Wahdat al-Adyan: al-Hallaj dan Narasi Anti Solipsistisme

wahdat al-Adyan

Wahdat al-AdyanJujur saja, saya selalu gelagapan dan cenderung kewalahan tiap kali ditanya perihal betapa kontradiktifnya temuan sejarah dengan narasi-narasi yang menyebut bahwa agama adalah pembawa kedamaian. Dalam banyak wacana, agama diwartakan sebagai ajaran langit dengan prinsip utamanya adalah cinta. Namun nyatanya temuan sejarah selalu berkata sebaliknya.

Persinggungan agama-agama di dunia, dari masa ke masa, tidak lepas dari tragedi berdarah umat manusia. Sudah berapa perang dikobarkan atas nama Tuhan dan Agama? Sudah berapa kepala terpenggal atas nama kebenaran yang dipaksakan? Juga sudah berapa nyawa ditumbalkan demi arogansi yang berlindung di balik dalil-dalil kitab suci? Tak terhitung. Dan betapa kelamnya sejarah mencatat itu semua.

Dalam tafsir-tafsir sejarah yang lebih baru, banyak pemuka agama yang kemudian membuat semacam pretensi. Bahwa perang atas nama agama sejatinya tidak pernah terjadi. Yang ada adalah perang atas nama kekuasaan politk, melawan penindasan, dan entah apa pun itu.

Sayang sekali titik pijak argumen tersebut terlalu mentah dan tidak cukup kuat, sehingga terlalu mudah untuk diruntuh-patahkan. Karena yang sesungguhnya terjadi, ekspansi wilayah dilakukan tidak semata karena urusan kekuasaan dan pengaruh politik belaka. Lebih dari itu, misi indoktrinasi paksa nyata-nyata terselip di sela-sela derap kaki kuda, ujung pedang, dan anak panah yang siap menghujam jantung orang-orang yang dianggap sebagai kafir dan telah membangkang Tuhan.

Konon katanya, indoktrinasi terhadap meraka yang kalah dalam peperangan harus dilakukan demi membasmi kekafiran dari muka bumi; demi mengabarkan satu-satunya agama yang konon paling diberkati Tuhan.

Alih-alih meredakan silang pendapat yang sudah tersulut selama berabad-abad, dalih tersebut justru menambah panjang polemik siapa benar/siapa salah di antara para penganut agama. Pasalnya, Tuhan “tak pernah secara tegas” menyebut agama mana yang paling ia berkati. Sebab toh dalam kitab suci manapun, Tuhan selalu berkata hal yang serupa. Agama apa pun, secara prinsipil dibenarkan dalam kitab suci dan nabinya masing-masing. Tidak ada yang paling mendominasi atau menindih kebenaran versi liyan.

Bahkan dalam kitab suci agama Islam pun, yang dianggap sebagai agama pamungkas, Tuhan terang-terangan menyebut jika ia (agama baru itu) lahir untuk menyempurnakan agama-agama yang jauh lebih tua. Melengkapi yang belum tuntas, dan mengisi bagian-bagian yang masih rumpang, mengingat ada rentang zaman yang membutuhkan kontekstualisasi yang lebih baru. Dan ini perlu dicatat baik-baik! Untuk menyempurnakan, bukan untuk mengoreksi habis hingga yang tersisa hanyalah hal-hal yang tampak salah.

TERKAIT:  Valentine dan Kelindan Agama di Sekitar Kita

Tragisnya, Islam yang digadang-gadang bisa menjadi jawaban paling ideal justru hadir dengan tampilan yang kusut di beberapa sisi. Lihat saja betapa Islam dari peridoe ke periode malah terlihat sebagai agama yang tampak kacau sekali. Sesama umat Isalm bahkan bisa berselisih paham hingga titik yang paling mengerikan: saling menodongkan mata pedang dan moncong senapan.

Di sini saya semakin sadar, betapa saya sangat tidak berdaya untuk memberi jawaban perihal kenapa narasi agama dengan fakta sejarahnya terlihat begitu kontradiktif. Dan barangkali kesadaran itu pula lah yang membuat Sufi Martir, al-Hallaj, mempromosikan sebuah cara pandang baru untuk menyudahi perdebatan yang tak kunjung ada titik temunya ini.

Ia dengan lantang dan berani mencetuskan gagasan mengenai wahdat al-adyan, kebersatuan seluruh agama-agama di dunia. Atau bisa disebut juga pluralisme dalam konsep yang lebih ekstrim. Ia benar-benar menolak cara beragama yang solipsistik: merasa benar sendiri, penuh ekslusivitas, dan menyangkal kebenaran yang ditawarkan oleh yang berasal dari luar kelompoknya.

Dalam sebuah ceramah al-Hallaj berkata, “Aku memikirkan agama dengan sungguh-sungguh, kemudian sampailah aku pada kesimpulan bahwa ternyata agama memiliki banyak cabnag. Maka, jangan sekali-kali mengajak seseorang untuk memeluk satu agama tertentu. Karena itu akan menghalanginya dalam mencapai tujuan yang utama dalam agama. Yakni kebenaran sejati. Tetapi ajaklah ia melihat asal/sumber segala kemuliaan dan makna, maka ia akan memahaminya (hakikat kebenaran itu).”

Bagi al-Hallaj, seluruh agama pada hakikatnya adalah benar, jika seluruhnya memiliki orientasi sama-sama menuju Tuhan. Yang membuatnya tampak berbeda hanyalah soal nama, konsep ajaran, dan bentuk ritualnya saja. Sementara tidak ada perbedaan pada hakikat asal dan tujuan.

Secara keseluruhan, ajaran atau hukum dalam agama manapun adalah manifestasi dari kebenaran Tuhan itu sendiri. Sehingga dalam pandangan al-Hallaj, harusnya tidak ada salah satu agama saja yang seolah mendapat privilege, seolah paling diberkati, bahkan paling benar sendiri. Esensi dari agama, seluruhnya bertendensi pada ejawantah dari kebenaran Yang Maha Tunggal.

TERKAIT:  Cacatnya Agama Perihal Cinta

Maka dari itu, menurut al-Hallaj, pantang bagi seseorang untuk memaksakan kebenaran yang ia yakini kepada orang lain. Pantang bagi seseorang mengajak orang lain untuk mengajaknya memeluk satu agama tertentu. Selain melanggar hak asasi, sikap seperti ini juga terang-terangan melanggar kesejatian Tuhan. Karena dengan mengondisikan Tuhan dalam satu wacana kebenaran tertentu, itu sama artinya  dengan mencitrakan keagungan Tuhan dengan begitu sempit dan kerdil. Sementara kebenaran Tuhan tidak sefakultatif itu.

Agama adalah jalan, sementara Tuhan adalalah tujuannya. al-Hallaj mencoba mengajak kita menimbang mana yang lebih penting: sampai di tujuan yang sama, atau ribut-ribut soal jalan yang hendak dipilih? Sementara tidak ada yang paling benar dari jalan-jalan yang bercabang banyak itu, selagi pada akhirnya sama-sama tiba di satu titik temu.

Analogi paling sederhana dan paling klise, seseorang hendak pergi ke Jakarta. Ia lebih memilih lewat jalur A, alih-alih sama dengan kita yang memilih jalur B. Siapa yang paling benar? Atau siapa yang ternyata salah? Tidak ada. Kedua jalur itu toh sama-sama membawa kita ke Jakarta.

Untuk itulah di mata al-Hallaj, jika pada akhirnya sama-sama menuju Tuhan, perbedaan agama sudah dianggap tidak terlalu penting lagi. Dan saya kira, ini merupakan upaya al-Hallaj untuk memutus lingkaran setan kontradiksi antara narasi agama sebagai jalan damai dengan sejarah berdarah yang mengiringinya.

Sayangnya, bukan lingkaran setan itu yang terputus, Justru sepasang lengan al-Hallaj, sepasang kakinya, kedua bola matanya, sepasang telinganya, hingga lidahnya yang harus diputus dengan pedang oleh orang-orang yang menghalalkan darahnya atas nama kebenaran. Lagi-lagi, sejarah lalu mencatatnya sebagai elegi paling gelap,  di mana untuk yang kesekian kali agama selalu harus menyampaikan kebenarannya dengan darah dan nyawa orang lain.

TERKAIT:  Islam: Narasi Pro Kekerasan dan Aksi Terorisme

Di saat-saat hendak menghembuskan nafas di tiang gantungan itu, al-Hallaj justru tersenyum dan menimbulkan banyak spekulasi. Yang bicara mengenai wahdat al-adyan—yang dianggap kontroversial itu—al-Hallaj, atau jangan-jangan Tuhan sendiri yang telah bersemayam dalam jasadnya? (situasi hullul yang pernah diperagakan al-Hallaj: berbicara seolah-olah Tuhan sendiri yang berbicara, berbuat seolah-olah Tuhan sendiri yang sedang berbuat).

Kalau memang benar Tuhan sendiri yang berkata demikian, lihat, betapa arogannya manusia hingga Tuhan sendiri harus turun tangan. Sekaligus betapa terkutuknya manusia telah terang-terangan menyangkal kebenaran yang Ia kampanyekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *