Catatan di Sela-Sela Catatan Menuju Ketinggian

Pada dasarnya aku tak terlalu berharap bahwa kita bisa kembali memiliki hubungan yang cukup dalam. Toh mestinya kamu sudah banyak belajar dari kesalahan-kesalahan dari hubungan kita yang pernah ada. Aku tidak akan memintamu menerimaku kembali sebagai orang yang pernah saling memiliki. Aku tak akan pernah meminta lebih. Hanya saja, bolehkah aku meminta agar kita tak menjadi asing seperti ini? Kita pernah berteman cukup lama. Jauh sebelum hubungan ini ada, kita pernah saling bertukar cerita, dalam ikatan pertemanan yang cukup erat.

Belakangan, ingatanku melesat jauh ke masa-masa waktu kita masih SMA. Entah kamu tahu atau tidak, aku pernah dengan sengaja menabung untuk membeli buku-buku sastra. Tidak lain adalah agar aku bisa meminjamimu dengan cuma-cuma. Senang sekali rasanya tiap kali tanpa sengaja kita bertemu di tangga menuju kelas, lalu dengan tingkahmu yang usil kamu bertanya, “Bolehkah kupinjam novel yang “ini?”” Esok paginya pasti kubawakan buku yang menjadi pesananmu itu. Betapa sederhananya kebahagiaan yang kudapat dari sekadar bisa meminjamimu buku yang ingin kamu baca.

Belakangan ini, tiba-tiba aku merindukan masa-masa itu. Masa ketika aku sering menemuimu dengan sengaja untuk sekadar bercerita tentang perempuan yang menjadi cinta monyetku, atau sesekali juga perihal lelaki yang konon tengah menyukaimu. Oleh karena itulah, maaf, dengan membuang sejauh mungkin rasa malu, kuberanikan diri untuk mengirim direct massage ke akun Instagrammu yang jelas-jelas telah memblokirku dari daftar pengikutmu.

Aku tahu kamu tak terlalu suka basa-basi. Untuk itulah kutulis saja di sana; singkat, jelas, dan penuh harapan, “Apakah kita masih bisa berteman?”

Dalam bayanganku, kamu membacanya dengan dahi sedikit mengerut. Mungkin juga sedikit risih dan agak terganggu. Betapa tidak. Lelaki yang kamu benci setengah mati ini berani-beraninya mengganggu kehidupanmu yang tenang usai sembilan bulan perpisahan. Mungkin juga kamu merasa luar biasa kesal dengan kehadiranku lagi setelah kamu terang-terangan memintaku pergi sejauh mungkin. Ah, maafkan aku, aku tak tahan. Jika semua harus kembali seperti sediakala, maka tolong izinkanlah aku jadi seperti semula dalam hidupmu, sebatas teman lama pun bukan masalah.

TERKAIT:  Lebih Memilih Terlihat Hancur daripada Terlihat Baik-baik Saja

Sebenarnya aku sudah berprasangka bahwa pesan itu tak akan kamu balas. Melihat notifikasi dari akun bernama Aly Reza, kamu pasti muak dan mengabaikannya begitu saja. Tapi di luar dugaan, kamu membalasanya. Hanya satu kata memang. Tapi aku merasa bahwa masih ada kesempatan untuk berdamai lagi, berteman kembali.

Tapi aku sadar belaka kalau harapan-harapan itu terlalu tinggi. Karena aku masih menyimpannya, tangkapan layar pesan WhatsAppa darimu yang menegaskan bahwa kamu tak akan pernah bisa menerimaku kembali. Sebagai apa pun.

Malam itu, seminggu saja jelang sidang skripsi, aku mencoba menghubungi sahabatmu. Dengan ketidaktahudirian aku menitipkan kepdanya salam buatmu. Juga dua permintaan kecil: 1) Doakan semoga sidangku lancar, dan 2) Usai sidang, aku ingin mengajakmu bertemu. Sekadar ngopi sebagai bentuk perayaan kecil dariku pribadi.

Tragisnya, kamu tidak hanya menolak ajakanku tersebut. Kamu juga melayangkan peringatan kepada sahabatmu agar tidak sekali-kali menyebut namaku lagi di hadapanmu.

Duh, sepertinya besok-besok aku harus membuat tulisan permohonan maaf kepada sahabatmu itu. Aku sudah terlalu sering merepotkannya dalam hubungan kita. Lebih tepatnya, melibatkannya dalam urusanku pribadi, yang kemudian menjerumuskannya pada konsekuensi pelik yang tidak seharusnya ia terseret ke dalamnya.

Aku pernah melibatkannya dalam skenario memberimu kejuatan di hari ulang tahunmu yang ke 21. Kejuatan yang belakangan baru kuketahui tak terlalu membuatmu berkenan. Alih-alih tersanjung, kamu justru menyimpan rasa tak nyaman yang teramat sangat. Dari dulu kamu memang tak pernah suka seremonial-seremonial lebay menjijikkan semacam itu. Harusnya aku tak nekat melakukannya. Tapi entah, hari itu, aku ingin saja membuktikan kepadamu, bahwa aku bisa menjadi teman yang baik untuk teman-teman dan sahabatmu. Persis seperti yang pernah kamu wanti-wantikan.

TERKAIT:  Catatan Menuju Ketinggian #2

Aku pernah menjadi seseorang yang sangat tak ramah. Bukan karena sombong, tapi karena kegagapanmu untuk beradaptasi dan menjadi akrab dengan orang-orang baru. Termasuk ketika suatu malam aku menunggumu di depan kampus. Sahabatmu itu, yang tak sengaja melihatku, menegurku apakah aku sedang menunggumu. Sayangnya, aku sudah terlampau bingung. Hingga yang keluar dari mulutku hanyalah sepatah kata dan gestur sikap yang membuat sahabatmu tersinggung.

Disusul juga dengan insiden-insiden lain yang akhirnya membuat teman-teman dan sahabatmu berpersepsi kalau aku bukan lah sosok yang baik. Dari situ kamu memintaku berlatih untuk menjadi orang dengan impresi pertama menyenangkan. Bukan menjengkelkan.

Pelan-pelan aku melatihnya. Sedikit-sedikit aku juga berupaya membuktikannya. Namun, pertama kali kutunjukkan di momen ulang tahunmu, alih-alih bisa memberi bukti, ternyata malah membuatmu semakin tak suka dengan caraku untuk menjadi seperti apa yang kamu inginkan.

Dan terkahir, aku mencoba melibatkan sahabatmu lagi. Kali ini agar kamu sudi menemuiku di sebuah kafe yang sudah kurencanakan. Tapi celaka, kamu justru marah besar. Tak hanya terhadap diriku, bahkan sahabatmu menjadi sasaran kekesalan karena berani-beraninya telah menjadi kurir yang menyampaikan ajakan tak tahu diriku kepadamu.

Sialan, kali ini aku tak ingin melibatkan siapa pun. Aku nekat saja mengirim DM kepadamu, juga menulis tulisan ini—yang barangkali nanti sempat kamu baca. Jika memang kamu tidak bisa menerimaku sebagai teman, sudikah kamu membantuku menuntaskan gejolak yang tak kunjung selesai dalam diriku ini? Untuk terakhir kalinya, maukah kamu bertemu denganku? Setelah itu, terserah. Aku hanya ingin menyelesaikan hubungan ini dengan baik-baik. Dengan jabat tangan, dengan saling melempar senyum, serta dengan segala penerimaan dan pemafaan. Untuk yang terakhir kalinya. AKU JANJI!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *