Body Shaming Terparah Justru dari Temen Deket. Anehnya, Kita Baik-baik Saja

sumber gambar dari pinterest

Perkara body shaming memang sensitif ya. Soalnya fisik seseorang kan emang beda-beda dan nggak mungkin semuanya kurus, atau semuanya gemuk, atau semuanya putih, atau semuanya hitam, atau semuanya tinggi, atau semuanya pendek. Lah kalo bisa seragam kayak gitu kan malah nyeremin. Nanti yang ada malah tiap kali ketemu orang berasa lagi menghadap ke cermin.

Nah, tindakan mengomentari fisik lantas menjadi aktivitas yang sering kita lakukan setiap kali ketemu orang baru atau setiap ketemu temen sekalipun. Entah bilang ‘Wah mbaknya itu bening ya,’ atau malah ‘Wah, mas yang itu posturnya kayak tiang listrik ya,’ atau macem-macem. Otak kita semua kayaknya udah disetting auto ngomentarin fisik orang lain deh, entah komentar kita bakal berdampak buruk apa enggak. Kalo nggak berdampak apa-apa sih ya nyantai aja. Lah kalo ternyata yang dikomentarin itu nggak terima, terus putus asa, terus mengurung diri di kamar, terus mendendam, terus ke dukun, terus nyantet kita, kan kita yang cilaka.

Yang menjadi masalah kemudian adalah tingkat penerimaan masing-masing orang terhadap komentar kita itu berbeda-beda. Ada yang kita bilang mukanya kayak jerapah dan dia baik-baik saja. Ada juga yang sekedar kita bilang ‘Eh kupingmu lucu ya, kayak kuping panci.’ Orangnya langsung teringgung dan menuntut kita ke pengadilan, padahal niat kita muji dengan sedikit guyonan.

Masalah lainnya juga adalah tingkat pengereman mulut penuh dosa kita ini. Iya, niat kita mau ngelucu, tetapi barangkali selera komedi kita terlalu sembarangan sehingga menyinggung orang lain. Nah, yang gini ini yang susah. Kita harus bisa memilah-milah kepada siapa kita akan melempar punchline agar ucapan kita jadi beneran lucu dan bukannya menimbulkan pertikaian hidup dan mati. Inilah yang kemudian membawa kita ke satu fakta menarik, bahwa semakin akrab kita dengan seseorang, maka semakin bangsat pula ucapan kita sama orang itu. Segala macam ungkapan yang menjurus ke body shaming dilemparkan, dan entah kenapa nggak ada yang tersakiti sama sekali, yang ada hanya gelak tawa dan saling berbalas ucapan kampret. Atau, jangan-jangan ada yang tersakiti tetapi memendamnya? Wah… bisa jadi juga ini.

BACA JUGA YUK :  Aroma Kopi Bercampur Jamu Adalah Eksotisme Level Baru

Tetapi ini sungguh menarik, bagaimana ucapan yang sama bisa berdampak berbeda hanya karena faktor kedekatan seseorang dengan orang lain. Kalau dipikir-pikir, ucapannya sama, sama-sama bilang ‘Mulutmu bau bensin!’, tetapi yang satu bisa ketawa-tawa, yang satunya lagi nampol kita pake kepala Godzilla. Yang satu justru bisa membuat suasana semakin cair, yang satu justru mendendam kita bertahun-tahun.

Iya, kita kadang tersinggung saat ada yang ngomentari wajah kita yang barangkali nggak bagus-bagus amat, tetapi hepi-hepi aja pas sohib kita bilang wajah kita mirip Ultraman. Bayangkan, wajah Ultraman itu kan aneh banget yak. Lah kita dikatain wajah mirip Ultraman tetapi malah ketawa ngakak. Ada yang bisa menjelaskan logika di balik fenomena ini?

Kita juga tersinggung saat ada yang bilang suara kita terlalu keras. Kayak… ternodai gitu rasanya. Eh tapi pas sohib kita bilang suara kita mirip tabung gas meledak, kita bisa santai-santai saja atau bahkan balas memberi ejekan yang lebih nylekeit. Ya bayangkan aja, tabung gas meledak itu kan bencana yak, dan suaranya juga beneran keras banget. Lah suara kita diibaratkan gituan, itu secara nggak langsung suara kita nimbulin bencana, kan? Dan anehnya kita nggak tersinggung sama sekali. Sakit kayaknya otak kita itu ya.

Peristiwa-peristiwa anomali itu kan lantas membuat kita bertanya-tanya… sebenarnya kita emang tersinggung gegara merasa diejek, atau kita aja yang mengkotak-kotakkan keadaan ya? Buktinya ucapan yang sama dari dua orang berbeda bisa membuat hasilnya berbeda pula. Bukankah seharusnya hasilnya sama saja? Ucapan yang lebih parah dari sohib kita, karena ada keterikatan hubungan, membuat semua ucapannya terasa sebagai becandaan. Sementara itu ucapan dari orang yang nggak begitu akrab sama kita, langsung kita asumsikan hinaan.

BACA JUGA YUK :  Nasihat Bijak Tentang Hidup dari Manusia yang Nggak Berguna!

Memang kemudian situasi dan nada omongan juga bisa berpengaruh sih ya. Ada yang emang niatnya ngejek dan jelek-jelekin fisik kita—yang model begini sih kurang ajar—tetapi ada pula yang emang nggak sengaja dan asal nyeletuk aja gitu. Nah, nggak usah dibahas bagian yang emang niat ngejek itu karena sungguh bedebah jenis begituan. Yang patut diteliti ya yang kita tersinggung gegara orang lain nggak sengaja nyinggung kita itu.

Banyak pembahasan mengenai jangan mengatakan ini atau itu kepada seseorang karena bisa jadi orangnya tersinggung. Banyak pembasahan mengenai ucapan-ucapan yang sejatinya masuk kategori body shaming dan harus dihindari dalam percakapan. Iya, semua itu adalah upaya pencegahan. Semua itu adalah kontrol diri agar kita nggak menyinggung orang lain. Oke, kita bisa ngontrol buat nggak ngucapin kalimat-kalimat yang terindikasi masuk ke dalam body shaming itu, eh lha kalo orang lain yang justru ngucapin kalimat-kalimat itu ke kita, harus bagaimana menyikapinya? Kita nahan-nahan biar orang nggak tersinggung, eh kitanya yang tersinggung.

Nah, biar kita nggak langsung nyantet orang itu, kayaknya kita kudu inget baik-baik kalo sebenernya kita nggak terlalu mempermasalahkan hal itu. Ya buktinya itu tadi, sohib kita ngatain jidat kita kayak benua Asia juga kita fine-fine aja. Itu berarti sebenarnya kita nggak mempermasalahkan kondisi kita, kan? Yang kita permasalahkan adalah siapa yang mengucapkannya, kan? Nah, sebelum kita beraksi untuk nyantet orang yang nyinggung perasaan kita, kita kudu inget baik-baik bahwa nggak ada yang salah sama kondisi fisik kita. Semuanya netral, seperti yang selalu diajarkan dalam filosofi stoa. Semua ucapan dari siapa pun itu sifatnya netral. Presepsi-presepsi kita yang kemudian menentukannya negatif atau positif.

BACA JUGA YUK :  Babak Baru Kasus Novel : Bukti Rupa Buruk Hukum di Indonesia

Jadi ya santai-santai aja saat ada yang melakukan body shaming  ke kita. Toh kayaknya mereka nggak niat juga. Atau kalau emang ada yang sengaja buat ngatain kita dan berniat jatuhin mental kita, kudu ingat baik-baik kalo mereka bakal puas setelah kita merasa jatuh beneran. Selama kita hepi-hepi aja dan nggak kemakan omongan mereka, mereka malah yang bakal kecewa.

Ingat kata Tyrion Lannister di serial Game of Thrones, saat kita punya kekurangan yang harus kita lakukan adalah wear it like an armor, and it can never be used to hurt you! Gunakan kekurangan itu sebagai tameng kita, maka orang lain nggak bakal bisa gunain kekurangan itu buat nyakitin kita. Gimana caranya? Dengan mengatakan kekurangan kita itu sendiri sebelum orang lain mengunakannya untuk menyerang kita. Atau jadikan bahan lelucon sekalian. Misalnya ada yang bilang muka kita item kayak candi borobudur, ya timpali saja dengan bilang ‘Iya, kemarin abis niupin matahari!’ dengan gitu yang ngatain kita bakal kecewa karena kita nggak tersinggung.

Ya modelnya, ketawain diri kita sendiri sampai-sampai orang lain nggak bisa ngetawain kita lagi. Ya gimana mau ngetawain kita, orang kita aja udah ngetawain juga. Wear it like an armor, Bro!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *