Teror

teror

DUAR! Daging-daging berhamburan, tempat ibadah minoritas meledak lagi! Teror yang terjadi di Mabes Polri Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (31/3/2021) terjadi akibat satu jaringan dengan bom bunuh diri yang meledak di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021). Kapan kami bisa merasakan beribadah dengan aman? Atau lebih sederhana, di mana kami bisa merasakan ibadah dengan aman tanpa tekanan?

Yang jelas dalam tulisan ini saya ingin menyunggi setinggi langit apa itu yang namanya agama. Bukan bermaksud mengembalikan agama ke langit–yang memang muaranya berasal dari langit–tapi saya ingin berargumen bahwa aksi teror yang berlangsung beberapa hari ini memang bukan agama penyebabnya. Lantas siapa yang salah? PEMERINTAH.

Ini adalah tulisan yang dibuat oleh salah satu buzzer pemerintah. Sungguh. Ya, tulisan ini tercipta layaknya pemerintah saat berargumen dan mengambil kebijakan. Arti lain; suka-suka. Namun tenang, bedanya tulisan ini dengan pemerintah adalah tulisan ini buat secara sadar dan penuh pertimbangan karena saya mafhum, saya tak punya kuasa apa-apa layaknya pemerintah yang duduk nyaman di tampuk kekuasaan, keluar ketika ada problem, lantas berargumen, “Ini tidak ada hubungannya dengan agama.”

Ah, asu, lagi-lagi saya akan memulai; inilah Rata Kiri.

**

Anggaplah agama ini seperti sebuah prodak obat kuat. Bagaimana pun, suatu prodak menawarkan yang terbaik, tidak mungkin bermaksud memberikan yang buruk kepada pelanggannya. Sehina-hinanya obat kuat di mata masyarakat, toh tujuannya baik, bukan? Jika obat kuat bikin tahan ngaceng kepada penis, agama bikin tenang bagi para agamis.

Apa pun itu, suatu prodak ada efek sampingnya. Ya, prodak apa pun. Sesepele-sepelenya prodak Kinder Joy, efek sampingnya adalah menggembosi uang orangtua. Makanya, bak sebuah prodak, agama juga memiliki efek samping entah bahaya atau justru menyenangkan. Banyak narasi yang menyatakan bahwa agama itu menenangkan, banyak pula yang mengatakan sebaliknya.

Barangkali analogi yang saya tawarkan terlalu prematur. Bagaimana bisa sebuah agama disamakan dengan obat kuat? Namun kembali lagi, obat kuat itu bisa membuat pengguna jasanya tahan lama lantaran sugesti, bisa juga mengakibatkan kecanduan karena menurutnya, ia tidak percaya diri tanpa menggunakan obat kuat sebelum berhubungan intim. Agama juga, agama apa pun, bahkan mereka penyembah dinamo, akan melahirkan efek-efek seperti tenang, stabil, atau justru merusak dan ofensif. Ini semua lantaran sugesti yang dihadirkan oleh otak.

TERKAIT:  4 Alasan Mengapa Jadi Alumni Pesantren itu Nggak Enak

Agama melahirkan iman. Sedangkan iman datang dari sebuah imaji dalam lanskap masyarakat religius. Etik dan dialektik akan berpengaruh kepada iman yang menghimpun sebuah sistem masyarakat. Proses etik tadi pasti akan dibenturkan kepada norma-norma yang dibangun oleh agama. Sayangnya, lanskap masyarakat seperti ini ada—alih-alih menyebut sebagai utopi—namun amat jarang ditemui di sebuah zaman yang penuh dengan luka.

Iman terlahir kepada sebuah wakil yang akan disebut oleh para alim dengan sebutan Mesiah. Homer mencipta The Iliad and the Odyssey dengan dewa-dewanya, agama langit punya Nabi, agama sepakbola punya Maradona, agama dinamo punya Anak Emas dari Tomia. Sistem ini menciptakan wakil Tuhan, kata-katanya adalah sebuah petuah dengan derajad yang tinggi.

Sedang iman berkawan dengan nalar. Dua hal ini adalah sebuah sahabat yang tak bisa dipisahkan begitu saja. Iman sebagai menara gading, sedang nalar adalah penghuni tempat paling kumuh yang—katanya—membawa realita lebih nyata. Nalar sendiri mempertanyakan keabsolutan iman. Suatu hal yang absolut, bisa menghadirkan sebuah konflik yang bersifat vertikal. Para “kuasa” bisa menindas elemen yang lebih bawah dan kecil darinya.

Meminjam argumen Kolom Rehal, dalam tulisan berjudul “Islam: Narasi Pro Kekerasan dan Aksi Terorisme” menyebutkan bahwa semua—aksi teror—bermula dari misinterpretasi terhadap teks kitab suci. Lebih lanjut, mereka hanya berhenti dari masalah teks, tidak melanjutkan kepada kontekstualisasi.

Pun ketika otak saya bermain di Kolom Opini, melalui tulisan “Kritik Kepada Normalisasi Radikalisme: Tidak Ada yang Meledakkan Diri Demi Nihilisme“, saya dapat hal menarik. Dengan kata-kata bak penulis fiksi, Prabu menuliskan begini,

“Radikalisme berbasis agama adalah duri dalam daging. Sayangnya, duri ini diabaikan bahkan dihias dengan narasi yang nir humanis. Perihnya diobati dengan candu nilai-nilai ilahiah yang tambal sulam. Kemudian semuanya dibalut oleh sikap abai dan solidaritas sebatas lilin menyala dan tagar.”

Padahal, kekerasan yang hadir dalam proses beragama ini bukan hanya secara vertikal kepada sang transenden saja, bahkan iman yang sifatnya absolut ini menyebabkan kekerasan yang bersifat horizontal. Ketika dunia menawarkan agama-agama, entah dari langit atau dari batu sekalipun, mereka punya keteguhan dan “iman” dalam takaran masing-masing, lini masa selama berputarnya bumi kepada porosnya, konflik yang berlandaskan agama selalu terjadi dan berkelindan menyertainya.

TERKAIT:  Agama adalah Kabar Buruk dari Langit

Dogma agama menjadi manusia asing kepada dirinya sendiri, begitu konsep yang ditawarkan oleh sebuah masa bernama Renaissance. Sebuah lini masa yang bertujuan membayar lunas dari agama yang dianggap sebagai penghambat laju peradaban. Bak sebuah sayur, peradaban ditaburi bumbu penyedap bernama sifat skeptis dengan nama merek bernama iman. Sedangkan pengaduknya—sebagai sendok—adalah nalar.

Dogma bahwa iman yang absolut ini melahirkan sebuah pergeseran otoritas manusia kepada pikirannya, melahirkan sebuah ketegangan dalam pelukan bernama doktrin humanisme. Di lini masa inilah sekularisasi, yakni pemisahan perangkat masyarakat dengan agama, terjadi secara besar-besaran. Hingga muncul negara sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan masyarakat.

Konflik yang bersifat horizontal terasa aman frontal. Dalam negara sekuler, pemisahan agama ini justru menghadirkan kekuatan otoriter dalam bentuk lain. Cita-cita masyarakat terbuka tanpa kekerasan, menjadikan terorisme menjadi musuh mereka dan memberangus sebisa mungkin. Kedua hal ini menjadi kontradiktif lantaran kedua belah pihak ingkar kepada cita-cita awalnya.

Dalam salah satu narasi terorisme modern sendiri, melawan negara sekuler barat merupakan bentuk pembebasan dari pemberangusan dan pemisahan agama dari sistem masyarakat. Dari konflik yang bersifat horizontal seperti ini, seakan menjadi pemakluman bahwa kitab-kitab ditafsirkan hanya sebagai onani kebutuhan oknum dalam memberikan label halal bagi aksi mereka.

Nalar dan iman saling pukul. Layaknya suatu prodak, yang memiliki kuasa penuh atas prodak tersebut adalah pemakainya. Sedang yang bertanggung jawab akan memberikan izin edar, tentu saja pemerintah. Sama seperti agama, ketika negara menganggap selesai permasalahan absolut seperti agama, padahal kita baru saja menjajaki kaki dalam sebuah masa yang baru, di mana agama harus kembali dipertanyakan dan dikaji ulang. Pun dengan nalar dan segala prodaknya.

Alih-alih mengakomodasi mereka—nalar dan iman—melakukan proses yang bersifat dialektis, negara kita justru dari waktu ke waktu menyiram minyak di tengah bara api yang berkobar. Di negara kita, iman yang menjadi absolut dan nalar yang didewakan, menjadi sebuah pengeruh suasana ketika akar aksi teror ini tidak pernah kita temukan penyebabnya.

TERKAIT:  Sila Keenam: Kebinatangan yang Adil dan Beradab

“Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apa pun. Semua ajaran agama menolak terorisme, apapun alasannya,” begitu yang dikatakan… Bukan, yang mengatakan ini bukan anak SMA yang sedang presentasi mata pelajaran PKN. Melainkan seorang Menteri Polhukam.

Dari aksi teror ke aksi teror lainnya, melihat apa yang dikatakan oleh Menteri Polhukam di atas, selama ini negara memposisikan diri bak penonton dan pemandu sorak belaka. Nihil kajian lebih dalam, kosong dalam sebuah pengaplikasiannya. Konflik horizontal saling tuding lantaran aksi teror disebabkan oleh melesetnya iman dan overkapasitas nalar terjadi, sedang negara selalu stagnan dalam mengolah dan memilah.

Yang diperlukan oleh negara sejatinya adalah sisi terbuka. Tidak pernah pemerintah membuka sebuah dialektik yang membawa genealogi terorisme di Indonesia. Misalkan pecahan Al-Qaeda dan ISIS yang selama ini “mendominasi” teror di Indonesia. Yang membedakan hanya sifat jihadnya saja.

Dilansir dari postingan Facebook Kardono Setyorakhmadi yang juga naik di Mojok, sifat jihad Al-Qaeda ini ofensif. Artinya, sasaran serangan mereka benar-benar dipilih khusus dan direncanakan khusus pula. Sasaran mereka biasanya militer dan far enemy (musuh jauh seperti langsung ke AS). Sedangkan ISIS menyerang near enemy, dua aksi teror yang terjadi salah satu contohnya.

Bagaimana masyarakat kita mengikuti doktrin yang dikutuk oleh kemanusiaan macam itu? Jawabanya adalah bebasnya negara kita dari kontrol melesetnya iman dan overkapasitas nalar.

Negara terlalu ambil jalan aman, yakni memilih mencekoki masyarakat dengan sebuah zat penenang yang justru terlihat bodoh. Alih-alih membuka ruang untuk berdiskusi, mereka justru terlalu banyak omong dengan kata-kata yang sejatinya lebih ngelantur dari orang mabuk sekalipun. Aksi teror tidak ada kaitannya dengan agama? Puh!

Saya suka narasi, “Apa-apa menyalahkan pemerintah!” Jika maunya tidak disalahkan, ada jalan lain selain bekerja dengan sungguh-sungguh, kok. Sungguh, saya tidak sedang berguyon. Ya, benar, balik kanan, bubar jalan.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *