Surat-surat di Stasiun #3

surat-surat di stasiun

Untuk Amanda dan suaminya,

Di tempat.

Membalas suratmu adalah keniscayaan. Sudah mati dan enyah rasa inginnya. Empat bulan lamanya aku mencoba, tapi mustahil nihil hasilnya. Aku adalah sebuah sistem yang coba kau risak, dengan tubuh yang sudah rusak, dan serumpun kebohongan-kebohonganmu yang sudah koyak. Aku hanyalah laki-laki yang kau tinggal di pojok sebuah gerbong kereta.

Aku melihat tubuhmu menghilang dengan lamat-lamat di balik peron-peron Lempuyangan dan kau mencoba menyapaku lewat sebuah surat? Bukankah itu adalah sebuah tindakan paling bangsat yang teramat akurat?

Kau sudah bahagia dengan suamimu dan aku menerima segala konsekuensinya. Kau dahulu belaga menjadi korban, pada kenyataannya kaulah yang pertama merdeka. Kau yang menangis kepada segenap keluarga, pada akhirnya kau lah yang pertama bahagia. Tak apa. Biarlah aku salah di mata lingkungan, kau jangan. Kau jangan sampai disalahkan karena itu pahit luar biasa.

Biarlah aku yang melewatinya dengan berdarah-darah, sudahlah, kau pergi saja dan lantas menikah. Buatlah keturunan dan jangan sampai mengulang kisah cinta penuh dusta seperti hubungan kita. Jaga mereka dengan sekuat tenaga lantaran masa depan adalah puja-puji kehidupan bak angka delapan; ia berputar tanpa jeda. Terus berputar layaknya kehidupan yang tak pernah lelah.

Kau khawatir dengan kondisiku? Untuk apa? Bahkan aku masih paham bagaimana caranya bernapas. Aku sudah tak akrab dengan yang namanya tiang penggantungan. Benda-benda tajam dan racun yang sempat tercanangkan, sudah enyah barang sudut terkecil di pikiranku yang kusut. Aku sudah tak berbaring melulu. Aku sudah menemukan hidup. Memangnya hanya kau yang bisa bahagia? Aku juga bisa. Aku layak bahagia karena aku juga manusia. Aku bukan monster seperti apa yang sempat kau umpat.

TERKAIT:  Quarter Life Crisis dari Pandangan Penderita Mental Illness

Tak perlu repot-repot kau memikirkan diriku yang mulai membaik. Aku punya kawan yang baik. Ia selalu ada manakala diriku jatuh tak bertuan. Mereka ada dengan pikiran paling rasional dan mengesankan. Gadis pujaanku sekarang? Bagaimana jika aku ceritakan kepadamu agar setidaknya aku menutup pikiranmu; bahwa ingatan tentangmu selalu mengejar? Mau? Tentu dengan senang hati, aku perkenalkan siapa gadis baik dan indah ini.

Aku akan menjabarkan dengan perlahan. Amanda, bacalah secara seksama agar kau bisa membayangkan betapa indahnya gadis yang saat ini akan selalu aku puja…

Baik, aku mulai,

Berkatnya, tiada jenuh kala mataku terbuka di pagi yang buta, hangat mentari menyusuri jendela kamar yang menganga, lantas ponsel adalah tambatan utama yang harus aku raih perlahan. Benar, aku tak lagi jenuh membuka ponselku, menyapa dirinya dalam sebuah jagad bernama WhatsApp.

“Terima kasih sudah tampil cantik,” kataku kepadanya. Dengan sebuah media berupa pikiran yang paling jujur, hati yang selalu manjur. Kau tahu, walau aku yakin, kondisi gadisku itu kala terbangun dari tidur adalah definisi sempurna dari sebuah hiruk mimpi yang indah sisa kantuk semalam. Mimpi yang baik. Kedua mimpi itu bersetubuh, lahirlah wajah indahnya.

Pagi itu, terpenting aku telah menciptakan senyuman dari bibir paling manis yang pernah aku lihat. Yang pernah Tuhan ciptakan. Bibir itu adalah muara bahagiaku di dunia. Serumit apapun filsafat, tak mampu memetakan senyumnya itu dengan paripurna. Wahid luar biasa. Senyum yang terkembang, seakan menjadi pelipur lara paling baik dan sempurna bagi dunia yang rusak dimakan pemerintah pusat.

“Terima kasih sudah baik sama aku,” kataku lagi kepada gadis indah itu—atau lebih tepat aku haturkan melalui ketikan yang menghajar layar ponselku dengan teratur. Terstruktur. Ketikan yang paling semangat guna mengatur. Sebuah kiblat pengganti caraku kala bertutur.

TERKAIT:  Catatan di Sela-Sela Catatan Menuju Ketinggian

Ketikan yang paling baik dan benar, kan? Bagai langit yang selalu sudi menurunkan hujan, bagai tanah yang selalu sudi menerimanya dengan tabah. Aku sudi menurunkan pujian, gadis itu tabah menerimanya. Aku bukan langit yang menciptakan hujan, namun aku mampu melahirkan senyuman. Senyuman indah yang selalu gadis itu lepaskan.

Senyuman yang bahkan ribuan lembar Dollar pun tak mampu menebusnya. Para malaikat berdoa di sekitar kelok, lekuk, dan tekstur terbaik yang membentuk keindahan bibir itu. Pagiku terlampau elok. Gadis itu adalah rujukan utama kala aku merasa kalah melawan dunia.

“Terima kasih sudah mengizinkan aku melihat senyummu,” itu kataku selanjutnya di tiap pagi untuk gadis indah itu. Di sebuah pagi yang paling riuh. Ingin rasanya aku menyeret seluruh kata paling baik yang ada di seluruh dunia untuk tiap pagi miliknya, jika dirasa menciptakan kebahagiaan terlampau sulit kondisinya.

Belakangan aku bahagia menyebut kata terima kasih. Aku bahagia mengumbar senyum kepada siapapun. Bahkan orang yang berniat jahat kepadaku. Kamu, misalnya, Amanda. Awan badai yang selama ini berkelindan di kepalaku, enyah dan entah ke mana. Tulisanku mengumbar kebahagiaan, bukan dakwaan. Aku menjadi diri yang baru, tanpa meruntuhkan sisi lamaku. Sisi lama yang pernah kau rusak, Amanda.

Bahkan sekarang aku bersyukur lantaran perasaanku dan kasih sayangku pernah kau sia-siakan, Amanda. Berkatmu, aku bisa menemukan gadis yang indah ini. Gadis yang bahkan menghargai setiap upaya yang sudah—bahkan akan—aku kerjakan. Sekecil apapun upaya itu. Gadis yang selalu mengumbar senyum, bukan ketakutan. Puji Tuhan bahwa aku pernah kau tinggalkan.

Kemarin aku melewati stasiun demi stasiun bersama gadis indah itu. Seutuhnya aku lupa tentang dirimu. Aku lupa senyummu, aku lupa tawamu, bahkan yang paling lucu dari semua itu, Amanda, aku lupa namamu. Wajah gadis indah itu, kehangatan genggaman tangannya, peluk hangat kepada lenganku, adalah hal paling realistis yang hendak aku jaga selamanya.

TERKAIT:  Surat-surat di Stasiun

Tulisanku yang berjudul Surat-surat di Stasiun #1 adalah upaya diriku mencari cuan. Tidak lebih, tidak juga kurang. Bukan untuk mengenangmu secara berlebihan. Aku jahat? Ah, bukannya dari dulu aku selalu menjadi antagonis bagi dirimu dan lingkunganmu? Aku tak merasa itu menjadi masalah selama kau terbiasa menganggapku sebagai seekor bajingan.

Aku punya sebuah tempat di mana aku dipandang sebagai seorang protagonis. Aku yang dianggap masih punya kesempatan untuk bernapas di esok hari. Aku sekarang tak pernah punya pikiran untuk mati lantaran gadis indah itu, adalah segenap daya untuk setidaknya bertahan di tempat njelehi bernama bumi. Bersama gadis indah itu, kau tahu, Amanda, bahwa aku sedikitnya jadi suka bumi dan hal-hal bajingan yang ada di dalamnya.

Pada akhirnya aku hanya ingin mengucapkan, semoga bahagia. Itu saja. Tapi, Amanda, mau bantu aku untuk yang terakhir kalinya? Aku janji, yang terakhir kalinya. Bantu aku untuk potong pita dan melepas konfeti kebahagiaan, Amanda. Mari kita sambut dan resmikan; masa depanku yang bahagia bersama gadis indah bernama Alfita.

Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *