Dulgo: Anjing Terakhir di Desa yang Warganya Merasa Paling Suci

susahtidur.net – kisah Dulgo

Anjing hitam yang ramah itu bernama Dulgo. Bokongnya yang megal-megol kayak biduan, menandakan dirinya dirawat dengan baik dan benar. Pemiliknya, adalah seorang meneer yang kebetulan membeli rumah di ujung desa, sangat nyaman untuk mengisi hari tua. Apa lagi, si Meneer ini, pensiunan tentara di negaranya. Entah bagaimana ia bisa tinggal di Imogiri. Kemungkinan besar, ia kadung cinta dengan kondisi alam di sini.

Saya nggak tahu banyak tentang si Meneer, namun tidak dengan anjingnya. Dulgo sering mengunjungi pedesaan. Ia sering lompat-lompat di persawahan. Ia sering mengejar garangan, kemudian mengajaknya bermain. Iya, niatnya main, pada akhirnya garangan itu akan mati. Dulgo sedih, saya tertawa, para peternak bahagia.

Sempat juga, Dulgo kenter di sendang, namun kecakapannya berenang, seakan selalu mampu menunaikan tugasnya, yakni menghibur warga sekitar—termasuk saya.

Saya nggak tahu Dulgo bisa Bahasa Belanda seperti tuannya atau nggak. Ia ada kenangan masa lalu dengan Sarah-nya si Doel yang lama bermukim di Ansterdam atau nggak. Yang jelas, saya nggak pernah melihat Dulgo ngobrol secara akrab dengan sang majikan menggunakan Bahasa Belanda. Bahkan, bentukan Dulgo, nggak ada bedanya dengan anjing-anjing lain yang ada di Indonesia. Sama-sama njegok kalau dikagetin.

Bagi Lik Min, salah satu petani di desa saya, Dulgo adalah pembantu yang rela digaji dengan mie pentil. Ongkos yang cukup murah kala Dulgo selalu sukses mengusir burung emprit yang makanin padi ketika makin merunduk. Dulgo juga sangat disayang sama Pak Dukuh. Suatu kali, saya sempat melihat Dulgo berlarian di pekarangan milik Pak Dukuh.

Bagi banyak orang, anjing ini adalah episentrum sebuah senyuman. Tak terkecuali bagi saya. di sebuah belantara Imogiri, Dulgo menjadi tamba lara kegundahan hati saya ketika muntab dengan lingkungan pertemanan. Bahkan sampai segenap perasaan yang lebih sentimentil, yakni percintaan. Walau perjumpaan saya dengan Dulgo tidak seintens warga desa yang lainnya. Kuliah di Depok, menjadikan Imogiri tak menjadi sering untuk saya sambangi.

BACA JUGA YUK :  4 Hal yang Harus Kamu Lakukan Ketika Bertemu Anjing Jalanan

Selama pandemi, saya memutuskan untuk menepi di Imogiri. Banyak alasannya dan saya rasa nggak penting juga dijelaskan. Namun, ada beberapa hal yang menjadi aneh. Entah sejak kapan, desa saya jadi makin religius. Saya tidak menyayangkan, namun toa-toa Masjid kian riuh, sendang tempat mandi sudah tidak beroperasi, dan Dulgo sudah tidak pernah terlihat lagi.

“Dulgo itu haram, Mas,” kata salah satu penduduk di dekat rumah megah milik si Meneer. “Jadi, entah sejak kapan, Dulgo nggak pernah turun lagi kemari.”

Hati saya jadi nggak menentu. Baru kali ini, saya dibuat gundah gulana karena anjing. Ya, seekor anjing. Saya bertanya ke teman-teman desa, mereka baru sadar bahwa Dulgo sudah lama nggak terlihat.

Banyak gosip mengenai rumah si Meneer. Terutama ketika saya kecil dulu. Mulai dari banyak hantu, dijagain genderuwo sampai kisah pembunuhan. Semua gosip itu terbantahkan kala saya datang ke sana, si Meneer ternyata sudah angkat koper sekitar tahun 2015. Bertepatan dengan saya ketika meninggalkan Imogiri, guna kuliah menuju Depok.

Saya merasa seperti tim Termehek-Mehek. Sebuah reality show yang sejatinya nggak riil itu. Saya mencari Dulgo bagai Dora yang sedang mencari tempat tujuan. Belagak jadi Sherlock, saya justru terlihat seperti Lupin yang hendak nguntit korek di Indomaret. Saya ingat satu orang, ia adalah mantan penjaga rumah si Meneer.

“Oh, Dulgo?” kata si mantan penjaga rumah Meneer. Kini ia tinggal di Bambanglipuro. Bagi pembaca yang orang Bantul atau setidaknya tahu Bantul, pasti tahu betapa selonya saya yang berangkat dari Imogiri, sampai ke tempat ini.

“Sejak mereka datang, Dulgo disarankan untuk menjauh dari pemukiman warga, Mas. Kata mereka haram bermain dengan anjing,” jelas si penjaga membuat wajah ini sedikit meringis.

BACA JUGA YUK :  Quarter Life Crisis dari Pandangan Penderita Mental Illness

“Mereka siapa, Pak?” tanya saya secara refleks. Padahal, ya, saya tahu apa yang bakalan diucapkan oleh si Bapak penjaga rumah ini. Nggak ada jamuan teh. Saya mendatangi blio yang sedang ngurusi anggur di kebun majikan barunya.

Bagaimana pun, dalam sudut pandang saya yang nggak terlalu taat beragama, disingkirkannya Dulgo dari “wahana bermain” kesuakaannya ini tidak bisa menyalahkan satu pihak. Dulgo memang anjing yang katanya liurnya dan dagingnya itu haram. Pun, warga yang baru datang ini juga tidak salah, bagi mereka yang agamis, anjing itu najis.

Ah, sudahlah, saya nggak mau berbicara terlalu banyak mengenai agama. Saya bukan takut, tapi ngeri saja. Saya nggak mau rumah saya didemo berjilid-jilid banyaknya. Bisa ngewel.

Yang jelas, seburuk-buruknya Dulgo di mata masyarakat desa—yang sekarang—Dulgo kecil merupakan hewan yang baik dan selalu membantu banyak orang. Entah membantu pekerjaan mengusir hama emprit—sayangnya Dulgo nggak bisa menanggulangi hama wereng—membantu tawa anak-anak desa, dan membantu ketentraman batin saya selama singgah di Imogiri. Bahkan, si Dulgo, adalah hewan yang lebih berguna dari burung-burung yang dipelihara di rumah saya.

Saya nggak bisa bercerita mengenai cara mati si Dulgo dan alasan mengapa si Meneer pindah (karena mantan penjaga rumah blio juga nggak tahu alasannya). Mungkin selain privasi, penjelasan yang diberikan oleh Bapak penjaga kadung mengiris-iris perasaan saya. Dulgo, kini, saya yakin sudah lebih merasa aman dan tentram. Tidak dikejar-kejar si penduduk baru itu, tidak dilempari dan tidak dibunuh dengan keji.

Mati adalah cara baik bagi Dulgo. Ketimbang menetap di dunia, dikejar-kejar sampai liang lahat. Lalat-lalat mengerubunginya. Belatung dan tanah sudah menggerusnya sampai terhimpit oleh tanah.

BACA JUGA YUK :  Lagu "A Better Place, A Better Time" Pernah Menyelamatkan Saya dari Bunuh Diri

Namun, sebaik-baiknya Dulgo, toh dia tidak bisa masuk surga. Sebaliknya, sejahat-jahatnya manusia yang membunuh si Dulgo, kapling surga mungkin sudah dipersiapkan untuknya. Begitu aneh. Sungguh malang nasib Dulgo. Semoga, di kepercayaan yang lain, ada tempat yang baik untuk anjing lucu berwarna hitam metalik seperti Dulgo untuk menjalani kehidupan setelah kematian. Semoga. Ya, lagi-lagi, semoga. Bukan saya meragukan kekuatan dari kata “semoga”, tapi beberapa kali saya mengatakan semoga, rasanya semua menjadi jauh. Semoga nasib Dulgo dalam konsep surga/neraka, reinkarnasi atau bahkan samsara, tidak begitu. Semoga.

Avatar

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *