Dukun-dukun Tomia yang Lebih Masuk Akal daripada Tenaga Medis Modern

susahtidur.net – dukun Tomia

susahtidur.net – Saya lahir dan besar di Tomia, sebuah daerah di Indonesia Timur yang masih bagian dari Wakatobi. Di Tomia, modernisasi merupakan barang mewah dan sangat jauh dari bayangan. Modernisasi adalah mitos bagi saya dan penduduk Tomia. Bagaimana tidak mitos, ketika listrik saja hanya menyala mulai pukul enam sore sampai menjelang subuh? Bagaimana bukan istilah asing, ketika fasilitas kesehatan saja sangat minim sehingga kami lebih percaya kepada dukun alih-alih tenaga medis?

Di Tomia, saat pelajaran komputer, jangan harap kalian bisa praktik mengoperasikan komputer, mainan internet, atau curi-curi nonton bokep sekalian. Tidak akan bisa. Bukan karena tidak ada komputer. Komputer ada, hanya saja tidak pernah bisa difungsikan lantaran listrik hanya menyala saat malam. Bendanya ada, namun tidak pernah benar-benar berfungsi. Mirip-mirip lah seperti negara. Negara ada bagi Tomia, tetapi tidak pernah benar-benar berfungsi. Nyatanya, kebanyakan anak-anak di Tomia—termasuk saya—tidak memiliki akta kelahiran sampai SMP. Bagaimana dengan KTP? Halah, kartu remi jauh lebih memiliki manfaat. KTP hanya berfungsi apabila kami—warga Tomia—hendak merantau ke luar pulau.

Membicarakan Tomia, dan segala ketimpangan sosialnya, tidak akan pernah habis rasanya. Akan tetapi sebenarnya ketimpangan itu hanya terjadi karena daerah kami dibandingkan dengan kota-kota di dekat pusat negara. Ya jelas timpang. Sangat timpang mengingat Indonesia yang dibicarakan orang-orang itu ya sebatas Jawa dan sekitarnya.

Salah satu ketimpangan yang ingin saya bahas kali ini berhubungan dengan dunia medis. Dalam sebuah obrolan ngalor ngidul dengan seorang teman kampung yang sebentar lagi akan disumpah sebagai dokter, ruang pengetahuan saya mengenai dunia medis terisi sedikit demi sedikit. Walau obrolan kami, seperti biasanya, seperti laiknya obrolan warung kopi, hanya saling lempar gagasan terkait kondisi medis di Tomia, atau malah Wakatobi seluruhnya.

Dalam obrolan sampai sekira tengah malam itu, kami mengeluhkan infrastruktur dunia medis yang tidak ada plus-plusnya sama sekali. Bahkan sekelas medis dan infrastrukturnya, di kampung saya masih kalah dengan layanan pijat. Suatu ketimpangan yang benar-benar timpang. Bisa dibayangkan, layanan medis di daerah yang katanya pariwisatanya sudah kancah dunia bahkan sundul langit itu, orang dengan maag akut saja harus dirujuk ke rumah sakit di daerah lain. Bahkan, pernah ada turis luar negeri yang meregang nyawa hanya karena tidak mendapat pelayanan medis yang sesuai peruntukannya.

BACA JUGA YUK :  La Feki dan Cinta yang Kelam

Dari obrolan warung kopi saya dengan si calon dokter ini, ingatan saya melayang jauh ke masa lalu. Ada sebuah kecelakaan yang pernah menimpa adik saya ketika masih kecil. Sekali waktu pada medio 2005, adik saya mengalami kecelakaan cukup serius. Dari kecelakaan itu, kaki adik saya menjadi lumpuh sementara.

Adik saya dibawa ke rumah sakit untuk diobati, lalu dia mulai bisa menggunakan kakinya untuk berjalan. Namun ada perkara besar justru terjadi. Akibat kecelakaan naas itu, panjang kedua kaki adik saya (sepertinya) menjadi tidak sama. Jadilah jalannya pincang. Tetap bisa berjalan namun dengan kondisi seperti difabel. Semakin menjadi masalah ketika sesekali adik saya harus menjadi sasaran perundungan akibat jalannya yang seperti orang joget itu.

Dua bulan berselang sejak adik saya bisa kembali menggunakan kakinya untuk berjalan, kami sekeluarga mendapat rekomendasi untuk menyerahkan pengobatan kepada dukun kampung. Saat itu, rumah sakit, dengan keterbatasan alat dan (mungkin juga) pengetahuan, harus merelakan kami menggunakan pengobatan alternatif.

Hal luar biasa yang bahkan kami sekeluarga tidak percaya adalah kaki adik saya kembali pulih seperti sedia kala sebelum mengalami kecelakaan. Dan cara mengobatinya bisa dikatakan keluar dari nalar pengobatan medis ilmiah pada umumnya. Adik saya hanya disuruh sang dukun meminum air putih yang sudah dijampi-jampi, memerintahkan kakak serta kakak ipar saya untuk memegangi adik saya, lantas kaki adik saya ditarik oleh sang dukun. Dan booom!!!! Cacat itu hilang seketika.

Kejadian tersebut sampai saat ini masih menjadi cerita mukjizat untuk semua orang yang pernah menyaksikan kondisi adik saya. Banyak orang yang tidak percaya bahwa pengobatan untuk cacat yang cukup serius itu hanya dengan ditarik, literally ditarik!!

BACA JUGA YUK :  La Feki dan Orang-orang di Angkringan Tomia

Bicara pengobatan alternatif oleh dukun di kampung saya, pun di Wakatobi secara umum, adalah hal yang masih sangat lumrah. Perkaranya, dukun di kampung saya dan kampung-kampung lainnya di Wakatobi telah teruji mengatasi hal urgent dan tidak normal, bak memiliki mukjizat. Mereka mampu membalikkan ekspektasi orang sedemikian rupa sehingga mereka yang mulanya tidak percaya kekuatan (magis) dukun, harus menjilat ludah sendiri.

Dukun yang sudah berhasil menyembuhkan kaki adik saya pernah bercerita kepada saya. Sekali waktu, ada seorang warga kampung yang melakukan bunuh diri dengan mengiris nadi di tangannya. Setelah sekian waktu, dia yang mengiris jalur edar darahnya sendiri itu sudah dalam kondisi sekarat dan akan mati mengenaskan. Sang dukun datang dengan penuh optimisme tinggi laiknya para superhero muncul di film Avengers : End Game.

Dan memang sesuai ekspektasi orang-orang, si dukun mampu menghubungkan kembali nadi yang sudah terputus itu. Orang-orang lega, si dukun lega, si pemotong nadi tidak jadi mati konyol. Dari dua kejadian nyata yang saya jelaskan di atas, tidak heran bahwa rujukan untuk sakit keras dan cidera berat di kampung saya selalu kepada dukun.

Secara hitungan pengalaman dan pengetahuan, para dukun yang bisa dibilang bekerja dalam senyap ini sudah pernah mengatasi hampir semua jenis penyakit dan cidera. Dan entah berangkat dari ramuan yang ajaib atau memang sedang hoki aja, 90% kerja mereka, entah penanganan langsung atau sebatas rekomendasi kepada pasian, berhasil menyembuhkan si pasien.

Selain menguasai dunia medis nyata yang ilmiah, para dukun kampung ini juga punya semacam keterkaitan dengan hal-hal magis dan supranatural yang oleh manusia modern sering dianggap klenik. Padahal, pada hakikatnya kemampuan spiritual juga menunjang kesembuhan dari si pasien. Pendidikan modern baru belakangan ini menyadari bahwa hal magis (pengobatan yoga, meditasi dan lain-lain) bisa jadi insight untuk medis ilmiah yang profesional.

BACA JUGA YUK :  Dukun Aborsi di Tomia dan Segala Polemiknya

Hal lainnya yang membuat para dukun kampung ini mendapat apresiasi tinggi dari orang-orang kampung, termasuk saya, adalah mereka tidak pernah (atau mungkin belum pernah) yang mematok harga untuk setiap kebaikan yang mereka bawa. Mereka tidak pernah mau membebankan kepada si pasien membayar sekian untuk kesembuhannya.

Mereka biasanya menempatkan perkara bayar-membayar itu di posisi paling buncit dari kesepakatan. Hampir semua dukun di kampung saya mengedepankan bantuan sosial berupa kesembuhan sebagai hal paling utama. Bahkan, beberapa dari mereka berani menolak uang atau barang sebagai “mahar” yang diberi oleh pasien yang berhasil mereka sembuhkan.

Salut saya kepada para dukun di kampung ini seperti tidak akan selesai. Perkaranya, selain mengedepankan pengobatan sebagai aksi sosial, mereka menurunkan ilmu mereka tidak kepada sembarang orang. Ada semacam persyaratan khusus untuk calon penerus mereka. Sangat berbeda dengan dasar pendidikan medis ilmiah yang siapa saja asal punya duit, bisa menerima pendidikan dunia medis ilmiah, terutama kedokteran.

Di tengah amburadulnya dunia medis ilmiah di penjuru negara ini, terutama dengan kapitalisasi yang tidak ada batasnya, ketika di kota, dukun-dukun malah diburu untuk dihabisi karena dianggap representasi dari klenik dan sebangsanya, di kampung saya, mereka mendapat tempat di hati masyarakat.

Ini tentu adalah alternatif yang baik untuk dunia medis. Bahwa di saat-saat ketimpangan pembangunan dan infrastruktur pendukung lainnya di dunia medis masih didominasi oleh Jawa, orang-orang di pelosok timur sana punya cara sendiri menyelesaikan itu. Masyarakat di kampung saya diberi kekuatan untuk tidak terlalu bergantung pada kekuatan negara, yang seringnya hanya koar-koar “pembangunan di wilayah Timur Indonesia” namun kenyataannya selalu jauh panggang dari api.

Efalki

Efalki

Menulis setengah hati, mencintaimu sepenuh hati

View all posts by Efalki →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *