Lika-liku Hari Film Nasional Juga Lika-liku Usmar Ismail

Usmar Ismail

susahtidur.net – Setiap 30 maret Indonesia merayakan  Hari Film Nasional (HFN). Namun perayaan tahun ini berbeda dengan sebelumnya yang biasanya dimeriahkan dengan temu komunitas film, pemutaran film, diskusi dan pameran bahkan bioskop keliling. Hal ini karena adanya bencana wabah Covid-19 yang menyebar hampir di penjuru bumi. Sebagai insan kreatif, pegiat film tidak kehabisan cara merayakanannya. Dengan memanfaatkan platform media sosial, pegiat film mengadakan diskusi dan membagikan tontonan gratis yang dapat diakses di channel Youtube masing-masing sineas. Karena memperingati hari film nasional sudah menjadi kewajiban bagi sineas meski dalam situasi darurat wabah covid-19.

Selain untuk menghormati perjuangan dan pengorbanan sineas terdadulu, penentuan Hari Film Nasional (DFN) yang ditetapkan jatuh pada tanggal 30 maret 1950 penuh perdebatan. Dewan Film Nasional memilih tanggal tersebut karena  tanggal tersebut adalah awal mula produksi film Darah dan Doa atau Long March Siliwangi murni garapan orang Indonesia mulai dari sutradara, crew hingga dana.

Dalam pertemuan organisasi-organisasi perfilman tanggal 11 Oktober 1962, DFN menetapakan awal dari HFN. Namun situasi politik yang genting yang kini dikenal dengan nama Gerakan 30 September  membuat gagasan HFN terjeda lama. Barulah pada tahun 1980 saat situasi politik dan kondisi perfilman telah stabil,  gagasan kembali diangkat. HFN kemudian disahkan sebagai peringatan nasional melalui Keputusan Presiden No. 25 Tahun 1999, ditandatangani BJ Habibie pada 29 Maret 1999.

Awalnya, tanggal 30 maret bukan pilihan utama karena hanya berangkat dari usulan tunggal. Menurut peniliti film Totot Indrarto dalam tulisannya tahun 2017 tanggal yang pernah diusulkan antar lain 19 september dan 6 oktober.

TERKAIT:  Film 365 Days : Jika Dewi Sinta Jatuh Hati Dengan Rahwana!

Usulan HFN 19 september 1945 gugur karena menurut hasil diskusi 1990, momen 19 september adalah peristiwa jurnalisitik. Peliputan film berita atas rapat umum yang diadakan Presiden Soekarnao di Lapangan Ikeda pada tanggal 19 september 1945. Peristiwa ini diusulkan karena dianggap terkait revolusi dan punya nilai kepahlawanan.

Perusahaan Film Negara (PFN) mengusulkan tanggal 6 oktober. Pada tanggal tersebut merupakan momen ketika perusahaan film pemerintah pendudukan Jepang Nippon Eigha Sha diserahkan kepada Indonesia. Perusahaan film ini kemudian berkembang menjadi Berita Film Nasonal (BFN) dan PFN. Usulan ini ditolak karena dianggap tolak karena momennya diaanggap tidak punya idealisme dan nilai perjuangan.

Kembali ke era 1960-an. Dua tahun setelah DFN menetapkan HFN,  pegiat film komunis yang dikenal dengan sineas Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) menyuarakan penolakan ketetapan HFN 30 Maret dalam momentom HFN versi mereka lewat Festival Film Asia-Afrika (FFAA) III.  Festival berlangsung di Jakarta pada 19-30 April 1964.

Menurut peniliti film Adrian Jonathan Paaribu dalm tulisannya pada 2017, alasan Lekra menolak HFN 30 Maret karena film karya Usmar Ismail kontra-revolusioner dan tidak nasionalis. Kelompok ini lebih setuju HFN ditetapkan pada 19 Mei. Dasarnya tanggal pendirian PAPFIAS (Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat).

Aksi itu berhasi menghentikan pemutaran film-film AS di seluruh Indonesia, bahkan kemudian semua produk film barat dianggap sebagai ante AS. Sebagai pengganti mereka memasukkan film-film dari negara sosialis seperti Rusia, China dan lain-lain. Namun usul terakhir ini menjadi abu setelah peristiwa 30 September.

Dari sekian banyak  gagasan, Presiden Habibie mempertimbangkan dan memilih gagasan DFN  yaitu “30 Maret 1950” sebagai hari bersejarah bagi perfilman Indonesia. Karena pada tanggal tersebut, pertama kalinya film dibuat dan oleh orang Indonesia Usmar Ismail dan perusahaan miliknya Perfini

TERKAIT:  Marvel Cinematic Universe yang Benar-benar Butuh Jeda

Jejak Tragis Bapak Perfilman Indonesia

Usmar Ismail namanya. Pria yang lahir di Bukittinggi 20 Maret 1921 ditahbiskan sebagai bapak perfilman indonesia. Selain terkenal sebagai sutradara film, beliau juga dikenal sebagai sastrawan. Dengan idealismenya beliau berhasil menghasilkan banyak karya khususnya film bahkan beliau tak sungkan mengkritik dan membenci karyanya yang komersialis.

Beliau juga merupakan orang Indonesia pertama yang membuat perusahaan film yang diberi nama Perfini (Pusat Perfilman Nasional Indonesia). Perusahaan ini mulai produksi sejak tahun 1950 dengan karya pertamanya Darah dan Doa atau Long March Siliwangi.

Dalam sejarah hidupnya, pria berdarah Minangkabau telah memproduksi 33 film layar lebar, dengan genre drama berjumlah 13, komedi satir 9 film, aksi 7 film dan musikal 4 karya.

Karya Usmar Ismail yang paling meledak di pasaran dan disebut Magnum Opus, Tiga Dara (1956). Namun film ini sangat dibenci olehnya. Selama penayangannya film itu berhasil meraup laba Rp 3 juta dari penjualan sebesar Rp 10 juta, sungguh angka fantastis tempo itu bahkan film itu berhasil tayang 2 bulan dan beredar di Amerika.

Bagi Usmar Ismail, alasan membenci film yang telah direstorasi pada tahun 2016adalah karena tidak sesuai dengan idealismenya dan hanya sekedar produk komersial. Kesuksesan Tiga Dara lalu diikuti Delapan Pendjuru Angin (1957)dan Asmara Dara (1958) yang juga meraup keuntungan komersial.

Dari kacamata Usmar Ismail, hal itu tidak dianggap kesuksesan. Justru kesuksesan komersil dianggap menggadaikan idealismenya dalam berkarya.

Sejak peristiwa itu, Usmar susah payah menghidupkan kembali idealismenya. Melanjutkan berkarya sesuai keingininnya. Hingga puncaknya pada 1970, sebuah film yang menurut Rosihan Anwar sangat menguras emosi hingga membawanya kepada kematian tragis dengan usia cukup muda 49 tahun.

TERKAIT:  Mari Mengenang Jasa-jasa Bioskop Transtv

Pada tahun tersebut Perfini bekerja sama dengan International Film Company asal Italia, dalam produksi film bertajuk Adventures in Bali. Dalam kerjasama ini Perfini mengalami  pil pahit. Perusahaan film asal Italia ini meninggalkan perjanjian yang disepakati kedua pihak.

Honorarium artis dan karyawan yang tak terselesaikan bahkan biaya hotel dibebankan kepada Perfini. Karena kerjasama itu, Usmar harus banting tulang menghidupi perfini. Untuk membayar karyawan Usmar harus melego peralatan studio, hingga merumahkan 160 karyawannya di PT Ria Sari Show & Restaurant Management di Miraca Sky Club, karena bisnis yang dibangunnya sejak 1967 itu dilikuidasi oleh toko serba ada, Sarinah.

Sudah jatuh tertimpa tangga, saat Usmar berkunjung ke Roma melihat finishing film  Adventures in Bali namanya sebagai sutradara tidak disebut sama sekali. Hal ini juga mengabaikan perjanjian. Sudah ditipu produser italia, filmnya pun gagal menggaet masa di Indonesia.

Usmar wafat pada 2 Januari 1971 tanpa sempat memberi pesan apapun. beliau wafat karena mengalami pendarahan di otak. Menurut sahabat sekaligus kerabatnya sempat ada keinginan untuk mengoperasi otak namun kondisi sudah tidak memungkinkan. Banyak dari teman-temannya yang kaget karena sebelum tanggal wafatnya, usmar sempat mengajak keluarga, teman dan karyawannya merayakan tahun bersama di Miraca Sky Club sambil mengadakan perpisahan karyawan. Bahkan malamnya Usmar masih sempat menyelesaikan dubbing film terakhirnya Ananda di studio film Perfini.

Usmar dimakamkan di TPU Karet Jakarta  diantar oleh kerabat dan para sineas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *