Islam dan Monopoli Kebenaran

marilyn-brownrsm

Monopoli Kebenaran – Ide tulisan ini sebenarnya sudah muncul sejak awal-awal semester dua, alias tiga tahun yang lalu. Tapi sebelum sempat saya tulis—dan submit di media komunitas—ternyata saya mendapat sedikit kecaman ketika lebih dulu menyampaikannya dalam sebuah forum diskusi. Katanya sih terlalu liar, ngawur, dan berpotensi kepada kemurtadan.

Maka di masa-masa itu, niat untuk menulisnya saya urungkan dulu. Apalagi ide tulisan tersebut murni dari renungan dan keresahan saya pribadi. Saya nyaris tidak punya landasan literatif maupun komunal yang cukup kuat untuk mendukung cara pikir saya yang—orang-orang menyebutnya—liberal. Dan itu adalah budaya berpikir yang agak ditentang memang dalam lingkungan saya yang cenderung agamis-dogmatis.

Tapi, gatal rasanya kalau hanya menahannya dalam kepala. Lebih-lebih setelah saya memiliki bekal yang setidaknya cukup untuk berargumen. Bertambah gatal ketika melihat seorang—yang mengaku—muballigh, Ustaz Yahya Waloni, sampai segitunya mempermasalahkan urusan kursi. Di tengah-tengah ceramah, loh, bisa-bisanya ia komplain—dengan sedikit dongkol pada panitia—hanya karena kursi yang ia duduki itu dianggapnya sebagai kursi gereja. Sementara—sejauh yang saya tahu—tidak pernah disebutkan dalam Al-Quran atau Sabda Nabi perihal klasifikasi mana benda yang Kristenik, atau mana barang-barang yang Islamis.

Memangnya kalau menggunakan “kursi gereja”, secara otomatis bakal berubah keyakinan menjadi Kristen/Katholik? Kalau begitu cara pikir yang dipakai Yahya Waloni, ah, apa coba yang perlu didengar dan dikagumi dari sosok ustaz yang imannya bahkan bisa begitu mudah digadaikan dengan kursi itu? Lagi pula, ada beberapa ayat Al-Quran yang menyebut bahwa tidak diperkenankan untuk mengingkari agama lain; Kristen/Katholik, Yahudi, dll.

Inilah buah pikir yang tiga tahun lalu saya pendam. Saya selalu berpikir, barangkali memang Islam bukan satu-satunya agama yang benar. Sebuah keresahan yang jauh sebelumnya sudah pernah diutarakan al-Hallaj lewat konsep “Wahdat al-Adyan”-nya (kebersatuan (kebenaran) seluruh agama).

TERKAIT:  Distopia Masyarakat Teistik Vis a Vis Utopia Wacana Sekularisasi Total

Mengingkari Kristen = Mengingkari Tuhan

Sejatinya kita tidak punya dasar kuat untuk menaruh sentimen terhadap penganut Kristen. Apalagi jika hanya sebatas atribut yang diduga menjadi bagian dari Kristen. Kursi gereja misalnya. Begitu juga kita tidak semestinya menyangkal atau mengingkari agama-agama lain di luar Islam.

Sederhana saja. Bukankah menjadi bagian integral dari keyakinan Islam (rukun iman), bahwa kita harus mengimani kitab-kitab Allah Swt yang meliputi, Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Quran? Kitab-kitab tersebut dibawa oleh beberapa Nabi pilihan yang juga harus diimani oleh umat Islam.

Maka, jika kemudian kita menyangkal—misalnya saja—kebeneran Injil yang dipakai umat Kristiani, apalagi jika sampai berlaku diskriminatif, berarti kita sedang dalam posisi tidak beriman atau sedang dalam kemurtadan. Lebih sederhana lagi, menaruh sentimen terhadap Kristen, sama dengan mengingkari Allah Swt.

Duh, Betapa bahayanya berIslam secara monolit dan penuh ekslusivitas. Dan lebih berbahaya lagi jika berIslam—atau lebih umum beragama—dengan tanpa menggunakan akal. Itulah kenapa Nabi Saw menegaskan dalam sabdanya, “Tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki (menggunakan) akal.” Betapa sangat mengerikan memang cara berpikir yang mentok sebatas “kursi gereja” tidak patut diduduki oleh orang Islam.

Cara berpikir “mentok” semacam itu pada akhirnya akan melahirkan problem baru dengan konsekuensi yang lebih ekstrim. Yakni, menganggap bahwa semua penganut agama di luar Islam (non-Islam) sebagai kafir yang tidak akan mendapatkan kasih sayang Allah Swt dunia-akhirat. Ajaran-ajaran non-Islam—termasuk Kristen—adalah salah. Pada tingkatan selanjutnya, cara berpikir begini akan mengarah pada ekstrimisme dan terorisme.

Padahal urusan antara kafir dan non-Islam tidak sedangkal itu konsepnya. Lengkapnya, mungkin bisa kawan-kawan baca di tulisan saya, “Islam: Narasi Pro Kekerasan dan Aksi Terorisme

TERKAIT:  Islam dan Monopoli Kebenaran #2

Jelas-jelas Allah Swt telah mempresentasikan secara gamblang dalam Q.S. al-Baqarah: 62, “Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan kaum Shabiin—semua yang beriman kepada Tuhan, hari kebangkitan, dan beramal saleh—akan menerima pahala yang semestinya dari Tuhan. Mereka tidak memliki alasan untuk takut atau bersedih.”

Kalam tersebut seolah membenarkan konep pluralitas—tak terbatas—agama sebagaimana yang dikampanyekan oleh al-Hallaj. Di mana Islam bukan satu-satunya agama yang diberkati oleh Allah Swt, melainkan seluruh agama yang ada di dunia pada dasarnya bersumber dari kebenaran Allah Swt yang tidak terbatas (atau bisa baca tulisan saya, “Wahdat al-Adyan: al-Hallaj dan Narasi Anti Solipsistisme“).

Tiga kunci yang ditekankan oleh Allah Swt: harus beriman kepada-Nya, hari kebangkitan (hari akhir), dan beramal saleh (baik). Tak harus Islam, dari agama apapun selagi memang teguh tiga prinsip tersebut maka ia tetap sah disebut sebagai agama Allah Swt yang tidak patut untuk kita ingkari. Yang berbeda hanya soal penyebutan nama (Allah Swt), jenis ritual, dan konsep ajaran. Esensinya tetap sama-sama berasal dan mengajak menjuju Tuhan yang Tunggal dan Sejati.

Soal Trinitas

Dari zaman kiwari hingga sekarang, modus fundamental seorang muslim—lebih-lebih pemuka agama Islam—gencar mengampanyekan narasi anti Kristen adalah karena dalam doktrin Kristen terdapat konsep Trinitas. Mereka—umat Islam—menentang jika Tuhan dideskripsikan ke dalam tiga zat. Sementara Allah Swt dalam Q.S. al-Ikhlas sudah menegaskan bahwa diri-Nya Esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Maka sebagian banyak orang Islam menentang adanya konsep Trinitas dalam doktrin Kristen. Mirisnya, biasanya konsep tersebut digunakan sebagai materi ceramah untuk menjelek-jelekkan agama Kristen.

Allah Swt saja sudah mewanti-wanti dalam Q.S. al-An’am 108, yang jika saya tafsiri dan pahami sendiri, mengingatkan agar kita (umat Islam) tidak menghina sesembahan-sesembahan mereka (di luar Islam). Karena pada dasarnya, menghina yang disembah orang non-Islam sama saja dengan menghina Allah Swt. Mengingat, secara esesnsial umat Islam dan non-Islam menyembah zat yang sama.

TERKAIT:  Wahdat al-Adyan: al-Hallaj dan Narasi Anti Solipsistisme

Kembali ke Trinitas. Dalam pandangan tasawuf—lebih tepatnya pada konsep ‘irfan—Trinitas yang dimaksud tidak sama dengan Triteisme Monophysite yang meyakini bahwa Allah benar-benar tiga secara kuantitas zat-Nya. Merujuk pendapat Imam al-Ghazali, Trinitas yang dimaksud adalah semacam hierophany, bahwa Allah yang Tunggal menitis pada diri Maryam (Maria) dan Isa (Jesus) sebagai penyambung risalah langit kepada umat manusia. Hakikatnya zat Allah tetaplah Esa. (Lebih jelasnya mungkin bisa ditanyakan kepada kawan-kawan Kristen. Sengaja saya kutip pendapat tokoh intelektual besar Islam semata agar kita sadar bahwa semakin cerdas seorang Islam—dalam hal ini adalah al-Ghazali—maka akan semakin inklusif ia terhadap berbagai macam sumber kebenaran).

Ya agar pemahaman kita tidak mentok di urusan “kursi gereja” saja. Memangnya sehebat apa Yahya Waloni sampai menolak sekadar “kursi gereja”? Tokoh ilmuan terkemuka Islam—al Farabi—saja pernah berguru pada Yuhanna ibnu Hailan yang seorang Kristen Nestorian, kok. Hudzi al-hikmah walau min ghoiri muslim: ambillah hikmah walau dari non-Muslim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *