapat di berbagai buku yang menuliskan hidup Hitler, atau buku yang menuliskan biografi Eva Braun saja. Seperti buku Allan Bullock, Hitler: A Study in Tyranny. New York, lalu Angela Lambert, The Lost Life of Eva Braun.

BACA JUGA YUK :  Kengo Nakamura: Wujud Kesetiaan, Dedikasi dan Kerja Keras bagi Kota Kawasaki
Nasrulloh Alif Suherman

Nasrulloh Alif Suherman

Sering dibilang mirip Tulus

View all posts by Nasrulloh Alif Suherman →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *