Surat Cinta dari Bajingan: Antara Aku, Kamu, dan Monarki

bella ciao

susahtidur.net – Sebatang lisong menjadi temanku malam ini. Karena kuingin menulis sebuah surat untukmu. Maafkan aku, jika aku tak pernah menulis sesuatu untuk mewartakan cita cinta ini. Kemarahanku memang sering lebih meluap daripada cintaku padamu.

Hey, kamu yang cantik, kata Shaggydog. Kalau kataku: hey kamu yang menggenggam tanganku agar tak lari. Bukan lari menjauh darimu, tapi lari kepada cintaku yang pertama: melawan yang salah di mataku.

Tahukah kamu, kamu tidak pernah jadi cinta pertamaku. Mungkin cinta ketiga setelah hasrat marahku dan ibuku. Tapi bukan berarti aku tak mencintaimu. Jika engkau ragu, belah dada ini. Yang jelas kamu tak akan menemukan rajah “narimo ing pandum” di dalamnya.

Meskipun kamu cinta ketiga, tapi kamu berhasil berdiri di antara aku dan monarki yang menjadi bulan-bulananku. Ibuku saja sudah mengikhlaskan aku menjadi bajingan hierarki sosial. Tapi kamu berdiri dengan menatapku tajam. Tatapan yang menyuarakan pesan agar aku berhenti sejenak.

Tatapan itulah yang menunda aku untuk tapa pepe di tengah alun-alun yang berkalung besi itu. Tatapan yang menahan aku untuk mencorat-coret tembok dengan jargon-jargon kritik. Tatapan yang mencegahku lari telanjang masuk kepatihan sambil berteriak “Jogja ora didol!”

Oh puan, kamu adalah rantai bagi genderuwo subversif di dalam dadaku. Tatapan brengsek itu berhasil meredam sedikit amarah tak masuk akal. Ya, tatapanmu memang berengsek. Tatapan aparat memang membuat suaraku serak dan hati-hati. Tapi tatapanmu benar-benar melunakkan kepala yang keras ini.

Yah, meskipun tatapanmu tak pernah cukup. Maafkan aku yang sering membuatmu khawatir pada perilaku yang kamu bilang kelewatan itu. Meskipun pelukmu memaksa aku untuk mundur dari geger gedhen ini, tapi aku masih saja berontak.

TERKAIT:  Sehemat-hematnya Kuliah di Jogja, Lebih Hemat Kuliah di Magelang

Pelukmu memang dingin, dan itu yang aku inginkan. Karena aku masih mendapat pelukan hangat ibuku ketika hatiku beku. Pelukan dinginmu menyejukkan bara api kebencian pada ketimpangan yang terstruktur dan masif ini. Dan jujur, pelukan itu yang selalu kurindukan setiap jariku menari di atas keyboard notebook butut ini.

Ah, aku terlalu meracau untuk mengagumimu. Terlalu memaksa orang lain ikut kagum padamu. Izinkan aku menyatakan sesuatu padamu. Entah kamu pandang sebagai pembelaan, atau sekadar omong kosong seperti dongeng-dongeng partisanku.

Puan, maafkan aku. Aku tak benar-benar mencintaimu. Sebagian kolom hatiku masih ada untuk monarki. Ya, membenci monarki memang cintaku dan lain. Jangan paksakan diri untuk merebut ruang itu. Karena dia hadir seperti kamu yang juga hadir pada hidupku.

Jangan kamu paksa aku untuk berhenti membenci. Sedikitpun jangan. Jika kamu masih mencintai aku, maka aku bukanlah seonggok daging yang bergerak karena impuls listrik. Sesungguhnya, yang kamu cintai jugalah aku sebagai ide. Menyunat kebencianku hanya menghadirkan makhluk berbeda dari yang kamu kecup dahinya setiap mengumpat itu.

Izinkan aku mewakafkan sebagian waktuku untuk ini. Bukan karena aku ingin jadi pahlawan seperti JRX. Bukan pula karena mimpi-mimpi dunia sejahtera ala mas-mas progresif. Aku membenci karena aku ingin. Aku marah karena itu aku. Aku mengkritik, maka aku ada.

Apakah kamu ingin berjudi dengan memangkas sumber kehidupanku ini? Apakah kamu ingin melihat aku yang tidak seperti ini? Apakah kamu ingin aku merasa bersalah karena memilih jalan terjal ini?

Bagaimana aku bisa merasa bersalah pada kebencianku? Bagaimana aku bisa merasa bersalah pada sesuatu, ketika benakku berkata, ini hanyalah satu-satunya hal yang benar kulakukan?

TERKAIT:  Lebih Memilih Terlihat Hancur daripada Terlihat Baik-baik Saja

Tapi bukan berarti aku habis untuk melacurkan diri pada angkara murka. Cintaku padamu tetaplah nyata. Dan cinta ini tanpa gimmick. Aku tak mencintaimu seperti Sid Vicious. Aku tak mencintaimu seperti JRX. Aku akan mencintaimu sebagai aku. Ya, aku yang menjadi alasanmu untuk menolak pria lain.

Di antara mantra-mantra serapahku, tetap ada kata “i love you” untukmu. Di antara kerinduanku pada UMR yang layak, ada “i miss you” padamu. Di antara asap jalanan tempatku melihat ketimpangan sosial, ada “i need you” bagimu. Di setiap langkah di tengah gurita monarki ini, aku akan selalu datang kepadamu.

Dan kupastikan, akhir buruk bagi mereka yang menyakitimu dulu dan sekarang. Kupastikan mereka akan merasakan sakit yang teramat sakit, sampai sakit yang kamu rasakan hanya seperti gigitan semut bagi mereka.

Tapi sekali lagi, aku tak bisa berhenti membenci. Dan aku tak bisa berhenti tersenyum kecut setiap mulutmu mengeluarkan wejangan. Kamu anggap aku ini bebal? Oh kekasih, kebebalan ini adalah versi lite dariku. Tanpamu, aku adalah manusia jalang dari gerombolan yang terbuang.

Tetaplah menjagaku. Tetaplah menjadi partner sepadanku. Tetaplah menjadi muara luapan cintaku. Tetaplah jadi rumahku untuk pulang. Meskipun seluruh dunia satu suara mengutukku sebagai bajingan. Aku tak meminta, tapi aku memohon.

Kurindu kamu selalu. Kurapalkan namamu dalam harapanku. Tapi aku tetaplah aku. Ku tahu, suaraku tak pernah merdu seperti milikmu. Tapi izinkan aku bernyanyi untukmu seorang.

The world is waking outside my window

Bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao

Drag my senses into the sunlight

For there are things that I must do

Wish me luck now, I have to leave you

Bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao

With my friends now up to the city

We’re going to shake The Gates of Hell

And I will tell them – we will tell them

Bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao

That our sunlight is not for franchise

And wish the bastards drop down dead

Next time you see me I may be smilling

Bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao

I’ll be in prison or on the TV

I’ll say, “the sunlight dragged me here!”

Penuh cinta 

TERKAIT:  Rumah Sakit dan Suasana Kematian, Dua Hal Traumatis yang Susah Sekali Dihilangkan

Your guilty pleasure

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *