Bodohkah Orang yang Beragama?

origin of religion

Di bulan yang katanya paling suci, saya melihat ratusan orang berdoa dengan begitu khusyuk. Yang biasanya tangan kanan menggegam lapen, kini mereka dengan halus menggulirkan tasbih. Yang biasanya berzina dengan beberapa pengguna jasa di rumah bordil, kini membaptis diri untuk merenung di dalam Masjid. Oh, indahnya, seakan konsep dosa yang mereka himpun selama sebelas bulan, runtuh karena satu bulan yang penuh dengan pengampunan.

Apakah itu suatu masalah? Bagi saya ya tidak. Ini adalah sebagaimana konsep yang ditawarkan oleh agama. Mereka seperti membawa arak yang berbentuk ayat-ayat indah yang ditarik dari langit. Agama adalah jalan pintas semisal akal tidak bisa menjelaskan. “Mengapa laut terbelah? Itu kehendak si Transenden,” ujar seorang tokoh dengan begitu baik dan benar.

Kali ini saya tidak akan banyak menawarkan konsep dan teori yang memusingkan kepala. Saya memilih akan banyak bercerita. Karena melalui sebuah cerita, kadang pemikiran seseorang akan bergerak, mencari mangsa, apa pun hasil kandungnya.

Saya akan membawa Anda, pembaca sekalian, kepada sebuah lintas masa di mana agama tidaklah begitu penting. Agama bukan obat, melainkan stimulus yang menghasilkan penggerak manusia hidup di bumi. Agama yang tidak menawarkan lantaran mereka adalah orang-orang bodoh yang beragama. Inilah Rata Kiri.

***

dok Gusti Aditya

Kereta dengan kabin tidur ala-ala Trans-Siberia membawa tubuh saya bergerak-gerak. Ke kanan maupun ke kiri dengan menyenangkan. Saya seperti seseorang yang menyerahkan diri kepada sebuah hal profan bernama agama. Penyembah Tuhan yang begitu ulung. Saya hanya bisa melihat jalanan, tanpa bisa memutuskan untuk singgah atau meninggalkan. Tergantung si empunya penggerak, ke mana ia pergi, tubuh saya mengikuti.

Saya sedang dibawa oleh kereta dari Vietnam Utara menuju Vietnam Tengah. Atau tepatnya dari Hanoi menuju Da Nang. Benar, arah saya menuju Selatan. Ah, jika saja arah saya menuju Utara, barang tentu kaki saya hari ini sudah menginjak bumi Cina. Lantas Russia. Trans-Siberia yang begitu panjang, alangkah indahnya hanya melalui sudut paling sempit bernama imajinasi belaka. Namun tak masalah, arah menuju Selatan memang sudah baik dan benar bagi saya.

Saya disambut hangat dan tanah gembur khas muson tropis. Da Nang tak sedingin Hanoi memang, namun di sini saya merasa sedang dipeluk dengan khidmat. Anda tahu apa yang membuat saya mencintai negeri pemegang ideologi Komunis tapi sudah tidak Komunis-Komunis amat ini? Ya, tidak ada adzan di sini. Bangsat, ya? tapi memang itu yang saya rasakan lantaran tak ada gema adzan yang kadang memekakan telinga, pun denting lonceng yang kadang bikin merinding setengah mati.

Agama Tradisional Vietnam

Di sebuah penginapan kecil, bersama para bule yang berbadan tegap dengan kaki yang baunya minta ampun, saya membaca beberapa naskah prosa Bertolt Brecht. Seperti apa yang dituliskan oleh Eagleton dalam Marxism and Literary Criticism, realis yang diusung Brecht dalam berkarya bukan hanya semata-mata soal ketepatan penggambaran atas kenyataan, melainkan bagaimana representasi yang dihasilkan oleh suatu karya dapat menggugah pemirsanya untuk mempertanyakan kenyataan dunia dan mentransformasikannya.

“Everything or nothing. All of us or none.

One alone his lot can’t better,

Choose the gun or fetter.

Everything or nothing. All of us or none.”

Prosa dingin yang dituliskan oleh Brecht tentu saya sukai lantaran banyak menghimpun tema-tema teologi. Selama menemani di Hanoi yang bising dan Da Nang yang riuh akan pekerja di geladak kapal, prosa-prosa Brecht membuat saya tertawa geli. ‘Himne kepada Allah’ tidak sama sekali menggambarkan betapa puja-pujinya beliau kepada Transenden. Tidak ada syair indah seperti apa yang ditawarkan di Gereja, tidak ada kata-kata penuh khidmat seperti apa yang termaktub di dalam Masjid. Singkatnya, Brecht, menyatakan perang.

Kuasa dari Transenden ia pertanyakan kala melihat apa yang ditawarkan oleh agama, jauh berbeda dengan apa yang dihadapinya di dunia. Kenyataan yang membuat prosa-prosanya terdengar dingin dan penuh dengan laknat kepada—yang katanya—si pencipta alam. Seperti sebuah pembenaran, sejarah panjang agama memang berisikan penentangan. Dan dari sini, antagonis dan protagonis tercipta. Entah bagaimana konsepnya, si penanya kedigdayaan, dimasukan kepada pihak yang katanya jahat.

Di penginapan, saya hanya tertawa. Saya seperti sedang membaca cerita silat. Memang, agama dan segala hal yang menjadi penentangnya, tidak akan beranjak jauh ke mana-mana. Malahan akan menghasilkan bagian-bagian kecil yang nahasnya, melahirkan agama-agama baru dengan perbedaan sudut pandang cara bertuhan maupun tuhannya itu sendiri. Saya menutup buku itu. Bagaimana pun, agama tak akan pernah menjadi satu.

Kawan yang saya jumpai di Da Nang, sebut saja Nguyen, menuturkan hal menarik yang—mungkin saja—ada hubungannya dengan cara Brecht mengeluh yang profetik. Nguyen, dengan bahasa Inggris-nya yang terbata-bata dan apalagi saya yang berulang kali membuka translate untuk sekadar mengemukakan pendapat, mengatakan bahwa agama di Vietnam bisa dikatakan tidak lebih tua dari usia ibunya.

Bagi Nguyen, apa yang menjadi keluhan Brecht tidaklah masuk akal di negaranya. Ia menyatakan bahwa keluhannya terlalu merujuk kepada agama-agama Abrahamik. “Entah bagaimana dengan konsep yang berkuasa di alam semesta, sedang saya beragama hanya sebatas melihat manusia,” katanya yang saya ingat. Bagi Nguyen, ia beragama bukan hanya untuk mencapai segala pahala yang nantinya menjadi tiket masuk surga. Baginya, agama, sebatas kartu mati guna menuju sebuah titik bernama mencintai alam, manusia, dan lingkungan sosial.

Setelah perang sipil berakhir pada tahun 1975, para pemimpin Komunis Vietnam sangat membatasi kebebasan beragama dengan berbagai cara, termasuk larangan langsung terhadap organisasi keagamaan dan aktivitas mereka. Kebanyakan pemimpin agama menentang revolusi Komunis, takut apa yang akan terjadi jika kaum Marxis yang atheis mengambil alih. Begitu yang ditulis oleh American Magazine.

…Die Religion ist das Opium des Volkes

“Kami telah salah mengartikan definis agama adalah candu yang dikemukakan oleh Marx lantaran Religion is the opium of the people bukan merujuk kepada si komunis, haruslah tak memiliki agama,” kata Nguyen. Padahal, menurut data yang saya himpun, Vietnam memiliki kepercayaan sentral yang beragam banyaknya. Pada era perang sipil, yang terkenal adalah kepercayaan Cao Dai. Nguyen, hemat saya, menyempitkan “agama” justru kepada agama-agama langit saja. Ketika komunisme tiba di Vietnam, kenyataannya mereka sudah mengenal apa itu konsep agama.

Hanya saja, agama di Vietnam ini memiliki satu masalah prinsip bernama keterbatasan. Apa keterbatasan yang dimaksud? Nguyen memiliki jawabannya;

“Setelah 1975, perang dikatakan mencapai arus balik, properti keagamaan disita dan dikerdilkan. Pemerintahan Komunis banyak memenjarakan pemimpin agama dan menganiaya mereka. Pun dengan pengikut yang taat. Kristen adalah asing, mereka disingkirkan dengan sistematis. Sedangkan Cao Dai menjadi sasaran tembak lantaran banyak menurunkan massa untuk melawan Komunis,” ujar Nguyen.

Saya melihat hal yang janggal, lantas bertanya, “Saya menemukan sebuah hal ganjil, katamu agama di Vietnam hanya berumur tidak lebih tua dari ibumu? Ketika perang sipil usai, agama sudah banyak memiliki porsi dalam menyangkal Komunis.”

“Empat puluh tahun, kawan. Empat puluh tahun di sini adalah saat kami—masyarakat Vietnam—memiliki kebebasan beragama dan menyampaikan rasa kepada apa yang disebut dengan agama,” katanya. “Rezim berpindah tangan, organisasi keagamaan tercipta. Ketika itu pula banyak yang beranggapan bahwa agama-agama kecil pengikutnya dan tidak ada sponsor negara, dikucilkan dan justru melawan balik.”

Masih banyak pejabat pemerintah yang masih salah memaknai sebuah agama dan sisi positif dalam penggerak masyarakat. Namun, agama di Vietnam amat kompleks. Tidak sesepele negara yang menghanguskan FPI. Dilansir dari America the Jesuit Review, baru-baru ini pemerintah Vietnam memberikan izin kepada umat Katolik untuk mendirikan institut teologi tingkat universitas di Selatan.

Umat Katolik bahkan dapat memegang pekerjaan pemerintah, dan tidak jarang anggota partai mengirim anak-anak mereka ke program prasekolah Katolik atau ke universitas Katolik di Amerika. Sedangkan dalam penelitian yang kredibel, polisi sering melecehkan dan menyerang pengikut agama dari organisasi keagamaan independen yang tidak terdaftar, termasuk banyak gereja Protestan.

“Agama adalah candu semisal seseorang tidak menggunakan dengan takaran yang tepat,” ujar Nguyen menutup perbincangan dengan memakan Pho topping daging babi yang amat menggiurkan.

Betapa Bodohnya Orang yang Beragama

Nguyen beragama—entah apa agamanya—ia tidak mendambakan surga. Baginya, hidup setelah mati adalah bonus. “Bagaimana jika hidup yang sedang kita jalani ini adalah final? Bagaimana jika di kehidupan sebelumnya, aku sudah mati dan ini caraku menyelesaikan tugas akhir?” katanya dengan menggelikan. “Beragama atau pun tidak, aku hanya ingin menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Merangkul umat manusia, menjaga tanaman, bahkan mengasihani hewan. Itu jauh lebih menyenangkan.”

Memang, betapa bodohnya orang yang beragama. Kadang, saking asiknya mereka beragama, sampai lupa ada bom di tubuhnya. Namun lebih bodohnya lagi, ada orang yang rela beragama, justru tidak mengharapkan imbalan bernama sungai yang berisikan susu, gunung yang terbuat dari kapas, dan bidadari sintal yang siap ditiduri kapan saja. “Bukankah utopia itu menjemukan, kawan?” tutupnya.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *