Bingkisan Lebaran untuk Terminal Giwangan

terminal giwangan

susahtidur.net – Wajah kuyu tidak karena kurang minum. Lemas bukan main walau tidak sedang kalah judi. Sarapan? Ah, sudah menjadi sajian pagi tadi, kebetulan dimasakkan oleh bini. Kabar buruk dari langit menimpa mereka bahwa lebaran nanti, mudik kembali tidak direstui. Pemerintah melarang mudik tahun ini mulai tanggal 6 sampai 17 Mei, 2021. Larangan mudik ini bukan hanya kepada masyarakat, melainkan untuk sipil negara (ASN), TNI—Polri, dan karyawan swasta dan mandiri.

Jawabannya jelas, Covid-19 masih menghantui negeri ini. kebijakan yang salah dari pemerintah sejak awal, mengakibatkan masyarakat akar rumput menelan pil pahit. Amat pahit. Lebaran, di mana hari yang menjadi kemenangan umat Muslim, bak sel mati yang tak bisa diubah-ubah lagi. Mudik adalah tradisi, larangan mudik kini menjadi normalisasi.

Mau tahu titik lucunya bagaimana? Begini; Ketika masyarakat akar rumput menjerit dan menangis karena mudik kembali dilarang akibat Covid-19 yang masih menghantui, Presiden kita tersayang justru menghadiri kondangan yang tidak mashooook babar blas dalam agenda negara. Benar, silakan tertawa sebelum tawamu itu dilarang dan dibuatkan undang-undangnya oleh anaknya Ibu Mega.

Ketika RI 1 pergi mengunjungi pernikahan YouTuber nomor satu sedunia akhirat, manusia-manusia di Terminal Giwangan ini sedang bermuram lantaran Lebaran nanti, tempat ini sepi lagi. Sepi untuk yang kedua kalinya. Mereka bak menyeret tanah kuburan untuk nantinya mengubur perayaan atas hari raya dengan pelan-pelan. Anak di rumah menanti baju baru, orangtua di kampung senantiasa menunggu. Haru biru 1 Syawal adalah nestapa baru lantaran mereka tak bisa memberi uang tempel bagi yang terkasih—pula bagi yang tersayang.

Arti lain, tumpang-tindih aturan dari atas ke bawah justru dicelakai sendiri oleh si pembuat aturan. Ya, seperti guyonan yang selalu dibawa dari jalan ke jalan; aturan dibuat untuk dilanggar. Nahasnya, aturan kali ini dilanggar sendiri oleh si pemangku jabatan. Tepuk tangan paling meriah, saya perkenankan.

TERKAIT:  Upaya Melawan Rezim Politik dengan Petisi yang Tampak Sia-sia

Mudik tidak diperkenankan, bus yang melewati antar-provinsi harus melalui pengecekan yang ketat, petugas terminal dan calo entah bagaimana cara mereka merayakan hari kemenangan, dan terminal menjadi perumahan elit bagi sepi yang menyingsing. Betapa bijaknya, Bapak Presiden yang satu ini.

Berpangku tangan kepada pemerintah daerah? Itu namanya cari mati. Mereka hanya paham apa yang terjadi di Tugu dan sekitarnya saja. Riuh rendah wisatawan, di pusatkan di pusat kota saja. kita berjingkrak karena Malioboro ramai, lihat itu di sekitaran Ring Road, mereka dapat apa. Jangan tanya Terminal Giwangan kebagian penumpang atau tidak, yang mereka saksikan hanyalah nyanyian sunyi dari roda-roda bus yang bisu.

Kebagian apa kaum suburban? Bingkisan dari ibukota yang bernama sampah. Anjuran untuk tidak keluar saat tahun baru lalu adalah gebrakan akbar bahwa pemerintah daerah sejatinya hanya mau kenyang sendiri. Yang penting nrimo ing kemiskinan, ketimpangan, lan ketidakadilan. Kaum suburban, bak kuda pacu yang tua renta, bersaing dengan jagoan yang menang dalam lima laga secara beruntun. Pusat kota dan suburban adalah perbandingan langit dan bumi yang begitu nyata.

Tentu bagi mereka yang memiliki rumah bak istana, anjuran tidak mudik bukan masalah. Lain halnya dengan mereka yang hidup dan tumbuh dalam kultur Terminal Giwangan. Tidak mudik, ya itu berarti tidak makan. Mudik adalah hari raya yang sesungguhnya bagi mereka. Hari raya mendapatkan uang, guna menyongsong hari raya yang katanya penuh dengan pintu maaf. Hari raya yang penuh dengan show-off perihal “apa” dan “bagaimana”.

Lebaran untuk Terminal Giwangan adalah sebuah kado besar bernama kesepian. Narasi besar akan kemiskinan, pencarian uang yang menjadi sejarah panjang pergulatan nasib umat manusia untuk hidup dan bertahan. Lebaran penuh dengan kemenangan, tidak dengan para pekerja Terminal Giwangan tahun ini yang penuh akan kemalangan.

TERKAIT:  Iwan Bule yang Narsis saat Sepak Bola Indonesia Amat Miris

Di Terminal Giwangan tahun ini, tidak ada cerita-cerita yang diseret dari langit macam Ilias dan Odisseia. Kiat sukses, agaknya cocok untuk sekadar dikencingi atau diludahi. Tuhan memang ada, namun ia menunggu. Saya? Hanya si pembawa narasi yang tak tahu bagaimana nasib manusia-manusia ini nantinya. Ini adalah perjalanan panjang umat manusia di Terminal Giwangan, dalam menghimpun barang beberapa rupiah, diubahnya menjadi satu suap nasi yang nantinya menjadi energi.

Wahai para petinggi negeri ini, mau saya kasih hati? Hati nurani, barangkali?

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *