Filsuf Lapangan Bernama Socrates

thesefootballtimes.co

susahtidur.net – Sepakbola, militer, dan kuda pacu politik. Terasa biasa saja, bukan? Namun, sebelum beranjak lebih jauh, coba bayangkan hal ini terlebih dahulu;

Ada sebuah negeri yang dikuasai oleh rezim militer pada 1965 yang amat otoriter. Negara ini baru saja sukses dengan Piala Dunia mereka pada 1970, lantas rezim militer ini banyak ikut campur perihal sepakbola. Mungkin marah saja tidak cukup. Mengatakan bejat? Siap untuk digelandang kala laga usai?

Bukan, ini bukan alkisah yang retorik untuk menggambarkan sepakbola negeri ini. Di zaman itu, barangkali otoriter adalah santapan lezat negeri ini, namun urusan prestasi sepakbola—bahkan Piala Dunia—Indonesia jauh dari itu walau disebut sebagai Macan Asia. Pula gambaran di atas amat Indonesia sekali mana kala ada sekelompok orang yang ingin menjadikan sepakbola sebagai “kuda pacu politik”.

Ini tentang perlawanan. Ini tentang Socrates yang menyadarkan kepada dunia bahwa sepakbola harus adil, murni, dan jernih. Inilah TOKOH; Filsuf Lapangan Bernama Socrates.

**

Gemuruh politik Brazil kian bising mana kala pada 1964, Joao Goulart digulingkan atas dasar ancaman sosialis. Alasan socialist threat ini dianggap berbahaya pada saat itu. Militer dan Sayap Kanan melakukan kudeta dan menerapkan banyak kebijakan yang rasanya lucu. Selain menghapus oposisi politik, dalam ranah sepakbola lebih lucu lagi.

Salah satu kebijaksanaan kediktatoran mereka adalah menerapkan asas-asas militer. Bukan hanya kepada timnas, namun juga kepada klub-klub yang akan mentas di Liga Brazil. Mereka dikarantina sebelum berlaga, kemudian didoktrin agar tidak membangkang. Mereka kudu mematuhi aturan pemerintah jika tidak mau menerima risikonya.

Kultur seperti ini menempa seorang pemain sepakbola paling memberontak sepanjang masa. Seseorang yang kelak akan menjadi kapten Seleccao dalam dua edisi Piala Dunia, yakni 1982 dan 1986. Seorang pesepakbola yang sejak umur 10, sisi memberontak sudah kentara kala ayahnya membakar buku bertemakan Kaum Bolsheviks saat kudeta 1964. Ya, dialah Socrates.

TERKAIT:  Bahaya Laten Coach Justin untuk Anak Kecil

Ia memiliki ayah yang berstatus pahlawan kota kecil di Igarapé-Açu. Ia disekolahkan di sekolah terbaik di Ribeirao Preto, Colégio Marista. Ayahnya pula memiliki perpustakaan kecil yang berisikan buku-buku filsafat. Dari sinilah Socrates kecil memiliki sisi baik dalam ranah memberontak kepada ketidakadilan.

Pada 1964, buku-buku itu dibakar. Pemerintahan yang besar-besaran melakukan sensor menjadikan Socrates kecil kehilangan buku-buku kesukaannya. “Pada tahun 1964, saya melihat ayah saya merobek banyak buku, karena revolusi. Saya pikir itu tidak masuk akal, karena perpustakaan adalah hal yang paling dia sukai. Saat itulah saya merasa ada yang tidak beres. Tapi saya hanya mengerti banyak.”

Socrates memang memulai masa muda di Botafogo, namun menjadi matang kala membela Corinthians pada tahun 1978. Militer mengurusi seluruh aturan tim yang mentas di Liga Brazil, tak terkecuali Corinthians. Dari sana, Socrates dan rekan satu tim mengkritisi kebijakan tim yang tidak memberikan ruang berserikat dan kebebasan berpendapat kepada anggota Corinthians.

Pada 1980, presiden Corinthians berganti tampuk kekuasaan kepada Waldemar Pires dan Socrates beserta kolega mendapatkan apa yang ia mau. Karena dalam tubuh tim, bermain baik di lapangan hijau selama 90 menit, bertautan dengan apa yang terjadi sebelum dan sesudah waktu pertandingan. Sejatinya Socrates meminta satu hal, yakni kebebasan berpendapat dan kesepakatan kolektif.

Socrates semakin beringas dengan menyasarkan bukan lagi internal tim, namun kepada rezim militer pada saat itu. ia membentuk sebuah gerakan bernama Corinthians Democracy yang aksi nyatanya adalah mengenakan jersey Corinthians dengan bordir bertuliskan Democracia sebagai bentuk dukungan kepada demokrasi.

Ia kian lantang ketika membawa tulisan win or lose, always with democracy ke dalam lapangan. Ia dianggap sebagai ancaman tentu sajak oleh rezim militer pada saat itu. Bahkan ia dianggap sebagai golongan anarkis dan bearded communists. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh rezim selain bermain dengan para buzzers-nya guna memberangus suara?

TERKAIT:  Tan Malaka: Bapak Republik yang Juga Mencintai Sepakbola

Pada 1984 ia mendukung Diretas Já. Menurut penuturan jurnalis Juca Kfouri, “Socrates mengambil risiko dengan mengatakan, di depan dua juta orang yang berkumpul di alun-alun katedral, bahwa jika pemilihan presiden langsung tidak diterima oleh rezim, dia akan bermain di Italia.”

Ia benar-benar pindah ke Fiorentina, Italia, pada 1984. Namun suara Socrates tak pernah surut. Pada 1985 Brazil mengadakan sistem voting untuk menentukan anggota parlemen mereka. Itu pula sebagai penegas bahwa rezim militer ini usai dan mimpi Socrates-Socrates lain di Brazil terwujud dengan megah.

Ia berkawan dengan siapa saja, arti lain ia akan berkawan dengan mereka yang mempunyai cita-cita yang sama. Entah tukang kebun di Corinthians, seniman jalanan di Brazil, atau bahkan para pemabuk yang siap menerima ocehan Socrates tentang “kondisi yang diidamkan” bersama-sama. Hal ini juga setali dengan kepandaian Socrates dalam bidang akademik.

Socrates adalah pemangku gelar “doctor of medicine”, sebuah gelar yang langka dalam ranah sepakbola pada saat itu. Socrates menjadikan sepakbola bukan hanya santapan para elit, namun jika pergerakannya dilakukan dengan benar, maka sekelas penguasa saja akan bertekuk lutut.

Seperti yang dikatakan oleh FIFA, bahwa sepakbola bukan ajang politik, padahal FIFA sendiri merupakan badan yang berorientasi kepada politik. Maka sepakbola apa yang dimaksud oleh FIFA? Sepakbola yang hanya berlangsung selama 90 menit? Ayolah, itu adalah pengkerdilan luar biasa dalam term sepakbola.

Di masa seperti ini, khususnya sepakbola Indonesia, apakah akan ada sosok seperti Socrates yang akan menghancurkan sistem busuk dalam jajaran federasi? Ah, asiknya beronani dengan sebuah utopi.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *