Nuzulul Ganja

whirling-dervishes

17 Ramadhan tiba dengan seberkas cahaya yang turun di dalam kamarku. Cahayanya pendar, meringsak masuk tanpa menunggu aba-aba dari sang empu. Tak kuasa aku menahan laju cahayanya lantaran terang luar biasa menggerogoti seluruh bagian tubuhku. Bagian tergelap hingga yang paling terang, dilumat oleh cahaya itu. Tubuhku kini bak seberkas sinar yang menunggu bagian untuk padam. Nyatanya, tak pernah padam juga.

Jibril datang kepadaku di malam yang sudah aku sebutkan di awal. Ia sedang terduduk di pojok kasurku. Ia begitu kurus, namun tetap saja menampilkan tubuh yang dipenuhi dengan sinar. Jibril terdahulu telah mati, jibril yang ini, yang aku kenal, baru hidup selama lima abad. Begitu baru untuk ukuran seorang malaikat. Jibril bau kencur. Namun tetap saja, pendar sinar di kamar membuatku merasa kian sunyat. Jibril sedang membawa sesuatu di tangan kanannya, ia sedang membawa sekantung ganja, “Mau?” tanyanya kepadaku.

“Minggat kau, Jibril!”

“Seperti biasa, kamu galak jika aku ganggu ketika malam, Gus,” Jibril tertawa.

“Kau gila, Jibril. Selalu datang tiap malam. Kemarin membawa satu kantung daging babi, kemarin lusa daging anjing, sekarang apa? Kau membawa ganja? Astaga, Jibril!” pekikku.

Jibril mulai menggulung ganja-ganja tersebut, jibril mulai menghirupnya. Ia seperti menemukan kehidupan ketika tersedot dalam tiap hisapan ganja. Wajahnya nampak jelas menampilkan enak luar biasa yang tak bisa aku jelaskan. “Obat-obatan terbaik yang dibuat oleh Tuhan, tega kau biarkan? Ini adalah rempah-rempah paling nikmat sepanjang masa. Orang-orang dari Negeri di Atas Langit sana, rela melakukan ekspedisi hanya untuk rempah-rempah seperti ini. Dan kamu tak mau, Gus?”

“Aku sedang tidur dengan nyaman sebelum berkas sinarmu itu merusak segala mimpi indahku tentang seorang perempuan yang mencoba membunuh Muhammad!” kataku dengan begitu marah.

“Ah, wow, mimpi yang baik,” katanya. “Kenapa perempuan itu mencoba membunuh Nabi?” tanyanya sambil menghisap ganja, menghembuskan di kamarku yang tak ada besarnya seperti kandang babi di Gereja Kanisah. “Nabi tak punya salah, kenapa coba dibunuhnya?” tanyanya lagi dengan serentetan hembusan asap hasil bakar ganja yang ia punya.

Aku menggaruk kepala, menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Jibril ada benarnya. “Hmm, mungkin karena banyak orang yang memanfaatkan dalil sang Nabi untuk tabiat buruk manusia. Seperti kyai Djurkiah dari Kudus, misalnya. Ia meniduri perempuan atas nama dalil sang Nabi, dan itu jahat sekali,” kataku.

TERKAIT:  La Feki dan Cinta yang Kelam

Jibril awalnya tak peduli. Lambat laun ia terjun dalam sebuah obrolan dalam membicarakan kyai bangsat itu. “Aku dengar, kabar terakhir, kyai itu tengah mandi di telaga Firdaus bersama para bidadari berdada montok,” Jibril terkekeh pelan, melihat mataku yang melongo mempertanyakan keadilan Tuhan. “Kau pasti hendak berkata bangsat, bajingan, atau apapun itu yang berbau kasar. Iya?” Jibril nampak seperti terbatuk-batuk ketimbang terkekeh-kekeh.

“Nikmat betul bersetubuh di Surga Firdaus. Taman Eden, kan? Wah, wah, jika sudah matang, aku mau menikmati seluruh gadis di Kota Jogja, seperti Djurkiah yang menimati gadis-gadis lugu di pinggiran Kudus,” kataku. Bahkan sekarang memanggil menggunakan gelarnya—kyai—saja, aku tak mau. Atau tak mampu? Atau jijik? Ah, entah.

Jibril tertawa lagi. Ia menggaruk kepalanya yang botak. Ia seperti tuyul alih-alih malaikat. “Ketika sedang mandi, ia digeret oleh para penjaga surga. Katanya, Tuhan ingin bertemu. Terdapat sejumput laporan yang khilaf terselip dalam berkas surga. Terdapat serumpun pengaduan dari perempuan-perempuan yang pernah ditiduri si kyai sialan itu. Dan ia dijebloskan dalam neraka paling dalam, Neraka Hawiyah.”

“Mampus!” kataku.

“Ya, mampus! Namun aku ingin bertanya, ada alasan penting bahwa si perempuan—di mimpimu—itu hendak membunuh Nabi? Nabi tidak salah, kan? Ia hidup di sebuah zaman di mana Islam masih sedikit pengikutnya sedang di kyai itu, lha wong Islam saja sudah menjadi mayoritas, bukan?” Jibril seperti tersenyum. Setelah itu kami banyak diam. Aku tak mampu menjawab pertanyaan Jibril.

Jika dipikir, benar juga kata Jibril. Perempuan itu salah jika hendak membunuh Nabi. Memang kyai Djurkiah saja yang kebetulan brengsek setengah mampus meniduri perempuan-perempuan sintal seantero Kudus. Dengan memberikan sebuah jaminan, tidur dengannya adalah bentuk surgawi dunia yang menganga untuk kehidupannya.

Aku tak bergeming di dalam kamar, Jibril masih saja menghembuskan asap demi asap atas nama selisong ganja. “Mengapa tak kau sedot saja,” kataku, mengalihkan pembicaraan tentang seorang perempuan yang ingin membunuh Nabiku. Jibril menggelengkan kepalanya, sinarnya masih saja berpendar begitu menyilaukan.

“Kau pernah dengar cerita perihal jenazah-jenazah yang dilarung di Sungai Abiseka, Gus?” Jibril bertanya kepadaku. Jahat nian pertanyaannya perihal Sungai Abiseka yang selalu berwarna hitam nan kelam, mengangkut mayat demi mayat yang terbuang. Para bromocorah rendahan, garong yang memikul banyak daerah kecil namun tak berarti, hingga hewan-hewan yang diritualkan dalam sebuah pemujaan, dilarung di Abiseka yang sedang kami bicarakan ini.

TERKAIT:  Puasa yang Sesungguhnya Baru Akan Dimulai

Aku menggeleng tanda tak pernah paham. Aku tak tahu Sungai Abiseka itu di mana. Apakah nyata, atau hanya termaktub dalam naracerita saja, aku tak pernah paham. Apakah benar Janaka moksa di sana, atau hanya epos belaka. Semisal itu adalah kenyataan, Janaka ternyata hanya punya paras yang tampan saja, namun tidak dengan otak yang cemerlang. Bagaimanapun, Abiseka bau luar biasa.

“Di sana dilarung jenazah-jenazah yang tak pernah bertuan. Arwah mereka menguap, tak pernah sampai nirwana,” Jibril membuka cerita. Sebuah cerita pembuka yang tak pernah ada kelanjutannya. Aku seperti sedang menyimak perdebatan antara Ibn Rusyd dan Al-Ghazali. Perdebatan yang tak pernah bermuara. Sama seperti Abiseka yang tak pernah lelah menerima jenazah, tanpa ujung yang jelas.

Jibril, dengan badan kurusnya dan cahaya pendar, menyodorkanku satu kantong ganja dari balik saku celana cinos miliknya. Aku menggelengkan kepala. “Kau gila, Jibril! Di malam yang suci seperti ini kau menawariku sekantong ganja kering. Lebih parahnya, tanpa alat untuk menghisapnya,” kataku memprotes. Jibril hanya diam mematung, ia terkekeh sekali, lalu melanjutkan aktivitas menikmati ganja yang tak pernah usai nikmatnya.

Kini wajahnya menjadi nampak ayu ketimbang rupawan. Jibril bak Amicta di Bumi Rempah sana. Amicta yang tanpa cela dari balik Gereja yang pagarnya tinggi menjulang. Zora, puteri Kudus, hanya bagian remah kecantikan si gadis yang mendekam di biara Pulau Cinta. Amicta si cantik tanpa batas, tanpa halang, tanpa rintang. Jibril nampak seperti itu, lantas berubah lagi menjadi wajahnya yang menjemukan. Amicta hilang perlahan.

“Opulastala,” kata Jibril. “Opulastala yang perlahan sirna dan termakan oleh kedatangan Islam di Pasai. Lalu galleon-galleon datang, membawa pesan damai atas pesan Kristus. Mereka menawarkan barang-barang yang ia jarah dari Persia, lantas ia berikan untuk Pasai, gerbang segala gerbang, dan masuk lebih dalam ke sebuah tempat yang nantinya dikenal sebagai Nusantara. Opulastala lenyap, hukum agama masuk melingkupi semua. Demi Bapa, Putera, dan Roh Kudus,” kata Jibril.

Aku hanya bergidik tanda tak paham. “Kau ini bicara apa, Jibril? Efek dari ganja?” tanyaku. Sosok Jibril yang pernah menyerupai seekor anjing bermata biru dan dibawa masuk ke Masjid. Aku tak tahu istilah Islam-nya apa, yang aku tahu bahwa Jibril baru ini banyak bertindak usil.

TERKAIT:  La Feki dan Orang-orang di Angkringan Tomia

Jibril hanya tertawa. Katanya, aku disuruh melupakan apa katanya mengenai Opulastala. “Gus, ini adalah Nuzulul Ganja. Malam seribu ganja. Gus, tahukah bahwa yang sedang aku lakukan ini salah?” Aku hanya menganggukan kepala, Jibril meneruskan, “Namun nyatanya tidak. Agama yang masuk di negerimu ini, seakan tenggelam dalam satu arus kebenaran. Ada lima sungai besar, kan? Masing-masing sungai, yang dianggap hanya satu arus saja. Padahal, kebenaran tidak hanya berasal dari satu arus saja.”

Aku mengernyitkan dahi. Bagaimanapun, menurutku, agama kini telah melahirkan berbagai sub-nya. Aturan-aturannya. Satu agama besar, punya sub-agama lagi, dan bukan tidak mungkin sub-agama itu melahirkan sub-sub-agama di bawah-bawahnya. Mengerikan ketika seorang manusia beragama atas nama sebuah dogma yang lebih rinci lagi.

Jibril membenarkan flanel yang ia kenakan. Botaknya kian memancarkan cahaya. Ia seperti bocah berumur belasan tahun ketimbang ratusan tahun. “Aku pergi dulu,” katanya. Ia mengambil parfum Axe yang berada di kamarku, menyemprotkan di flanel yang ia kenakan. Ketiaknya dua kali. “Aku mau melintasi waktu. Menciutkan cahaya. Menerobos detik dengan satuan yang lebih kecil. Satuan di dalam satuan waktu.”

“Hendak ke mana kamu, bodoh? Datang mengganggu orang sedang tidur, lalu pergi dengan meninggalkan sehimpun pikiran yang tidak menentu.”

“Sumeria, Gus,” katanya. Matanya menafsirkan ruangan ini. Mata yang hendak menyuruhku untuk bertanya, ada apa dengan Sumeria.

Dengan terpaksa, aku bertanya, “Ada apa dengan Sumeria?” yang aku tahu dari Sumeria, adalah label untuk band post-hardcore seperti Asking Alexandria, Black Veil Brides, dan Sleeping with Sirens.

“Aku mau mengambil ganja yang lebih nikmat di sana. Aku mau bertemu dengan seorang petani baik hati yang memandang kebenaran dari berbagai sudut pandang. Seorang petani yang lebih bijak ketimbang pemuka agama seperti Djurkiah. Petani dari Sumeria, Enkimdu,” kata Jibril, berlalu, sinarnya menembus langit-langit kamarku. Menembus langit. Menembus angkasa. Jibril pergi ke Sumeria, sedang aku melanjutkan tidur ditemani sayup-sayup suara lantunan ayat dari surau paling dekat.

*) Cerita-cerita ini dinukil secara bebas dalam buku “Kabar Buruk dari Langit” karya Muhidin M. Dahlan.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *