Islam dan Monopoli Kebenaran #2

Zoroaster

Empat tahun tinggal di pesantren dengan kebebasan berpikir yang cukup terkekang pada konservatisme membuat saya akhirnya benar-benar ingin menemukan jati diri keberagamaan saya secara merdeka. Saya tidak ingin menelan mentah-menatah doktrin-doktrin kebenaran yang dijejalkan di kepala saya dengan pengingkaran terhadap kebenaran-kebenaran lain yang mungkin ada.

Saya sudah sangat muak dengan sistem berIslam yang menaruh kecurigaan berlebihan terhadap agama-agama lain. Saya juga sudah sangat capek dipaksa meyakini nilai-nilai Islam yang rahmatan li al-alamin, namun di saat bersamaan justru diminta untuk terus memupuk kebencian kepada kelompok-kelompok lain yang tidak sepaham. Puncaknya, ketika dengan sepihak saya diajari untuk yakin, bahwa orang non Islam adalah kafir yang kelak akan abadi di neraka. Ah, bedebah!

Pertanyaan yang kemudian saya bawa hingga lulus dari pesantren adalah, jika agama-agama di luar Islam itu salah, bukankah itu berarti Nabi-Nabi pembawanya juga bisa dikatakan salah juga? Mengingat, doktrin Kristen dibawa olah Nabi Isa, Yahudi dibawa oleh Nabi Musa, ditambah daftar agama-agama lain yang dikenalkan oleh Nabi-Nabi terdahulu. Sementara dalam rukun iman saja kita diwajibkan  untuk mengimani Nabi-Nabi terdahulu beserta kitab-kitab (kebenaran ajaran)-nya.

Dari sini saya mulai skeptis, jangan-jangan memang Islam bukan satunya-satunya yang benar. Adapun jika Islam—yang dibawa Nabi Muhammad Saw—adalah agama baru, baik, saya sepakat. Tapi tidak lantas bisa disebut sebagai yang paling absolute, kan? Atau bisa jadi konsep Islam secara subtantif sebenarnya sangat universal. Hanya saja kita memahaminya hanya sebatas sebagai sebuah lembaga yang memiliki sistem ajaran yang berbeda dengan agama-agama—yang dilembagakan—lainnya, seperti Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Zoroaster, dll. Parahnya, kita kemudian mengklaim bahwa Islam kitalah yang paling benar dibanding agama-agama lain tersebut. Kemudian lahirlah sekat berupa label “Islam” dan “kafir”.

TERKAIT:  Islam: Narasi Pro Kekerasan dan Aksi Terorisme

Nabi Kita Saling Terhubung

Ada banyak proses dan persinggungan yang akhirnya mengantarkan saya pada titik pemahaman bahwa seluruh agama sama  benarnya di mata Allah Swt. Satu di antaranya adalah perihal sejarah kenabian.

Begini, disebutkan dalam banyak literatur Islam jika jumlah seluruh Nabi dari seluruh dunia dan dari masa ke masa tidak kurang dari 124.000 Nabi. Setiap Nabi dibekali Allah Swt dengan kitab suci yang pada intinya mengajarkan perihal ketauhidan dan kebajikan.

Dengan begitu, berarti sangat mungkin jika agama-agama lain di luar Islam merupakan ajaran yang dibawa oleh sekian ratus ribu Nabi tersebut. Seperti misalnya yang paling dekat, Kristen yang dibawa oleh Nabi Isa, Yahudi yang dibawa oleh Nabi Musa, atau agama Hanif yang dikenalkan oleh Nabi Ibrahim.

Dari fakta tersebut saya kemudian berspekulasi, jangan-jangan pendiri agama Budha, Hindu, Zoroaster, masing-masing adalah seorang Nabi. Barangkali Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani kuno sebenarnya juga seorang Nabi, sebagaimana Adam, Idris, Nuh, Hud Saleh, dan seterusnya. Bahkan banyak dari filsuf muslim yang me-laqabi (menjuluki) Plato sebagai Aflathun al-Ilahi: seseorang yang diilhami Tuhan. Yang memiliki makna serupa dengan Nabi. Begitu juga dengan Aristoteles, yang dalam sentilan nakal Mulla Sadra disebut memiliki kapasitas yang setara dengan Nabi.

Belakangan, bertahun-tahun setelah lolos dari kungkungan pesantren, saya malah mendapat beberapa referensi baru yang menjelaskan bahwa agama-agama populer di luar Islam, Kristen, dan Yahudi, ternyata dibawa oleh beberapa di antara 25 Nabi yang kita imani.

Misalnya saja, beberapa sarjana muslim kontemporer ada yang menyebut bahwa agama Budha adalah agama yang dikenalkan oleh Nabi Zulkifli (Siddharta Gautama adalah Nabi Zulkifli). Argumen ini merujuk pada temuan historis yang menggambarkan Nabi Zulkifli sebagai Nabi yang menghabiskan hidupnya untuk bertirakat, berlaku asketik, dan memiliki kesabaran yang luar biasa. Persis seperti ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Budha dan laku hidup Siddharta Gautama.

TERKAIT:  Puasa yang Sesungguhnya Baru Akan Dimulai

Belum lagi ditambah pandangan dari Abdul Kalam Azad (Pakistan) yang, mengutip dari Islam Tuhan Islam Manusia-nya Haidar Bagir memaparkan, “Kifl” dalam nama Zulkifli berakar kata dari kafila, yang menurutnya merupakan kependekan dari Kafilavastu/Kapilawastu; tempat di mana Budha Gautama dilahrikan. Cukup presisi dengan nama Zulkifli yang dalam metode bahasa Arab diartikan sebegai, Zul: pemilik, Kifl: Kapilawastu, yaitu pemeilik atau orang yang tinggal di Kapilawastu. Meskipun ada juga yang mengartikannya sebagai orang yang sanggup memegang janji, atau orang yang memiliki kesabaran luar biasa. Apa pun itu, data tersebut mencoba mengarah pada kesimpulan bahwa Nabi Zulkifli adalah pembawa agama Budha.

Menachem Ali, seorang filolog pengajar di Universitas Airlangga Surabaya sempat juga memaparkan temuannya bahwa agama Hindu jika ditarik lurus ternyata berasal dari keturunan Nabi Nuh. Ada pula Zoroaster yang dibawa oleh Zarathustra yang juga dicurigai merupakan seorang utusan Allah Swt. Belum lagi Lao Tze, pemuka Taoisme, yang konon ternyata adalah Nabi Luth, dan ada juga dugaan kalau Nabi Idris dan Hermes Trismegistus adalah orang yang sama, merujuk pada kecerdasan keduanya yang sepintas memang sama persis.

Yang ingin saya sampaikan adalah, jika kemungkinannya demikian, maka tidak ada yang patut diingkari dari agama-agama di luar Islam tersebut. Sebab pada prinsipnya kan berasal dan mengajak kepada Allah Swt (mengajarkan ketauhidan dan amal saleh). Bahkan di masing-masing kitab mereka, Trimruti/Wedha (Hindu), Tripitaka (Budha), Zen Avesta/Dasatir (Zoroaster), juga Injil (Kristen) dan Taurat (Yahudi), sama membenarkan perihal kedatangan nabi akhir zaman (Muhammad Saw) dengan risalah penyempurna bernama Islam dengan Al-Qurannya. Dan dalam konteks ini, hadirnya Nabi Muhammad Saw dan Al-Quran adalah untuk menyempurnakan ajaran-ajaran agama terdahulu. Catat, menyempurnakan, bukan menyangkalnya.

TERKAIT:  Islam dan Monopoli Kebenaran

Seluruh Agama Bernilai Islam

Dalam pandangan al-Hallaj, alasan kenapa kita tidak boleh menyangkal kebeneran versi agama lain adalah, karena hakikatnya ajaran-ajaran dari seluruh agama di dunia bermuasal sekaligus berakhir pada satu entitas bernama Nur Muhammad.

Dalam dunia sufisme diyakini bahwa sebelum Allah Swt menciptakan semesta, terlebih dahulu Ia menciptakan Nur Muhammad (cahaya Muhammad). Nur inilah yang kemudian mengejawantah menjadi apapun yang ada di semesta raya. Termasuk menjadi al-aqlu al-qadiim (inspirasi awal atau sumber awal) agama-agama yang lahir di muka bumi.

Dalam Nur Muhammad terkandung sifat dasar Allah Swt, yakni rahman-rahim yang kemudian dipancarkan menjadi Islam (kedamaian). Maka ketika nur ini memancar di muka bumi sebagai agama-agama, tidak lain prinsip nilai dari agama-agama tersebut adalah Islam: membawa misi kedamaian—meskipun tidak menyebut kata “Islam” secara langsung. Ini menjadi dasar aman bagi umat Islam yang tidak berani berterus terang meyakini kebenaran agama-agama non Islam saat berdiri sendiri. Ya, cukupkan saja meyakini bahwa pada hakikatnya, agama-agama lain ternyata memiliki nilai ke-Islaman, sehingga tidak ada dasar kuat bagi kita untuk ingkar apalai sampai berlaku diskriminatif terhadapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *