Islam: Narasi Pro Kekerasan dan Aksi Terorisme

does religion cause war?

Agama dan Terorisme – Tanggapan Presiden Jokowi dan Mahfud MD mengenai tragedi bom bunuh diri di salah satu katedral di Makassar, 28  Maret 2021 kemarin benar-benar membagongkan. Coba renungkan saja, setelah rentetan kasus teror—yang mengatasnamakan kelompok Islam—yang terjadi di Indonesia, jebul pemerintah masih belum banyak belajar.

Betapa entengnya respon Pak Jokowi dengan—lagi-lagi—mengatakan, “Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apa pun. Semua ajaran agama menolak terorisme, apa pun alasannya.” Begitu juga yang turut disampaikan oleh Mahfud MD. Dan yang saya garis bawahi di sini, terorisme tidak ada kaitannya dengan agama apa pun.  Pretensi yang juga diamini oleh sebagian banyak umat Islam di Indonesia. Ah, betapa naifnya pernyataan tersebut.

Saya tentu sepakat bahwa tidak ada agama yang mengajarkan terorisme. Tapi jika berkaca dari yang sudah-sudah, sepertinya kita—lebih khusus pemerintah dan umat Islam—bisa menerima kenyataan dengan lebih jujur.

Presiden Jokowi pasti ingin sepenuhnya mengontrol anggapan publik bahwa Indonesia masih baik-baik saja; bahwa tidak ada masalah dengan kerukunan beragama di sini. Kita sebagai umat Islam pun seringkali bersikap denial dengan menyangkal kenyataan bahwa mereka yang melakukan teror terhadap umat agama lain adalah dari kalangan kita sendiri.

Tapi bagaimanapun, kita tetap harus membuka mata, intoleransi dan terorisme benar-benar nyata terjadi. Dan pelakunya bukan dari kelompok orang yang tidak beragama, melainkan dari kelompok agama mayoritas di sini, Islam. Iya, suka tidak suka, terima atau tidak, pelaku terorisme di Indonesia selalu berangkat atas nama Islam. Kita harus lebih jujur untuk mengatakan, kondisi—ke-Islaman—di Indonesia memang sangat bermasalah.

TERKAIT:  Cacatnya Agama Perihal Cinta

Jihad atau Terorisme

Ada begitu banyak faktor nan kompleks yang menjadi motif bagi seseorang untuk menjadi teroris—mereka sih menyebutnya jihadis. Tapi satu saja yang hendak saya singgung di sini, semua bermula dari misinterpretasi terhadap teks kitab suci. Oknum-oknum teroris ini telanjur memahami agama secara skriptualistik, hanya berhenti pada teks, dan menolak sama sekali adanya potensi kontekstualisasi ayat dan pilihan sikap ber-Islam yang lebih inklusif.

Kita mulai dari kata”jihad” yang menjadi basis referensi untuk melancarkan aksi teror dan menamainya sebagai gerakan jihadisme.

Banyak ulama, salah satunya Abou el-Fadl, mengatakan bahwa jihad pada akhirnya tidak melulu soal perang. Al-Quran menggunakan frasa “Jihad”—secara harfiah berarti berjuang di jalan Allah—untuk konteks yang lebih luas. Mengingat ada banyak hal dan/atau amalan yang bernilai berjuang di jalan Allah. Untuk kasus perang, Al-Quran memiliki frasa “Qital”, di mana konteksnya mutlak hanya soal mengangkat senjata, melawan musuh.

Sampai di sini—sebagai intermezzo—ya jelas sangat tidak pas jika oknum-oknum ini menamai diri sebagai kelompok jihadis. Menyandang nama tersebut sudah sangat salah kaprah.

Ada sekian banyak ayat Al-Quran yang berbicara soal batasan-batasan perang. Lebih-lebih perang atas nama agama. Salah satunya adalah Q.S. Mumtahanah: 8-9. Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa Allah Swt. memerintahkan kita (umat Islam) untuk berbuat adil dan berlaku baik kepada setiap orang—termasuk non-muslim—sepanjang mereka tidak memerangi dalam urusan agama dan mengusir kita dari negeri kita sendiri. Allah Swt. hanya melarang kita berdekatan dengan mereka yang memerangi kita dalam urusan agama dan mengusir kita dari tempat tinggal kita.

Dari ayat tersebut—untuk menyikapi kasus terorisme yang baru saja terjdi—poin pentingnya adalah, bahwa oknum teroris sejatinya tidak punya dasar kuat dan alasan yang dibenarkan Al-Quran untuk melancarkan aksinya kepada umat Katolik karena dua catatan. Pertama, umat Katolik tidak pernah memerangi atau bahkan mengusik orang-orang Islam (yang terjadi justru selalu sebaliknya). Apalagi sampai ke tahap yang keuda, mengusir umat Islam dari tempatnya tinggal (lagi-lagi, yang terjadi justru sebaliknya, bukan?).

TERKAIT:  Agama (atau) Ketakutan

Dari ayat tersebut ada juga catatan bahwa Allah Swt. mengizinkan perang hanya ketika dalam kondisi diserang lebih dulu. Atau dengan kata lain, perang adalah opsi untuk defensif, dan tidak dibenarkan untuk menyerang padahal tidak dalam keadaan terusik (ofensif). Pertanyaannya, apakah selama ini umat Katolik pernah menyerang dan mengusik orang Islam lebih dulu, sampai-sampai harus melawannya dengan bom bunuh diri? Tidak pernah. Dan ini semakin mempertegas bahwa oknum-oknum teroris—yang beragama Islam—ini tidak memiliki alasan yang dibenarkan oleh Al-Quran.

Diperkuat dengan ayat lain, yakni dalam Q.S. al-Taubah: 36 yang berisi perintah agar umat Islam memerangi kelompok orang musyrik (kafir). Namun dengan catatan, jika orang-orang musyrik itu telah memerangi umat Islam. Semakin mempertegas kecaman terhadap aksi teror yang dilakukan oleh “oknum-oknum jihadis” ini.

Namun, pemahaman agama yang tekstualis pada gilirannya menggiring orang-orang ini pada obsesi kebencian yang sangat dalam kepada yang mereka anggap sebagai kafir. Dan umumnya, sasaran empuk mereka adalah orang-orang non-muslim. Bagi mereka, non-muslim adalah kafir, dan setiap kafir halal darahnya (wajib diperangi). Pertanyaan selanjutnya, apakah non-muslim memang identik dengan label kafir yang dihalalkan darahnya? Jawabannya bisa Anda raba-raba di tulisan lain saya berjudul, “Sejak Kapan Non-Muslim Identik dengan Label Kafir yang Dihalalkan Darahnya“.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *