Islam Pinggiran Ala Gus Baha

A Sufi Dhikr as illustrated in Brown (1868)

Islam Pinggiran – Dalam setiap momen Ramadan, selalu saja ada orang-orang ngerelijius yang sangat menyebalkan; yang merasa menjadi hamba Tuhan paling taat dan rajin beribadah; merasa diri paling sempurna menjalankan sunnah dan anjuran-anjuran dalam bulan Ramadan; dan pada batas paling nggateli, menghakimi model berpuasa yang dilakukan oleh orang lain.

Yang jamak terjadi, mereka yang mengisi waktu senggang di bulan suci ini dengan ngaji, tadarus Al-Quran, atau entah amalan ibadah apapun itu, selalu menatap sinis orang-orang yang mengisi Ramadan dengan cara yang amat pasif. Yang sering saya alami misalnya, saya, alih-alih tertunduk berzikir, atau duduk bersila sambil mendaras ayat-ayat Allah, lebih banyak menghabiskan waktu senggang saya dengan tidur.

“Puasa-puasa itu mbok ya digunakan buat memperbanyak ibadah, tadarus Al Quran. Puasa og mung tura-turu wae!” adalah satu jenis teguran menyebalkan yang sering dilontarkan kepada saya sewaktu masih di pesantren dulu.

Dengan kondisi perut keroncongan dan tenggorokan yang terlampau kering, juga badan lemes karena jadwal ngaji yang luar biasa padat, tidak jarang saya meladeninya dengan sebuah ungkapan populer, al-naumu rahmatun. Bukankah tidurnya orang puasa itu juga terhitung ibadah? Lalu seorang santri yang menegur saya itu akan membalas dengan ketus, “Ya bukan berarti jadi pembenaran situ buat tidar-tidur thok, to, Leee! Tidur yang dihitung ibadah itu tidurnya orang alim. Kamu itu memang alim apa? Alimin?!”

Sebagai orang dengan iman medioker—malah cenderung under average—saya sempat berpikir, betapa sulitnya mencari secuil pahala dan setitik nilai ibadah di bulan Ramadan, kalau pahalanya saja sudah diklaim mereka-mereka yang merasa paling rajin dalam mengerjakan ibadah. Ah, kenapa hukum-hukum Allah terkesan seserius itu untuk persona-Nya yang katanya pemurah dan pengasih?

TERKAIT:  Distopia Masyarakat Teistik Vis a Vis Utopia Wacana Sekularisasi Total

Bagi sebagian orang, mungkin akan terpacu gairah relijiusitasnya manakala mendapat teguran semacam tadi, sehingga bakal mencoba menjadi lebih rajin untuk beribadah. Tapi, lain cerita untuk golongan orang-orang seperti saya, yang sekali dihakimi justru akan semakin malas berurusan dengan hal-hal berbau relijius, menjadi skeptis dan bahkan cenderung menjauh. Persis seperti anak kecil yang malas ke masjid lagi karena pernah dianggap sebagai biang kegaduhan dan menganggu kekhusyukan ibadah orang-orang dewasa.

Yang terjadi selanjutnya persis seperti ungkapan penyair Persia abad 11, Saadi Shirazi, dalam karya monumentalnya, Goelistan, “Ribuan orang yang (akhirnya) jauh dari Tuhan, adalah korban dari ribuan orang lain yang merasa lebih dekat dengan Tuhan”.

Islam Pinggiran Ala Gus Baha

Beruntung, di tengah masifnya gerakan salafisme-konservatif dengan narasi Islamnya yang serius, ada Gus Baha yang seolah dikirim Tuhan untuk merangkul orang-orang Islam Pinggiran (istilah saya sendiri untuk menyebut orang-orang Islam di jalur pinggiran: tidak terbiasa beragama dengan cara paling khusyuk. Atau mereka yang beragama dengan biasa-biasa saja, dan beribadah ala kadarnya).

Saya—meski sudah jarang mengikuti ceramah keagamaan model pesantren sejak tiga tahunan yang lalu—tidak bisa tidak menjadikannya sebagai sumber rujukan di samping nama-nama lain seperti Cak Nun dan Gus Mus. Pertimbangan saya, Islam di tangan mereka, dalam konteks ini lebih khusus adalah Gus Baha, terkesan amat sangat mudah dan menyenangkan. Ibadah, mencari pahala, ternyata tidak melulu harus dengan cara-cara yang serius dan menuntut kekhusyukan tingkat tinggi. Kok kayak mencari gampangnya saja? Ya memang. Karena memangnya apa Islam itu kalau bukan kemudahan? Begitu yang bolak-balik disampaikan Gus Baha

Dalam banyak kesempatan, Gus Baha sering menyinggung tentang dua metode baragama. Pertama, merujuk pada Syekh Abdullah al-Haddad yang menekankan kekhusyukan yang diikuti dengan ketakutan-ketakuan atas kurangnya amal. Ini terlalu elitis, hanya bisa dilakukan oleh golongan—dalam istilah al-Ghazali—khawas dan khawas al khawas (kelas santri, ulama, atau yang beriman tebal).

TERKAIT:  Bid'ah Moral

Metode pertama kurang tepat jika diterapkan untuk golongan awam (pinggiran). Alih-alih nyaman beribadah, kemungkinan terburuk justru menjerumuskan pada pesimisme terhadap belas kasih dan kemurahan Allah Swt. Maka, untuk kelas pinggiran; yang imannya biasa-biasa saja, lebih cocok dengan metode kedua, yakni meniru Abu Hasan al-Syadzili: beragama dengan santuy dan menyenangkan. Agar orang-orang (pinggiran) ini, yang ibadahnya ala kadarnya tetap merasa diterima di sisi Allah Swt.

Ramadan Tak Melulu Soal Ibadah yang Serius-Serius

Kembali ke soal kebanyakan tidur di bulan Ramadan, Gus Baha menjelaskan, jika cara pandang kita diperluas sedikit, mestinya kita akan menemukan sebuah nilai ibadah yang sangat subtantif.

Begini, orang-orang yang mengisi waktu senggang untuk salat sunnah, zikir, tadarus Al-Quran, dll, pada dasarnya kan untuk menghindari diri dari berbuat maksiat di bulan Ramadan. Lalu kenapa esensi serupa tidak digunakan untuk menilai orang yang memilih memperbanyak tidur di bulan Ramadan? Karena menurut Gus Baha, dengan tidur seseorang secara otomatis juga tengah dalam kondisi tarku al-maksiat (meninggalkan maksiat), tarku al-nggosip, dan tarku larangan-larangan Allah yang lain. Entah telah diniatkan demikian atau tidak, yang namnaya meninggalkan maksiat atau larangan Allah tetap saja dihitung ibadah.

Betapa banyak potensi maksiat yang akhirnya ditinggalkan gara-gara tidur. Saya misalnya, kalau saya terjaga, karena iman saya terlampau tipis, kadangkala saya tergoda buat mokel (batalin puasa). Tidur bisa membuat saya lupa dengan rasa lapar dan dahaga, hingga akhirnya bisa menuntaskan puasa sampai magrib. Menurut Gus Baha, tidak ada masalah dengan itu, dan lagi lagi, betapa tidur ternyata bisa membuat seseorang bisa tetap konsisten mengerjakan kewajiban dari Allah Swt.

Menjadi kontradiktif justru kalau ada orang yang ngebut tadarusan, ngebut zikir, tapi pada saat bersamaan justru mencela bahkan menghakimi wilayah personal orang lain. Lebih parah lagi, merasa lebih suci dan merasa lebih taat dalam beribadah. Padahal jelas-jelas Allah Swt mengatakan dalam Q.S. al-Hujurat: 13, bahwa hanya Allah sendiri yang tahu dan berhak menilai kadar ketaqwaan hamba-hamba-Nya.

TERKAIT:  Wahdat al-Adyan: al-Hallaj dan Narasi Anti Solipsistisme

Lagian, kalau mau mengerjakan amalan-amalan puasa secara serius dan khusyuk, mbok yang total sekalian. Puasa itu kan mencegah dan mengendalikan diri, kok masih nggak bisa mencegah lisan dan mengendalikan hati dari menghakimi orang lain dan dari perasaan paling benar sendiri. Sama saja bohong!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *