Bid’ah Moral

Masih dalam rangka mengorek-orek kembali ingatan lama, saya menemukan satu draft mangkrak dalam flashdisk lawas saya. Ternyata berisi sebuah tulisan yang masih sangat amburadul; sebuah catatan kecil atas keresahan dan perenungan-perenungan saya di masa awal menginjakkan kaki di Surabaya.

Masa-masa ketika saya mencoba mempertanyakan banyak hal terkait agama yang saya imanai; me-restart segala pengetahuan yang saya peroleh dari pesantren. Sudah saya ceritakan dalam tulisan-tulisan sebelumnya, kalau saya ingin merdeka dari konservatisme doktrin pesantren. Di mana salah satu jalannya adalah dengan merasa kosong kembali. Untuk itu, meminjam pernyataan Ahamad Wahib (pemikir dan pembaharu Islam yang terkenal dengan catatan hariannya: Pergolakan Pemikiran Islam itu), “Saya ingin menjadi muslim yang baik dengan banyak bertanya.”

Tulisan di flashdisk itu, karena bentuknya yang masih berantakan, memang tak pernah saya niatkan untuk dipublish. Tapi, ketika saya baca ulang poin-poinnya, saya kira cukup relevan untuk mengkritik cara pandang kelompok fundamentalis-takfiri yang cenderung suka membid’ahkan bahkan mengafirkan suadaranya sendiri yang seiman. Karena konteksnya berupa keresahan saya secara personal, semoga ada yang meluruskan kalau saya keliru. Setelah saya permak sana-sini, berikut saya hadirkan buat kawan-kawan:

Yang Lebih Berbahaya dari Sekadar Bid’ah Ritual

Betapa sangat mudah seorang muslim memberi stampel bid’ah pada ritual ibadah yang dilakukan oleh sesama muslim lainnya. Hanya karena ibadah tersebut diyakini tidak pernah dipraktikkan pada zaman Nabi Saw.

Untuk saat ini, baik, saya tidak akan membantah konsepsi-teoretis mengenai bid’ah-bid’ah ritual tersebut. Hanya saja, saya ingin mengajak kawan-kawan untuk sedikit merenung. Kalau memang hendak mengikuti jejak Nabi Saw., kenapa tidak totalitas sekalian? Kita terlalu sibuk mengklasifikasi mana ibadah yang dipraktikkan pada zaman Nabi Saw. dan mana yang tidak. Tapi luput memahami bahwa selain ibadah ritual, Nabi Saw. juga mengerjakan ibadah sosial. Kalau kita dengan alasan meneladani Nabi Saw. selalu berupaya menjauhi bid’ah ritual, kenapa kita tidak berhati-hati juga terhadap bid’ah moral? Yang tanpa kita sadari justru paling banyak kita lakukan.

TERKAIT:  Bodohkah Orang yang Beragama?

Sebelum sampai pada poin utama dari tulisan ini, izinkan saya memulainya dengan fakta seputar Nuaiman; seorang pemabuk yang sangat dekat dengan Nabi Saw. Dia sering makan “satu nampan” (istilah saya) dengan Nabi Saw. Dia juga sangat pandai membuat lelucon sehingga membuat Nabi Saw. terhibur. Suatu ketika salah seorang sahabat mencecar Nuaiman dengan predikat: tidak tahu malu, tidak punya harga diri, dan dinilai tidak pantas bersanding dengan Nabi Saw. hanya karena dia seorang pemabuk. Apa respon Nabi Saw?. 

“Jangan sekali-kali melaknat Nuaiman, sebab dia mencintai Allah dan Rasul-Nya” kurang lebih demikian. Betapa Nabi Saw menghendaki mencintai dan dicintai siapa saja. Kalau memakai kaidah fathu al-Bari: mencintai Allah dan Rasulullah tidak harus lepas dari dosa-dosa. Itu mustahil. Demikianlah Nabi Saw juga pernah berkata; “Barang siapa yang melafalkan tiada Tuhan selain Allah, dia masuk surga. Walaupun pezina, walaupun pencuri”. Nabi Saw. ingin menunjukkan bahwa kita memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam mencintai Allah dan Rasulullah. Cara dakwah yang sangat menggembirakan bukan?

Begitulah sepanjang yang saya ketahui, bahwa semasa hidup, Nabi Saw. selalu berbagi kegembiraan, menyenangkan orang lain, tidak pernah membenci, mencaci apalagi, dan selalu memberikan spirit optimisme kepada orang-orang di sekitarnya. Contoh yang sangat populer saja, Nabi Saw pernah ditanya oleh seorang wanita tua; “apakah di surga ada perempuan tua seperti saya?”. “Tidak ada”, kata Nabi Saw. “Yang ada hanya perempuan muda usia tiga puluhan tahun yang cantik-cantik”. Bayangkan saja betapa berseri-serinya hati perempuan tua tersebut.

Nabi Saw. juga terkenal tak pernah dendam dengan siapapun. Yang beliau miliki hanyalah samudera kemurah hatian. Contoh populer tentu, Nabi Saw. justru menjenguk orang yang telah melemaprinya batu setiap di perlintasan menuju masjid. Saking murah hatinya, Nabi Saw. bahkan rutin menyuapi makan pada pengemis buta yang tak henti-henti menghujat dan mencacinya. Nabi Saw. justru mendoakan Suku Mudhor ketika mereka dilanda paceklik selama kurang lebih tujuh tahun. Padahal mereka adalah kaum yang menghina Nabi Saw. dengan sebutan: majnun (gila), kahinun (dukun), sahirun (tukang sihir).

TERKAIT:  4 Alasan Mengapa Jadi Alumni Pesantren itu Nggak Enak

Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma juga pernah mendapat kemurahan hati dari Nabi Saw., padahal dia sering memfitnah Nabi Saw. sebagai seorang pemabuk. Bahkan Nabi Saw. dengan lapang hati memaafkan Wahsyi, padahal dialah yang membunuh paman Nabi Saw. (Hamzah) dalam perang Uhud. Atau kerelaan Nabi Saw. membentangan pelukan untuk Khalid bin Walid, panglima perang yang sebelum masuk Islam sangat ambisius membunuhnya.

Nabi Saw. bahkan dengan cuma-cuma menolak penawaran malaikat untuk menimpakan gunung (Taif dan Uhud, dalam cerita yang berbeda) kepada lawan perangnya yang telah membuatnya berdarah-darah. Atau ketika dalam peristiwa Fathu Makkah, apakah Nabi Saw. memanfaatkan momentum tersebut untuk berlaku semena-mena terhadap orang-orang non-muslim Makkah yang sudah tak berdaya? Sama sekali tidak, bahkan Nabi Saw. memberi maklumat bahwa sesiapa yang berlindung di rumah Abu Sufyan, maka akan selamat. Padahal saat itu Abu Sufyan adalah orang yang paling membenci Nabi Saw. Kurang lebih begitulah gambaran kearifan Nabi Saw. Tulisan ini tidak akan cukup dan tidak akan pernah mampu menuliskan keluasan hatinya.

Nabi Saw. juga tercatat senantiasa menjalin hubungan diplomatis dengan orang yang berebda keyakinan dengannya. Buktinya tercetus Piagam Madinah, nyatanya tercetus Perjanjian Hudaibiyah. Nabi Saw. juga terkenal “ringan mulut” dengan menyebut siapapun sebagai ahli surga, sepanjang mencintai Allah  dan Rasulullah, sekecil apapun, memiliki kesempatan yang sama  atas surga.

Terakhir, mungkin begini, ada satu fenomena di mana seseorang gampang sekali menuding bid’ah atas praktik keagamaan yang dilakukan orang lain. Apa to sebenarnya bid’ah itu?. Dalam konteks ini saya tidak akan membeberkan makna bid’ah dari bermacam-macam perspektif. Cukup begini saja, jika bid’ah adalah apapun yang tidak pernah dikerjakan atau diucapkan oleh Nabi Saw., nah, dari sekian contoh yang saya paparkan di atas, apakah yang tidak pernah dikerjakan atau diucapkan oleh Nabi Saw?

TERKAIT:  Agama, Jalan Pulang

Ternyata yang tidak pernah dikerjakan atau diucapkan oleh Nabi Saw. adalah menyakiti orang lain, pendendam, berkata kasar, mencaci, lebih-lebih fitnah dan adu domba. Bahkan Nabi Saw. tidak pernah menyinggung (menilai) wilayah personal seseorang. Selama hidup yang dilakukan Nabi Saw. juga tidak lepas dari menebar kegembiraan dan optimimse di antara umatnya. Artinya, jika hari ini justru banyak orang yang berlaku kebalikannya, berarti mereka telah melakukan bid’ah (moral). Sebab Nabi Saw. tidak pernah mengerjakan atau mengucapkannya. Jika ada orang yang balas dendam karena disakit, itulah bid’ah. Jika ada yang mencaci, memfitnah, atau memberi stigma buruk atas pencapaian personal seseorang itulah bid’ah. Dan ternyata, bid’ah moral menjadi yang paling sering kita lakukan.

Lalu muncul pertanyaan, kalau begitu berarti kita semua ini punya potensi melakukan bid’ah (moral), dong? Karena kita tidak mungkin lepas dari hal-hal tersebut. Karena sejatinya hanya Nabi Saw. yang maksum, sementara kita tentu tidak bisa lepas dari dosa dan kesalahan-kesalahan.

Nah, justru itu poin besarnya. Jika kita menyadari bahwa ternyata kita sendiri tidak lepas dari “bid’ah” (bi al-makna: kesalahan-kesalahan), lalu bagaimana bisa kita membid’ahkan (menyalahkan) orang lain? Ini tentu lucu.

Sebagai penutup, ada satu kutipan yang menarik dari Ibnu Athaillah al-Sakandari dalam Hikam-nya: Bahwa manusia berbuat baik saja masih buruk, apalagi berbuat buruk. Maka dari itu, sudahlah, berhenti merasa paling suci, berhenti merasa paling dekat dengan Nabi Saw., berhenti merasa paling kenal dengan Allah Swt. kalau semua itu hanya untuk mencerca dan merendahkan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *