Catatan Menuju Ketinggian #3

Satu hari saat hubungan kita benar-benar usai adalah hari paling panjang dan kosong yang pernah kulewati. Tak henti-hentinya aku mengutuk diriku sendiri. Tak habis-habisnya aku merutuki ketidakbecusanku dalam memanfaatkan kesempatan demi kesempatan yang pernah kamu berikan, agar aku berbenah, agar di matamu aku tidak selalu salah.

Tapi beginilah akhirnya kita, dan aku sama sekali tidak ingin membela diri. Aku menghormati setiap keputusan dan jalan yang kamu pilih. Setidaknya untuk yang terakhir kali ini.

Andai saja aku boleh memilih, tentunya aku ingin hubungan ini berakhir dengan penuh kerelaan dan penerimaan, sebagaiamana saat hubungan ini berawal. Kamu menerimaku justru di saat banyak orang di sekitarmu menilaiku sebalah mata. Kamu membukakan hati untukku bahkan ketika orang-orang di sekelilingmu menganggapku tak pantas. Sebuah penerimaan yang harusnya kuganti dengan memberikan kebahagiaan kepadamu. Maafkan aku, sungguh, maafkan aku jika setiap yang kulakukan untukmu justru tak berarti apa pun.

Satu hari di pertengahan bulan Juli itu, sedianya aku ingin menutup halaman tiga tahun (menginjak empat tahun) hubungan kita dengan kata-kata paling indah, walau untuk sebuah cerita yang berisi lara dan kecewa. Aku ingin  kita mengakhirinya dengan sebuah jabat tangan. Kita masih bisa berteman, bukan? Atau kalau toh kemudian kita menjadi benar-benar asing dan tak pernah bertegur sapa lagi, paling tidak hari itu adalah hari terkahirku bisa menggenggam tanganmu, sebelum akhirnya perlahan-lahan harus kulepaskan.

Tapi aku tahu belaka, amarahmu sudah memuncak dan sabarmu sudah ada pada batasnya. Sehingga satu-satunya yang bisa kurekam dalam ingatanku hanyalah wajahmu yang penuh kebencian.

Aku mencintaimu sudah teramat dalam. Itulah kenapa melupakanmu menjadi sesuatu yang sangat tidak mudah untuk kulakukan. Kehilanganmu sama artinya dengan kehilangan separuh dari alasanku untuk terus berjalan mengarungi hidup yang keterlaluan ini. Aku seperti kehilangan dukungan untuk selalu percaya diri dengan mimpi-mimpiku sendiri. Atau jika boleh agak berlebihan, barangkali aku nyaris seperti Qais yang terlunta-lunta oleh sebab cintanya yang direnggut dari Layla. Terdengar nggilani memang, tapi memang begitulah yang terjadi.

TERKAIT:  Rumah Sakit dan Suasana Kematian, Dua Hal Traumatis yang Susah Sekali Dihilangkan

Di satu hari yang hanya kulewati dengan tatapan kosong, sebats berbatang-batang, dan menenggak dua botol alkohol sendirian itu, terbesit sebuah ide cukup gila. Aku berniat mendaki gunung Prau, sendiri saja.

Bagi seorang pemula—yang sebelumnya sama sekali tidak pernah mendaki—melewati pendakian pertama seorang diri adalah kelakuan yang tidak bisa dibenarkan. Terlebih lagi, selain belum pernah berjalan menyusuri ketinggian, aku punya riwayat tak begitu tahan dengan suhu rendah. Tapi pikiranku sedang sangat keruh. Aku hanya ingin pergi jauh, sendiri, menenangkan diri, itu saja. Bodoamat terjadi kecelakaan di jalan, bodoamat jika aku terserang hipotermia. Saat itu, aku benar-benar ingin seperti yang dikatakan Soekarno: ….ingin sendiri saja, bersama angin, lalu meneteskan air mata.

Di titik itulah, aku benar-benar bersyukur memiliki teman baik sepeti Sohibul Buroq—biasa dipanggil Sohib—lelaki asal Madura yang unik, walaupun kadangkala memang merepotkan. Orang yang selama tiga tahun terkahir menghabiskan malam-malamnya menginap di kostku, gratisan, dan membuatku harus sering mencari-cari alasan setiap kali ibu kost mencecarku dengan macam-macam pertanyaan. Lelaki yang sebetulnya tak tampan-tampan amat, tapi entah kenapa bisa sering gonta-ganti pacar. Pernah kuceritakan padamu kalau kamu ingat.

Dia menawariku ke Lawu, berangkat bersama rombongan enam orang lainnya dari Surabaya. Semula aku ingin menolaknya, tapi setelah kupikir-pikir dengan pikiran yang sedikit lebih waras, baik, aku sepakat untuk berangkat sesuai waktu yang sudah direncanakan. Dan kamu tahu betul hari keberangkatanku.

Karena sehari sebelum berangkat ke Lawu, dalam perjalanan Rembang-Surabaya, aku menyempatkan diri singgah di rumahmu. Hari itu sekitar pukul setengah delapan pagi kalau ingatanku tak meleset. Jam-jam di mana kamu masih tertidur pulas setelah bergadang semalaman, satu dari sekian kebiasaanmu yang masih kuhapal.

TERKAIT:  Valentine dan Kelindan Agama di Sekitar Kita

Aku berniat berpamitan denganmu. Lain itu, aku membawakanmu sarapan yang biasanya kamu pesan. Setelah semuanya berakhir dan setelah kamu menegaskan tidak ingin bertemu denganku lagi, mampir ke rumahmu, berniat pemitan, ditambah membawakan sepaket sarapan, tentu menjadi ide yang sangat goblok sekali. Dasar memang tak tahu diri.

Ketidaktahudirian yang memang layak kamu balas dengan pilihan sikapmu untuk tidak membukakan pintu untukku. Kamu membisu di dalam, bahkan saat berkali-kali aku beruluk salam dari luar. Sikap dingin yang akhirnya membuatku menyerah dan memilih meletakkan bingkisan sarapan itu persis di depan pintu, entah bakal kamu ambil atau justru kamu buang di tong sampah. Juga sepucuk surat, yang entah kamu baca atau abaikan begitu saja.

Terlepas dari kemungkinan-kemungkinan terburuk itu, aku, Sohib, dan enam kawan lainnya akhirnya berangkat juga ke Lawu. Kami sepakat untuk memilih jalur Cemoro Sewu, Magetan. Jalur terberat yang dimiliki Gunung Lawu.

Aku tak pernah menyangka bisa mencapai puncak Hargo Dumilah.

Aku mencatatnya sebagai perjalanan paling mengesankan sejauh ini, tentu setelah perjalanan-perjalanan yang pernah kulalui bersamamu. Mungkin karena aku mendaki dengan orang-orang yang seru dan sangat menyenangkan. Terlebih lagi, pendakian di Lawu adalah awal dari perjalanan dan pendakian-pendakianku selanjutnya.

Kamu tahu, di atas ketinggian 3265 MDPL, di tengah suhu yang dingin menusuk, aku masih merasakan hangat pelukmu. Aku mengenakan baju tebal pemberianmu di hari ulang tahunku, juga sepatu yang kamu pilihkan di menjelang akhir 2019 silam. Sengaja aku mengenakannya, agar aku merasakan bahwa kamu selalu ada, di antara pikiran yang lelah dan luka-luka di hati yang masih basah. Gunung adalah cita-cita lama kita. Setidaknya ada bagian dari dirimu yang kubawa serta untuk—memulai—mewujudkannya.

TERKAIT:  Catatan Menuju Ketinggian #2

Pada akhirnya, seturun dari Lawu aku menemukan pemahaman baru perihal luka ini. Aku tidak benar-benar bertekad melupakanmu—dan memang tidak seharusnya kulakukan. Aku tidak berniat menyangkal setiap ingatan dan rasa sakit yang diam-diam menyesakkan. Aku hanya butuh waktu untuk membiasakan diri tanpamu. Itu saja. Dan mendaki gunung adalah salah satu upayaku. Karena dari setiap perjalanan, aku selalu dihantarkan pada pemahaman yang lebih baru.

Sebagai penutup, aku menulis sebuah puisi untukmu. Kutulis sesaat setelah turun dari Lawu. Semoga kamu masih suka puisi. Kalau tidak, aku harap kamu menyempatkan diri untuk membacanya:

Kita terbawa, dan segala hal yang tak sepatutnya tertinggal kecuali kecewa itu. Kita hanyut berdua, dan setiap hal yang tak semestinya kita ungkit dari masa lalu kecuali tawa, biarlah sirna.

Jangan ada jejak yang dihapus, tak terkecuali pada tempat di mana kita pernah jadi sepasang keteduhan bagi segala keluh-kesedihan.

Sebab, kau pikir, bakal ke mana kita setelah ini? Selain ke ufuk pendewasaan. Yang menghangatkan dingin sikapmu. Yang mencairkan beku egoku.

Lawu, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *