Masih Bisakah Kita Hidup Bahagia di Jogja?

Photo by Boris Dunand on Unsplash

Hidup di Jogja – Saya cinta sekali dengan Jogja. Bahkan, ketika kecil, saya bercita-cita menjadi Gubernur DIY dan mimpi itu harus karam lantaran banyak hal. Eh, tidak banyak hal, sih, yang menjadi hal hanya satu, dan itu tidak bisa diganggu-gugat. Ah, tapi apa sih yang bisa diganggu-gugat dari kota ini selain dana pemugaran Tugu yang dipakai tiap akhir tahun? Anyways, saya tetap suka dengan kota ini teramat sangat.

Saya dan Jogja, mungkin saja seperti Louis Althusser memandang Jacques Lacan. Dengan mengubah sedikit apa yang disampaikan dalam menyanjung si psikoanalisis tersebut, begini cara saya menyanjung Kota Jogja, “Di luar Jogja, saat ini tidak ada kota satu pun.” Berlebihan? Ya, seberlebihan itu. Bukan bermaksud flexing, namun Hanoi, Kuala Lumpur, sampai Bangkok pernah saya sambangi dan jebul lebih baik dari Jogja, eh, maksud saya, tidak ada yang sebaik kota ini.

Lantas permasalahan UMR menjadi topik paling seksi dan bisa saja menjadi senjata Prabu Yudianto guna menjadi seorang penulis esai terbaik, selama itu berhubungan dengan Kota Jogja. Prabu, ya, nama yang harus Anda semua ingat lantaran beberapa tahun lagi…, yah, lihat saja gejolak apa yang akan ia hasilkan selain sambat gawean yang mengurangi produktivitas menulisnya.

Hampir tiap pertemuan, Prabu ada di samping saya atau setidaknya ada di depan saya. Ia membawa awan badai berupa bumi hangus romantisasi Jogja. Mulutnya menyambar-nyambar, sembari mengunyah telo manis yang ditaburi gula-gula, banyak bercakap tentang bagaimana seharusnya sebuah kota menjalankan ritus khususnya. Di sebuah kafe kelas jelata yang kumuh, matahari menyingsing bersama umpatan-umpatan yang Prabu hadirkan. Sunset di tanah Monarki.

TERKAIT:  Petuah Ajaib Buat yang Ingin Merantau ke Jogja

Bagi saya yang terlahir sebagai pecinta Jogja, mendengar apa yang Prabu ucap, tentu saja bahagia. Lantas muncul sebuah pertanyaan, “Masih bisakah kita bahagia di Kota Jogja?” Sebuah pertanyaan yang hadir begitu saja ketika saya bertanya kepada diri sendiri, lingkungan seperti apa yang membuat saya bahagia? Kondisi apa yang membuat saya sejahtera? Dan di titik paling sunyi, apakah kondisi Jogja saat ini sudah membuat saya bahagia dan sejahtera?

Dengan menunduk yang paling khusyuk, jawabannya tentu saja sudah bahagia hahaha. Persetan dengan apa yang dijabarkan oleh Prabu lantaran saya memang merasakan bahagia dan sejahtera bahkan sejak dalam kandung badan. Loh, benar kan, memang kita sejak kecil sudah diberi gambaran “bahagia” dan “sejahtera” itu seperti apa? Kita tak punya gambaran lain selain merongrong seperti ini. Jangankan “bahagia”, lha wong apa itu “menderita” saja kita tak paham, kan?

Begini,

Yang kita paham adalah konsep menerima keadaan. Entah bahagia, menderita, suka, duka, semua samar atas nama rasa menerima. Kita seperti dilarang memasuki kondisi sadar. Pil demi pil, arak demi arak, ditenggak dan ditelan dengan paksa. “Ayo, mabuk! Jangan pernah sadar! Ini adalah kondisi terbaikmu.” Begitu kiranya kondisi nrimo ing pandum.

Apakah konsep seperti ini baik? Yah, sayangnya baik, tuan dan puan. Baik untuk masyarakat yang enggan bergerak maju, baik pula bagi pemerintah yang malas. Benar, yang saya maksud adalah Kamboja di bawah masa kekejaman Pol Pot, bukan Jogja lho ya. Saya sih enggan berkomentar perihal apakah konsep nrimo ing pandum ini baik atau buruk walau KTP saya Jogja. Ayolah, bukan hanya buzzer Istana saja yang menyebalkan, Kerajaan pun serupa.

TERKAIT:  Hotel Terbaik di Jogja untuk Nganu-nganu Pas Valentine

Di masa Pol Pot, Kamboja seperti negara boneka. Rakyatnya seperti bidak catur yang bisa dipindah sesuai keinginan pemerintah. Dilihat dari luar bahagia, dari dalamnya ya bau busuk semerbak bertaburan. Apa yang bisa diandalkan dari konsep nrimo ing dawuh Pol Pot seperti ini? Untungnya ya Kamboja sudah melewati kondisi babak belur seperti ini. Mereka sudah meraba-raba apa itu melawan kesenjangan, kemiskinan, dan ketidakadilan “monarki”. Wah, bahagia betul masyarakat Kamboja. Untung saja, ya?

Tapi, ayolah akui saja bahwa nrimo ing pandum masyarakat Jogja ini memang jalan yang sudah baik dan benar. Dari pada diserang oleh buzzer, oleh mereka yang selalu bertanya KTP mana, dan oleh mereka yang “sudah sejahtera” dengan segala privilese yang melingkupinya. Sudah, nrimo saja. Kalau tidak mau, aku selikidi kamu kelahiran mana, lho.

Ah, ternyata masih bisa ya kita bahagia di Jogja? Eh, iya, kan?

Benar kata akun-akun romantisasi centang biru, Jogja ini terbuat dari rindu, kenang, dan sebuah umpatan-umpatan ritmis khas masyarakat akar rumput pinggiran Jogja.

Apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat selain nrimo dan apa yang bisa dilakukan pemerintah selain mengaplikasikan dan menyuruh masyarakatnya nrimo? Kita terjebak dalam paradoks kebodohan dan kita kudu merasakan hingga titik nadir paling membingungkan. Kita tak bisa bahagia di Jogja lantaran arti bahagia saja kita tidak paham seperti apa. Jika “bahagia” adalah UMR 3 juta, tentu saja Jogja tidak akan pernah paham lha wong 2,1 saja sudah nrimo dan sembah sujud mensyukuri segala ketimpangan yang melandasinya.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *