Kritik Kepada Normalisasi Radikalisme: Tidak Ada yang Meledakkan Diri Demi Nihilisme

thewalrus

Normalisasi Radikalisme – Lidah orang Indonesia seperti terjerat saat berbicara terorisme dan radikalisme. Seperti pada tragedi pengeboman Gereja Katedral Makassar, opini publik mengerucut pada “terorisme bukan Islam.” Tentu saudara yang beragama Islam tidak sampai hati untuk diidentifikasi sebagai agama teroris.

Saya menghargai perasaan mereka. Tentu tidak ada yang terima ketika agama yang dipandang sebagai keselamatan ilahi dicap sebagai perusak. Di satu sisi saya juga menghargai perasaan golongan Katholik yang menjadi korban dalam tragedi ini.

Namun di satu sisi saya menyayangkan opini demikian. Politik identitas menjebak benak masyarakat dalam pusaran kambing hitam. Di mana identitas agama menambah keruwetan dalam tragedi berdarah. Kadang kita harus berani jujur bahwa agama bisa menjadi landasan perenggutan hak hidup seseorang.

Mari kita awali dari bagaimana seseorang memandang agama. Terutama agama terstruktur dan masif seperti agama samawi atau abrahamik: Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketiga agama ini berperan dalam pengotakan masyarakat dunia.

Memang, semangat yang diusung tidak serta merta memuliakan penggolongan. Bukankah setiap agama menyuarakan nilai-nilai toleransi? Tetapi masyarakat sebagai kelompok sosial menggunakan agama sebagai identitas. Dan dari sini masyarakat terkotak dalam kelompok homogen.

Kelompok ini akan menjaga identitas, berikut adat budayanya, sebagai kepemilikan bersama. Pengaruh adat budaya dari kelompok lain akan difilter bahkan ditahan demi menjaga identitas yang telah dimiliki. Distraksi budaya akibat pertemuan dua kelompok ini dipandang sebagai kesalahan, atau dosa ketika bicara agama.

Baiklah, saya tidak perlu bertele-tele membahas sudut pandang dasar. Anda sudah menangkap bahwa identitas agama itu nyata. Mari kita lanjutkan pada urusan radikalisme. Karena lahirnya radikalisme tidak lepas dari identitas ini.

TERKAIT:  Pornografi, Kontrasepsi, dan Pentingnya Edukasi tentang Seks

Radikalisme, seperti namanya, adalah paham yang memiliki pandangan radikal pada sesuatu. Salah satunya adalah pandangan terhadap identitas agama. Berawal dari menjaga kemurnian dan kesucian identitas agamanya, berakhir dengan pandangan radikal terhadap identitas agama lain.

Sudut pandang ini diimplementasikan dalam tindakan agresif pada agama lain. Dengan alasan yang dipercayai kelompok tersebut, maka serangan pada kelompok agama lain dipandang legal. Entah menjaga kemurnian, kesucian, bahkan alasan upah besar di kehidupan berikutnya.

Apakah Anda menangkap apa yang saya maksud? Radikalisme tidak bisa dinarasikan sebagai golongan tak beragama! Apalagi jika diimplementasikan demi menjaga identitas agama. Pengeboman di Makasar, Bom Bali, krisis Rohingya, sampai penembakan di New Zealand tidak lahir dari kehampaan. Tidak pula dilandasi oleh kegabutan saja.

Radikalisme dan terorisme berdasar agama memang ada. Jangan munafik!

Memandang radikalisme sebagai hal normal di luar agama hanya akan menafikan upaya pendamaian dan penegakan HAM. Memaksakan diri menyebut terorisme tidak beragama tidak berdampak apa pun selain pembiaran ide-ide radikal untuk tumbuh berkembang.

Radikalisme berbasis agama adalah duri dalam daging. Sayangnya, duri ini diabaikan bahkan dihias dengan narasi yang nir humanis. Perihnya diobati dengan candu nilai-nilai ilahiah yang tambal sulam. Kemudian semuanya dibalut oleh sikap abai dan solidaritas sebatas lilin menyala dan tagar.

Lalu bagaimana kita bisa hidup bebas dari radikalisme dan terorisme? Apakah dengan memusnahkan agama? Atau membangun masyarakat homogen?

Kemungkinan pertama jelas sulit. Karena radikalisme lahir untuk menentang pemusnahan agama. Baik realitas ataupun dogma bajingan yang entah bagaimana bisa hadir. Suara-suara golongan penolak agama hanya menambah legalitas aksi radikalisme. Apalagi agama kini menjadi instrumen otoritas. Kelanggengan otoritas yang cenderung dominan dan merusak umum dikemas dalam balutan agama.

TERKAIT:  Komnas PA, Anjay, dan Potensi di KBBI Edisi Selanjutnya

Bagaimana dengan kemungkinan masyarakat homogen? Ini juga bukan jawaban. Bahkan ketika terbentuk masyarakat yang satu agama (bahkan satu negara), radikalisme tetap muncul sebagai upaya pembelaan keunikan antar individu.

Membayangkan kedamaian absolut adalah hampir mustahil. Kecuali kedamaian semu yang dipaksakan dengan moncong senapan. Keteraturan ala otoritas hanya menyajikan visual damai tentram yang menutupi tekanan pada keberagaman serta keunikan individu.

Menurut saya, kunci menghadapi radikalisme dimulai dari pengakuan. Kita harus mengakui bahwa identitas sosial dapat menimbulkan gesekan. Identitas sosial bisa melahirkan kehancuran, apalagi jika mereduksi keunikan satu sama lain. Dan yang utama, akuilah radikalisme benar-benar berasal dari identitas sosial seperti agama.

Pengakuan ini akan membuka jalan pada penerimaan keunikan individu. Tidak ada individu yang bisa dipaksakan seragam. Bahkan popor senjata hanya membangun teror demi keseragaman. Memahami bahwa setiap manusia itu berhak hidup dalam keunikan akan mereduksi perilaku radikal yang destruktif terhadap keberagaman.

Terdengar seperti mimpi? Memang. Selama kita melacurkan hidup dalam mimpi keseragaman, radikalisme adalah jawabannya. Mungkin ini akan melengkapi sudut pandang perihal radikalisme: Radikalisme lahir sebagai jawaban atas ide busuk yang memaksakan setiap manusia bisa dan harus seragam!

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *