Manusia-manusia di Kayangan

orang-orang di Kayangan dok. Gusti Aditya

susahtidur.net – Kayangan, NTB, 2019 – Tubuh saya susut belasan kilogram lantaran pola makan yang berubah drastis selama KKN di sebuah tempat kudus bernama Kayangan. Sanitasi buruk, seakan mendukung lemak saya terbakar dengan cara yang tidak benar. Lemak-lemak yang tidak saya restui untuk minggat dari tubuh saya. Diperparah, tempat untuk berak hanya ada satu, itu pun di balik reruntuhan pascagempa Lombok 2018 silam. Ya, satu tahun. Hampir satu tahun mereka mencoba bangkit dari keterpurukan.

Hal ini membuat saya dipaksa untuk berdarmawisata menuju 2006 silam. Di mana gempa membumi hanguskan Jogja dengan dahsyatnya. Rumah runtuh, sarana dan prasarana untuk umum lintang pukang dikejar-kejar getaran hingga menjadi abu. Namun, bedanya dengan Lombok—terutama Lombok Utara—Jogja hanya butuh waktu beberapa hari untuk bangkit. (Catatan: ini untuk Lombok Utara, saya tidak tahu kondisi Mataram saat itu).

Jadi, penyebab tubuh saya susut, amatlah beralasan. Pascagempa Lombok, lingkungan kotor adalah sahabat saya ketika KKN periode tanggap bencana. Menu makanan yang disodorkan pun seakan mengizinkan lemak-lemak dalam tubuh saya untuk pamit undur diri. Diare hebat ketika awal kedatangan ke Kayangan, adalah sambutan yang luar biasa.

Toh pada akhirnya tubuh saya kebal juga. Mau minum air dari pipa yang tercampur lendut, mie instan yang digado sampai remah-remahnya saya jilati tiada sisa, atau makanan tidak enak buatan rekan relawan, perut saya seakan menerima dengan lapang. Semisal bisa berbicara, bisa saja perut saya berkata, “Mau bagaimana lagi? Dari pada makan tanah.” Tapi, nih, ya, jika boleh jujur, tanah saja lebih menggugah selera ketimbang makanan buatan kawan relawan. Mohon dicatat.

Berada di tempat baru, itu tandanya kita harus menerima beberapa hal yang sedikitnya berbeda dari daerah asal. Satu hal yang saya dapatkan di Kayangan, puji tuhan mereka suka dengan lagu-lagu Didi Kempot dan juga musik dangdut. Bagi saya, dua hal ini merupakan perpaduan sempurna untuk melewati halang rintang terjal kerasnya dunia. Dan Kayangan, memfasilitasi itu semua.

Saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar posko. Baik untuk tidur, maupun ngobrol dengan warga desa. Bagi saya, di dalam posko adalah neraka. Sempak melayang di langit-langit tenda, handuk basah bergentayangan di atas kepala, dan diperparah dengan kawan-kawan yang tidur hanya berlapiskan kain seadanya. Maklum, lereng Gunung Rinjani, jika panas ya panas sekali, jika dingin ya hibernasi.

Sebuah ketabahan bagi kawan saya yang rela mendekam di dalam posko tiap waktu, tiap saat, main ponsel walau sinyal ndlap-ndlup. Keluar posko jika ingin berak dan makan saja. Sedang saya tidak bisa. Setidaknya, saya ingin melebur ke dalam masyarakat—arti lain, cari makan di rumah warga desa lah. Edan po sok-sokan sosialisasi mengusung konsep Marhaen ala Sukarno. Prek! Perut keroncongan adalah tanda bahwa tubuh sedang tidak baik-baik saja, Bung dan Sarinah sekalian.

Saya bertemu—sekaligus mengenal—manusia-manusia Kayangan dan itu adalah sebuah kehormatan yang teramat sangat bagi saya. Mulai dari kepala desa hingga anak-anak, mereka dekat dengan saya. Luka menganga di kaki, luka yang nantinya menjalar sampai berdiameter lima senti, itu saya dapat ketika jatuh main Benteng (semacam Gobaksodor khas Kayangan). Saya menjatuhkan diri lantaran ada anak-anak yang menghadang saya ketika saya menunjukan kecepatan dan akselerasi lari yang bisa dikatakan sempurna.

Pun saya mengenal kepala dusun yang unik sekali. Perutnya buncit, kepalanya hampir botak, dan jika tertawa seperti ada per di dalam perutnya. “Nghi nghi nghi,” begitu kiranya ketika beliau tertawa. Ia pernah berkata kepada saya, “Gusti kan jurusan filsafat, ya? tahu nggak alasan kenapa saya terlahir sebagai seorang manusia? Kenapa bukan sebutir bengkoang?” Seketika, hati saya mencelus luar biasa. Pertanyaan yang amat filosofis bak Sokrates yang sedang nggapleki Kaum Sofis.

Otak saya pun berputar sebisanya. Dengan kondisi lapar dan tidak mandi satu minggu karena pipa yang membawa air bersih terkena longsor, memunculkan berbagai kontemplasi. Mengapa Pak Kadus terlahir sebagai manusia? Kenapa tidak terlahir sebagai sebutir bengkoang saja? Sebuah keluh dan kesah dari Bapak Kadus kepada kosmos. Atas sebuah kegelisahan yang lahir perihal betapa rapuhnya seonggok manusia di hadapan penguasa—dalam artian sesungguhnya.

Buku-buku tua di pojok perpustakaan membuat saya sadar bahwa betapa membosankannya mereka. Kelas-kelas yang saya datangi, membuat saya berpikir, tak ada ilmu yang saya dapatkan dari sana. Katanya, jiwa terpenjara dalam tubuh. Plato, seorang jenius di zamannya, mengatakan bahwa nafsu berpengaruh dalam terpenjaranya jiwa di dalam tubuh. Tiba-tiba saya tertawa, bergidik ngeri sekaligus membayangkan sosok Pak Kadus berubah menjadi sebutir bengkoang.

Ada satu hal yang saya suka dari Kayangan, yakni sebuah tradisi—yang tidak resmi dikatakan sebagai sebuah tradisi—memberikan tamu yang berkunjung ke rumahnya dengan segelas kopi. Saya pun seakan memiliki sebuah tradisi—yang tidak resmi dikatakan sebagai sebuah tradisi—tiap pagi berkeliling rumah ke rumah demi segelas kopi.

Biji kopi di sana ditanam bagai kasih sayang seorang ibu yang memeluk anaknya dengan hati penuh dan tak kurang sepeser pun. Digeradak dengan penuh keyakinan seperti seorang ayah yang mendidik dan menempa dirinya terhadap lingkungan. Diseduh seperti seorang anak yang meraba dunia dengan buta dan tanpa arah. Lantas diseruput oleh saya, kesegaran dan ketenangan yang tiada kiranya.

Membicarakan orang-orang Kayangan, itu berarti membedah apa itu kemanusiaan. Terma yang selalu gagal dikaji oleh manusia modern seperti kita. Hidup bukan sekadar perlombaan apa itu kemenangan dan menghardik si kekalahan. Di Kayangan, hidup adalah perihal proses melihat lingkungan. Mengenal apa itu banjir, longsor, gempa, dan pasang naik yang mengartikan nelayan untuk bersedia untuk menahan lapar.

Pun dengan rekan relawan yang menurut saya amat menggembirakan. Mereka menangis tersedu di sebuah berugak sembari mendengarkan lagu Putih milik Efek Rumah Kaca. Mereka sedih di hari-hari terakhir ketika mereka hendak pulang. Saya mencoba mafhum, barangkali, mereka betah di sini lantaran Jawa itu amat jahat. Jawa banyak menghadirkan luka dan itu datangnya entah dari diri sendiri atau penguasa. Jawa adalah kelindan air mata yang tak pernah sudah. Tak pernah cukup.

Saya tak pernah kehabisan kabar bahagia kala berbicara mengenai Kayangan. Baik itu membicarakan mengenai alam atau hiruk pikuk kegiatan manusia di dalamnya. Suatu saat kelak, saya akan kembali ke sana. Dengan membawa pacar saya—ah, maksud saya, istri saya beserta anak saya kelak. Membawa mereka ke Kayangan, berarti menunjukan bagaimana menyenangkannya tempat ini.

Saya akan mengajak mereka ke sebuah SD. Tempat di mana saya menjelaskan apa itu Pancasila kepada mereka yang membaca saja belum bisa. Jangankan membaca, Burung Garuda saja barang langka bagi mereka. Ya, apalagi Sila Pertama sampai Sila Kelima, itu hanya sekadar pajangan yang menempel di dinding sekolah mereka yang sudah porak poranda.

Indonesia hanya sebesar Kayangan bagi anak-anak SD itu. Ah, bahkan dunia hanya sebesar desa mereka. Halaman rumah adat mereka. Namun saya yakin, isi kepala mereka adalah lautan lepas yang tak terbatas. Imaji mereka kelak akan membangun negeri entah bagaimana caranya. Mereka adalah permata yang bersemayam di dalam laut yang dalam. Laut yang tak pernah tersentuh oleh manusia. Kelak, istri dan anak saya nantinya akan membuka cakrawala perihal Indonesia yang tidak hanya Jawa. Bukan hanya Jawa dengan segala etos kerjanya. Mereka—istri dan anak saya kelak—akan sadar bahwa alam semesta tidak mengelilingi Jawa dan manusia-manusianya saja.

Saya akan menjelaskan kepada mereka—isteri dan anak saya kelak—perihal problematik pendidikan di sebuah tempat setara surga bernama Kayangan. Di mana cinta bukan lagi urusan personal. Cinta bukan lagi sebuah masa yang beratnya dapat ditimbang dengan perasaan. Cinta di sini, adalah pertaruhan dua keluarga. Lepas SMP nanti, dua insan belia akan dinikahkan dan berharap lepas sudah beban keluarga. Padahal, dua keluarga ini sedang menabung kesengsaraan yang lebih fundamental ke depannya. Ya, monster itu bernama pernikahan dini.

Saya akan membawa mereka ke tempat di mana saya tunggang-langgang menaiki dan menuruni bukit dalam keadaan kepising nahan berak. Yang pada akhirnya, saya memutuskan untuk berak di suatu hutan dan ternyata itu adalah hutan adat. Hutan yang disucikan bagi penduduk setempat. Benar, suci bukan hanya milik si putih. Suci milik segala warna. Suci tidak harus dibela-bela seperti ribuan orang Jawa mengitari Monas. Memangnya, Tuhan sudi dibela kalian, wahai manusia Jawa?

Mereka—istri dan anak saya kelak—juga harus tahu tempat di mana saya pernah melihat hantu hitam yang bernama Selaq. Anti logika mistika Tan Malaka yang saya agung-agungkan di Jawa, bergerak memberikan makna melalui empiri di tempat ini. Saya hampir kencing berdiri melihat hantu walau hantu itu tidak semenyeramkan para pejabat rakus di ibukota nun jauh di sana.

Pun saya akan berterima kasih lantaran mereka—istri dan anak saya kelak—lantaran mau saya ajak menuju rumah kedua saya. Sebuah rumah yang nantinya tempat saya pulang. Dilarung oleh perasaan paling senang, dihimpun dalam suka cita yang panjang. Saya yakin, dengan senyum paling manis, istri saya kelak akan berkata bahwa ada tempat yang menyamai keindahan Magelang.

Suatu malam disertai badai, dengan membawa kopi hitam manis, Inaq Kadus mengatakan kepada saya yang intinya, “Semisal kamu kalah di Jawa, pulanglah ke Tenggorong (desa tempat saya KKN). Di sini, kamu tak akan pernah kalah melawan dunia.” Saya menangis dalam diam. Perlahan saya seka air mata. Bagaimana bisa saya menemukan sebuah rumah dengan manusia-manusia baik nan tulus di dalamnya.

Dengan mengecup bibir isteri saya dan kening anak saya kelak, di Kayangan, saya akan berkata kepada mereka, “Lihatlah tempat ini dan segala problematik di dalamnya, niscaya kalian akan mengerti apa itu manusia. Secara utuh, tanpa kurang.”

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *