Dilema Antara Menikmati Hari Ini atau Menikmati Hari Nanti

sumber gambar dari pexels.com

Saat kita mulai dewasa dan harus bertanggung jawab atas diri sendiri, kerap muncul dilema tentang mana yang sebaiknya dilakukan, apakah menabung untuk masa depan atau menikmati masa-masa saat ini. Banyak yang beranggapan bahwa menabung sangat penting karena kita nggak bakal kerja selamanya, lantas memutuskan menabung mati-matian sampai nggak sempet bersenang-senang seperti temen-temen lainnya. Ada pula yang berpendapat bahwa… kalo nggak seneng-seneng selagi muda dan sehat, kapan lagi? Kalo bisa seneng-seneng, kenapa enggak? Toh apa gunanya tabungan banyak kalo nggak bisa menikmatinya pas tua nanti?

Dua pandangan itu sangat bertentangan. Yang satu mengantisipasi masa depan, yang lainnya menikmati selagi bisa. Iya, bagi kalian yang sudah memilih salah satu jalan, barangkali nggak bakal dilema-dilema amat, sampai suatu malam kalian nggak bisa tidur karena mikir… ‘Sampai kapan mau gini terus, ya?’

Sementara itu bagi penganut nabung adalah segalanya juga nggak akan dilema. Nggak bakal tergoda hura-hura, jalan-jalan ke mall, nongkrong tiap hari di kafe, atau hal-hal yang bersifat boros lainnya. Sampai suatu malam ada titik di mana nggak bisa tidur karena mikir… ‘Sampai kapan mau prihatin, ya?’

Iya. Baik kubu menikmati hari ini maupun kubu menikmati hari nanti bakal kepentok sama pemikiran mereka sendiri karena mulai jenuh. Lantas kalau begini, sebenarnya lebih baik memilih yang mana? Menabung biar kaya—konon gitu—atau menikmati apa yang benar-benar ada di masa ini?

HIDUP PRIHATIN ATAU HIDUP SESUKANYA?

Kita pasti memiliki teman yang duit gaji bertahan paling lama cuma lima belas hari dan sesudahnya sibuk nunggu-nunggu kapan gajian lagi. Kita juga pasti punya temen yang nggak pernah keliatan ngeluarin duit gajinya sama sekali. Yang ngabisin gajinya dalam waktu lima belas hari bisa seneng-seneng dan makan enak di awal-awal bulan, lalu di pertengahan sampai akhir bulan mulai prihatin. Di sisi lain ada temen kita yang sepanjang bulan nggak pernah seneng-seneng dan siklusnya sama—prihatin mulu—karena nabung. Nah, mana yang harus kita ikuti? Apakah seneng-seneng dan ngabisin duit, atau prihatin terus?

Sebenarnya ada satu masalah lain di sini, yaitu tentang konsep menikmati hidup. Bagi pihak yang menikmati hari ini dan membelanjakan uang untuk hal-hal yang nyata membuat mereka senang, pasti akan menganggap pihak yang rajin menabung sebagai mereka yang menyiksa diri sendiri dan nggak menikmati hidup. Apa masalahnya? Ya jelas karena cara menikmati hidup tiap orang itu berbeda-beda. Ya gimana ya, kalo emang dari awal sudah kebiasa hidup sederhana dan menikmati fase-fasenya yang seperti itu, ya siapa kita buat menilai hidupnya nggak bahagia? Juga, kita yang keliatannya bahagia nongkrong sana nongkrong sini dan beli ini beli itu, belum tentu juga bisa bahagia kan?

BACA JUGA YUK :  Rekomendasi Kegiatan Buat yang Susah Tidur

Ada tipe orang yang memang menerapkan gaya hidup sederhana. Makan sewajarnya. Pakaian sewajarnya. Kendaraan sewajarnya. Pokoknya gaya hidup jarang sekali upgrade, dan paling menghabiskan banyak uang untuk sesuatu yang memang hobinya, misal… mengkoleksi semua edisi sampul buku seri Harry Potter, barangkali? Atau yang lain. Sisa uang yang nggak kepake ya ditabung terus. Bukan untuk menjadi kaya di masa depan, tetapi karena emang nggak punya alesan buat membelanjakan uang itu.

Di sisi lain emang ada orang yang hobi mengikuti perkembangan zaman. Hobi mengikuti tren. Hobi melakukan sesuatu yang lagi hits. Mengupgrade gaya hidup agar tetap relate dengan kehidupan modern. Semua itu dilakukan agar bisa ketawa-tawa dan bahagia dengan hidupnya saat ini. Ya nggak masalah, emang pada dasarnya sifatnya kayak gitu.

JANGAN MEMAKSAKAN MEMILIH KALO EMANG NGGAK SUKA

Kalau kemudian ditanya kita harus mengikuti yang mana? Ya jawabannya tergantung kita tipe yang seperti apa? Tipe yang nggak terlalu ribet mencoba relate dengan kehidupan modern dan emang bisa hidup sederhana, atau tipe yang senang menjadi relate dengan perkembangan? Jangan juga dipaksakan menjadi sesuatu yang bukan kita. Toh yang menjadi kunci adalah kenyamanan, bener nggak? Kalo kita nyaman dan nggak merugikan orang lain, ya lakuin aja.

Nah, yang kemudian menjadi masalah adalah kita seolah memisahkan dua pilihan antara menikmati hari ini atau hari nanti. Seolah itu adalah dua kubu yang sangat oposisi dan nggak bisa disatukan. Padahal sebenarnya kan itu bisa berada di satu kubu yang sama. Kita nggak bisa menghakimi mereka yang nabung dan tampak prihatin setiap hari dengan label nggak menikmati hari ini, toh mereka nyaman-nyaman saja, bener nggak? Juga, kita nggak bisa menghakimi mereka yang tampak hura-hura dengan label nggak mempersiapkan masa depan.

BACA JUGA YUK :  Hayoloh, Fake Account Lebih Menunjukkan Siapa Diri Kita

Beda urusan apabila ternyata kita nggak menyukai apa yang kita lakukan, misal kita memilih menjadi orang yang nabung mulu dan prihatin mulu karena berambisi kaya di masa depan. Lantas karena kita bukan tipe yang menikmati keadaan itu, kita bakal ngeluh dan merasa capek prihatin mulu. Di sisi lain kalo kita mencoba hura-hura padahal pribadi kita adalah pendamba hidup sederhana, ya bakal merasa duit kita habis untuk hal-hal yang nggak memberikan timbal balik—baca : sia-sia.

Lantas gimana? Masa iya terima pasrah dengan jenis kepribadian kita? Masa yang emang suka hura-hura dan pingin mencoba prihatin biar bisa nabung langsung auto nggak bakal bisa karena nggak menikmati prosesnya? Well, ya nggak gitu juga.

JAWABANNYA ADALAH PERTANYAAN ‘SAMPAI KAPAN?’

Jadi gini, tadi di atas sempat dibahas kalo masing-masing tipe bakal sampe di satu titik di mana mereka mikir satu hal yang sama yaitu ‘Mau sampe kapan gini terus?’ ya nggak? Nah, itu adalah kuncinya. Pertanyaan ‘sampai kapan’ itulah yang kudu dijawab. Itu adalah pertanyaan tentang waktu, dan kita bisa menentukan kapan waktunya tiba. Iya, target! Target akan menjawab pertanyaan ‘sampai kapan’ itu.

Jika kita merasa hidup kita mulai terlalu penuh dengan hura-hura dan ingin mulai menabung, maka bagus! Pertanyaan ‘sampai kapan’ itu bisa dijawab dengan menarget waktu jangka pendek seperti tahun depan. Iya, targetkan pencapaian tahun depan. Untuk kasus ini maka nominal tabungan adalah target itu. Katakanlah menarget tahun depan punya tabungan 20 Juta, ya mulai lakukan pembagian-pembagian pengeluaran bulanan. Alokasikan sekian jumlah untuk ditabung—usahakan di tempat yang sulit diambil kayak program deposito berjangka gitu atau semacamnya—dan sisakan juga buat seneng-seneng. Jadi, jiwa hura-hura masih terpenuhi meski dengan sedikit pengurangan, target menabung untuk masa depan juga pelan-pelan mulai terlaksanakan.

Di sisi lain, bagi yang demen nabung dan mikir pingin bersenang-senang seperti kebanyakan orang, maka target menentukan kapan akan bersenang-senang juga bisa dilakukan. Yang paling gampang apa? Target liburan. Misal menarget ingin liburan ke Vietnam tahun depan. Ya berarti mulai melakukan pembagian tabungan. Yang biasanya dibelikan saham semua, maka mulai dibagi mana untuk persiapan ke Vietnam dan mana yang kudu dibelikan BBRI tiap bulannya. Gitu terus sampai target liburan ke Vietnam itu tercapai. Kalo udah begitu maka nggak akan ada lagi yang nganggap kita nggak menikmati hidup. Kan jelas-jelas kita liburan ke luar negeri. Itu kan menikmati hidup.

BACA JUGA YUK :  Penentuan Zodiak Harusnya dari Tes Psikologi, Bukannya Tanggal Lahir

DUA-DUANYA BISA DILAKUIN, KOK.

Jadi kalau saat ini kita merasa bingung mau milih menikmati masa kini atau masa depan, ya inget-inget lagi kita tipe yang mana. Kita tipe yang kudu nongkrong dan haha hihi bersama teman di kafe, atau tipe yang diem diem di kos dan tetiba bisa liburan ke luar negeri? Setelah paham betul tipe yang mana, maka kita bisa mulai langkah pertama, yaitu membuat target jangka pendek. Apa itu? Ya tentu saja jumlah duit yang ditabung. Iya, bagi yang tipe diem-diem di kos dan tetiba liburan itu juga awalnya nabung dulu.

Nah, cara yang paling tepat buat mulai punya simpenan—duit, bukan pacar simpenan—adalah untuk menyiapkan dana darurat. Iya, entah kita tipe yang mana, tetapi dana darurat itu wajib dimiliki. Namanya juga dana darurat, ya fungsinya untuk keadaan darurat. Untuk besarannya sendiri sih banyak yang bilang sekian kali dari pengeluaran bulanan tergantung kita masih jomblo atau sudah berkeluarga. Tetapi intinya sih semakin banyak dana darurat maka semakin bagus juga. Ya, sebagai pertimbangan kita bisa menarget dana darurat itu enam kali pengeluaran bulanan deh. Iya, enam kali aja udah cukup seharusnya.

Kalo kita udah punya dana darurat, maka bisa move on ke target berikutnya. Entah memiliki tabungan sekian juta di tahun depan atau bisa liburan ke luar negeri tahun depan. Silakan tentukan target jangka pendek kedua setelah target dana darurat tercapai. Dengan begitu, yakin nggak bakal bingung lagi mau milih menikmati hari ini atau menikmati hari nanti. Ya iya nggak bakal bingung, wong dua-duanya bisa dinikmati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *