Surat Cinta dari Aku Seorang Eldia untuk Kamu Seorang Marley

eldia marley

Aku seorang Eldia yang kebetulan mencintai seorang gadis keturunan Marley. Cinta beda agama itu masih masuk kategori sederhana, nah cinta kami ini sudah masuk tahap yang luar biasa. Kami saling jatuh cinta atas dasar ras yang memiliki latar belakang sentimental tinggi.

Dengan berbagai sentimen yang cukup ekstrem, bagaimana caranya kami menjaga hubungan tabu macam ini? Oh, tentu saja, salah satunya melalui sepucuk surat dan ini adalah salah satu contohnya. Surat terakhir dariku, untuk pacarku, Ann.

**

Bagaimana kabarmu, Ann? Semoga baik-baik saja. Kau tak usah bertanya kabarku lantaran getir adalah jawaban yang akan aku sajikan untukmu. Ya, Ann, aku masih bekerja di sebuah bar di Liberio yang suntuk ini.

Kau mau tahu hari ini aku dapat pelajaran hidup apa saja? Begini rinciannya; tiga kali aku diludahi, lima kali ditendang, puluhan kali dicaci-maki, dan tentu saja ribuan kali dipandang rendah lantaran aku seorang Eldia.

Benar, Ann, aku Eldia yang nekat mencintai seorang Marley sepertimu. Bahkan di luar sana, ada seorang istri yang menenggak racun bersama anaknya lantaran kedapatan sebuah kabar bahwa suaminya, memiliki darah Eldia dalam tubuhnya.

Pun dengan berbagai media, salah satunya Kedaulatan Liberio yang mengatakan bahwa iblis-iblis di Pulau Paradis mulai bergerak. Mereka, Ann, mereka yang merupakan saksi keruntuhan dari Kerajaan Eldia di tampuk kuasa Raja Frizt ke-145.

Makin diskriminatif saja dunia ini kepada Eldian sepertiku, Ann. Lantas dengan penuh risiko, kok ya bisa kamu menyatakan mau atas tresno iki, Ann?

Kata mereka, ras keturunanku adalah pembunuh keji. Yang ada dipikiranku, bahkan membunuh orang pun aku tak pernah. Pastilah aku tak bisa. Memegang pisau dan menghunus anjing saja aku tak pernah, Ann, apalagi merajam tubuh manusia.

TERKAIT:  Sambat Wanita Mandiri Yang Mabok Pertanyaan Kapan Nikah

Bukankah yang keji dalam sejarah versi ras mu, Marleyan, itu adalah nenek moyangku? Ribuan tahun yang lalu. Apakah aku diperlakukan tidak adil lantaran aku adalah keturunan orang keji? Sungguh, aku tak mengerti dengan kahanan macam ini. Juuhhh juhhh.

Menjadi Eldia di Liberio itu susah susah gampang, Ann. Tapi kebanyakan susahnya, sih. Susahnya karena sifat diskriminatif kaum Marley. Kami manusia, namun diperlukan seperti anjing jalanan yang kurus dan siap untuk mati. Itu susahnya. Nah, jika gampangnya ya jelas karena aku bukan satu-satunya Eldian di sini. Arti lainnya, aku juga melihat kawan-kawanku diludahi dan ditendangi.

Dunia memang nggak pernah adil untuk orang yang sedang jatuh cinta, bukan? Itulah yang aku alami. Ban merah dengan logo bintang segi enam di lenganku ini seakan menjadi kartu mati bahwa hubunganku dengan Marley, siapapun itu, termasuk dengan dirimu, Ann, terdapat sekat yang amat lebar.

Kemajuan teknologi tak membantu pikiran picik manusia rasis untuk bergerak ke mana-mana. Yang ada di pikiran mereka tentu luka masa lalu, padahal hidup berdampingan adalah sesuatu yang melengkapi definisi indah. Hidup kita, sebagai Marley dan Eldia, terkungkung dalam dogma sejarah.

Aku tersedu kala banyak orang melihatku bukan dari kapabilitas, namun dari ras. Mereka berkata bahwa aku tinggal di sebuah kawasan yang merupakan korban keganasan bangsa Eldia di masa lampau. Jika aku bisa memilih jalannya hidup, tentu aku tak mau seperti ini. Aku mau mencintaimu dengan damai.

Ketika kita menabur cinta, pangkalan militer Marley tengah sibuk menggempur negara-negara tetangga. Kekuatan Titan seakan menjadi pesona pudarnya kemanusiaan. 7 dari 9 kekuatan Titan Ymir, yang semula mereka benci, justru menjadi kekuatan utama untuk menghegemoni.

TERKAIT:  Daftar Benda yang Sering Ngilang Secara Ajaib

Ann, Ann Ksaver, esok aku tak lagi bekerja di bar. Pun tak lagi menginjakan kaki di tanah penampungan bernama Liberio. Kau tahu, Ann, aku terpilih menjadi pasukan Marley dalam rangka pertempuran dengan aliansi Timur Tengah. Kata mereka, tugasku mudah, hanya duduk di pesawat terbang dan kemudian di lempar dari ketinggian.

Ann, semoga dengan terpilihnya aku menjadi pasukan tersebut, menjadi sebuah pintu gerbang bahwa aku bisa bersanding denganmu. Sebuah babak bahwa aku akan melepas ban merah dengan bintang segi sembilan yang tersemat di tengahnya. Ann, aku butuh kesetaraan.

Esok aku akan berperang. Membawa panji Eldia di tanah penampungan. Juga membawa rasa cinta kita yang terbentur ras dan kepercayaan.

Dari aku, Gustav Yeager, untuk Ann Ksaver.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *