Kenali Latar Belakang Pasangan Sebelum Terjebak dalam Hubungan Toxic

Photo by Prince Akachi on Unsplash

Toxic Relationship atau yang biasa kita sebut dengan Hubungan Toxic adalah istilah untuk hubungan tidak sehat. Yang mana hubungan ini dapat mengakibatkan kerugian bagi satu pihak maupun kedua belah pihak. Nggak hanya soal materi dan waktu,  namun juga dapat berimbas ke psikologis seseorang. Bahkan hal yang paling buruk adalah ketika seseorang terlepas dari hubungan toxic, ada yang sempat mempunyai niatan untuk bunuh diri. Seolah seperti mereka menyesal dengan kebodohan yang mereka buat saat bersama dengan si pacar toxic tersebut.

Ada seorang narasumber yang mempunyai pengalaman menjalin hubungan toxic. Ramadhany Sekar, 22 Tahun. Wanita yang akrab dipanggil dengan sebutan Sekar ini, sudah hampir sembilan tahun terjebak dalam situasi toxic saat menjalin hubungan. Alasannya pun karena sebatas sayang dan ingin mengubah sifat kasar lelakinya, menjadi sosok yang beliau harapkan.

Saya memulai dengan pertanyaan sangat santai, tentang dengan siapa beliau melakukan hubungan toxic tersebut. Ia menjawab “Teman SD sih, Mas. Dari tahun 2012 sampai 2021. Putusnya baru awal tahun kemarin.” Dengan raut muka yang sedikit sumringah, Sekar menuturkan banyak hal tentang apa saja yang dialami olehnya saat menjalin hubungan bersama laki-laki toxic tersebut.

“Kerasanya pas awal-awal putus itu, Mas. Pernah rasanya sampai pengen ngilang aja dari dunia. Sampai bolos masuk kerja beberapa hari buat nenangin diri.” Efek dari menjalin status pacaran dengan orang toxic, banyak dirasakan oleh kaum perempuan. Nggak hanya Sekar, bahkan jika dilihat di sosial media seperti instagram, twitter dan tik-tok, banyak perempuan yang mengunggah story atau thread semacam pengalaman menjalin hubungan toxic.

Nggak hanya ingin menghilang saja, bahkan saya pernah menemui thread soal pengalaman menjalin hubungan toxic sampai si korban merasa ingin bunuh diri. Ini bukan seolah seperti sinetron, ya. Tapi maksud saya begini. Ketika dua orang sedang menjalin hubungan dan ada salah satu yang merasa hubungan itu adalah hubungan yang tidak sehat, maka berlandaskan sebuah perasaan sayang itu sudah nggak berlogika. Merelakan apa pun demi kata cinta. Yang terpenting adalah “Kita bisa bahagia sama-sama.”

TERKAIT:  Solo – Jogja di dalam Sebuah Lanskap Gerbong KRL

“Kalau saya sih berharap biar pasangan bisa berubah jadi peka, sedikit lebih halus dan nggak pernah kasar lagi, Mas. Biar ada timbal baliknya gitu. Tapi tetap saja nggak berubah. Lha tapi ya itu tadi. Sudah telanjur sayang,” imbuh Sekar kepada saya.

Nggak lebih dari sekadar ekspektasi yang dengan kata lain sebuah harapan agar pasangannya mampu untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Namun bagi saya, hal semacam ini perlu diperbaiki dengan sikap dan pandangan yang tegas. Akan tetapi, perempuan yang terjebak dalam hubungan toxic terlalu takut dengan ancaman dari pasangannya. Seperti misalnya ketika mengalami sebuah masalah, ada sebuah ancaman akan mencelakai pihak keluarga si perempuan tersebut. Atau ancaman lain yang berupa psikologis perempuan itu. Ya, laki-laki memang pandai dalam mempermainkan pemikiran wanita. Dan itu jelas.

Sempat Sekar mengutarakan bahwa beliau sudah terlalu nyaman dengan laki-laki tersebut. “Satu frekuensi juga. Jadi dia itu seperti pelarian ketika saya punya problem keluarga atau teman gitu, Mas. Dan saya kira, dia bakalan serius sama hubungan ini. Wong sudah berani ngatur-ngatur saya. Over protective gitu. Dan sekasar-kasarnya dia tetap tak maafin.” Hati memang nggak pernah bohong. Apalagi soal masalah cinta.

Pernyataan Sekar membuat saya manggut-manggut dan sedikit khawatir. Masalahnya, beliau berharap agar hubungannya dapat melangkah ke jenjang serius. Bukankah hal ini malah akan menjadi beban psikologis pada beliau? Ya jelas. Dari pihak pasangan jelas-jelas belum siap untuk mengontrol emosinya. Ada masalah sedikit marah. Ada masalah lagi, mengancam untuk mengakhiri hubungan. Jika dilihat ke depannya, maka hubungan seperti ini justru akan membuat kasus angka perceraian semakin banyak.

TERKAIT:  Terbawa Suasana Romantis, Demo Aliansi Rakyat Bergerak di Jogja Berjalan Damai

Bukannya saya seorang peramal yang mampu melihat masa depan seseorang. Tapi maksud saya dalam kesiapan dua belah pihak, ada salah satu pihak yang benar-benar belum siap untuk “Menjaga” pasangannya untuk hidup bahagia. Lha wong setiap hari dimarahin terus-terusan agar satu pihak merasa dijadikan prioritas. Sedangkan pihak perempuan masih mengurus anak. Belum jika mengalami ekonomi yang sulit, perempuan harus bekerja, mengerjakan pekerjaan rumah, dan lain sebagainya. Seolah seperti perempuan hanya diperbudak untuk kesenangan laki-lakinya. Padahal, jika dijabarkan dalam ilmu rumah tangga, suami dan istri seharusnya saling membantu untuk menuju keluarga yang lebih baik lagi.

Sementara dampak dari menjalin pacaran toxic adalah satu, mengakibatkan gangguan psikologis. Yang mana dalam hal ini, perempuan akan riskan untuk mempunyai pemikiran agar mengakhiri hidup lebih cepat. Dengan perasaan bodoh yang mereka miliki saat menjalin status pacaran, mereka akan berpikir bahwa yang mereka lakukan selama ini nggak lebih dari sekadar kata sia-sia. Mengorbankan waktu, cita-cita, dan bahkan sampai kebahagiaan.

Kedua dalam perihal karir, perempuan akan merasa bahwa dirinya terhalang oleh kebebasan berekspresi. Maksudnya adalah sifat over protective yang diberikan oleh pasangannya, membuat si perempuan tersebut merasa gagal dalam hal berkarir. Entah itu wisuda yang seharusnya maju satu tahun, kenaikan jabatan di perusahaan, atau hal lainnya yang dapat menghambat kemajuan karir perempuan yang diidam-idamkan.

Ketiga, jika nekat untuk dilanjutkan dalam jenjang serius, maka akan berdampak pada rumah tangga yang rawan kasus perceraian. Dampaknya pun berimbas kepada anak-anaknya. Entah anaknya yang mengikuti perilaku kasar ayahnya, menjadi seorang yang rendah diri karena setiap hari mendengar pertengkaran ayah ibunya yang bermain fisik, atau bisa saja malah menjadi seorang pemabuk. Naudzubillah.

TERKAIT:  Kenangan Nyanyian Tentara dan Mahasiswa Tertembak di Kampus Atma Jaya Jakarta November 1998

Perilaku anak dalam hal rumah tangga memang perlu untuk diberikan edukasi yang maksimal. Agar tidak berperilaku buruk seperti ayahnya yang toxic misalnya. Dengan kata lain, jika menjalin hubungan toxic yang akan dilanjutkan ke jenjang pernikahan, sebaiknya segera dimatangkan terlebih dahulu untuk salah satu pihak, agar tidak berimbas kepada anak-anaknya.

Keempat adalah perubahan sikap yang tak mau lagi mengenal sesosok lawan jenis. Ya, masih banyak di luar sana perempuan yang nggak mau lagi mengenal sesosok laki-laki. Bahkan, hal ini mengakibatkan banyaknya kasus penyuka sesama jenis di berbagai belahan dunia. Seolah seperti trauma akan luka masa lalu yang diberikan oleh pasangannya, membuat dirinya tidak lagi dan selamanya tidak ingin mengenal laki-laki.

“Maka dari itu, saya berpesan kepada banyak perempuan di luar sana agar hati-hati memilih seorang pasangan. Nggak bermaksud untuk melarang pacaran. Hanya saja, sebelum menjalin hubungan dengan lawan jenis, ketahui terlebih dahulu latar belakangnya sebagai seorang laki-laki. Nggak hanya asal ganteng dan membuat nyaman sampai akhirnya jatuh cinta dan sulit untuk melepas. Takutnya malah akan terjebak dalam situasi hubungan toxic. Maju salah, mundur juga salah.” Pesan Sekar untuk para perempuan.

Grantino Gangga

Tinggi Badan: 185cm

View all posts by Grantino Gangga →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *