Krisis Kesadaran Privasi di Tengah Negeri Polisi

davidebonazzi.com

susahtidur.net – Jika bicara Hak Asasi Manusia, maka kita sudah fasih mengucapkan apa saja hak kita. Hak untuk hidup, hak mengemukakan pendapat, hak beragama, dan hak privasi. Tapi apa benar kita telah memperoleh hak tersebut? Atau kita abai dan menjadikan hidup tanpa pemenuhan hak sebagai sebuah hal normal?

Tentu Anda sudah paham ke mana saya akan berbicara. Benar, perkara privasi. Sebagai bagian dari HAM, hak privasi seperti anak tiri. Menyuarakan hak hidup dan hak beragama memang sudah biasa. Hak mengemukakan pendapat memang klise, tapi masih terdengar sayup-sayup. Tapi bagaimana dengan hak privasi?

Kesadaran perkara hak privasi di negeri ini sangat rendah. Mungkin memang belum ada kesadaran yang muncul secara organik. Terbukti dari hadirnya polisi virtual. “Polisi” yang hadir di tengah kegiatan digital, terutama media sosial, disambut dengan baik bahkan dukungan.

Seperti belum puas dengan UU ITE, unit polisi virtual digulirkan sebagai jawaban dari “ketidaktertiban” masyarakat di dunia digital. Padahal tanpa polisi virtual, UU ITE sudah menelan “korban”. Banyak yang jadi pesakitan hanya karena UU karet yang bekerja tidak sesuai fungsinya ini.

Ini adalah kemajuan bagi negara, dan krisis bagi masyarakat. Di tengah represi pada pendapat yang berseberangan, dunia internet mulai ikut diawasi. Otoritas mulai sadar bahwa suara yang merdu di dunia nyata bukan berarti kepatuhan. Di dunia maya, kritik dan pembangkangan lebih lantang. Dan sudah pasti, otoritas tidak ingin kecolongan untuk mengamankan ketertiban masyarakat.

Tidak hanya suara sumbang perlawanan, informasi yang selama ini ditekan bisa terdistribusi dengan mudah. Dari informasi penggusuran sampai penyelewengan kekuasaan tersebar lebih cepat daripada mulut berbicara. Mungkin bagi generasi orde baru, kemewahan informasi ini seperti mimpi. Berita miring pemerintahan selalu tertutup kabar tidak penting perihal pembangunan.

TERKAIT:  Memangnya Kenapa Kalo Perempuan Mau Jadi Kuli?

Sayang sekali, kemewahan tadi terenggut oleh pengawasan 24/7. Setiap kegiatan kita di internet terpantau. Tutur kata kita diatur. Bahkan sekadar bersuara parau sebagai ekspresi kemarahan yang lebih besar bisa dihukum. Sebut saja tragedi pencidukan salah seorang warganet hanya karena satu twit sepele. Twit yang menyerang Walikota terpilih Solo ini dipandang sebagai “sumber hoaks”.

Saya tidak berminat bicara benar-salah. Karena yang benar di mata hukum belum tentu benar di mata kita. Namun saya ingin mengingatkan betapa hidup kita telah diawasi. Setiap lini kehidupan dipantau otoritas. Dan masyarakat sebagai subjek bisa menerima kondisi mengerikan ini.

Bagi Anda yang setuju dengan massive surveilance ini, Anda membayangkan situasi stabil sebuah negara tanpa kritik. Dengan merepresi kritik, kehidupan bernegara terdengar elok dan menyenangkan. Memang terdengar menyenangkan. Karena yang terdengar itu hanyalah imajinasi semu.

Menekan suara kritik dan oposan tidak akan membentuk kehidupan yang makmur dan bermartabat. Karena segala bentuk kerusakan tidak dibenahi, namun disembunyikan dari mata rakyat. Segala perilaku menyimpang otoritas dijauhkan dari perhatian masyarakat. Terganti oleh berita yang terstruktur dan tersaring demi terbentuknya opini kolektif.

Metode ini memang menarik bagi otoritas. Menekan suara kritis dan melawan sangat murah dibandingkan mengakomodir suara tadi. Tapi apakah itu yang kita mau? Apakah kehidupan di bawah bayang-bayang kekuasaan adalah hidup yang ideal?

Saya pribadi menolak tatanan tersebut. Pengawasan berlebihan sampai mengorbankan privasi masyarakat bukanlah kehidupan yang ideal. Jika hidup dalam semangat demokratis, maka suara sumbang tadi adalah kendali dari pemerintahan. Bukannya menekan suara yang sebenarnya menjadi ruh kehidupan bernegara yang adil dan makmur.

Mungkin sudah terlambat. Pengawasan berbasis virtual sudah berjalan. Kamera perekam kegiatan masyarakat juga sudah tersebar. Saat ini, kita telah diawasi dan dikendalikan. Seperti robot yang dikendalikan server. Seperti wayang yang dikendalikan dalang. Ini realitas yang akhirnya harus kita jalani. Realitas yang hadir karena sikap abai terhadap hak atas privasi.

TERKAIT:  Kritik Tajam Iklan A Mild ‘Bukan Main’ Full Version untuk Manusia Modern

Meskipun demikian, bukan berarti kita harus menerima dengan ikhlas. Apabila privasi kita tidak terjamin oleh otoritas, maka usahakanlah sendiri. Amankan gawai dan identitas digital Anda. Bila tuntutan Anda ditekan, maka usahakanlah sendiri. Jika tidak mampu, berusahalah bersama mereka yang peduli.

Jika ingin hidup seperti kambing di dalam kandang, itu juga menjadi keputusan Anda. Namun saya pikir itu bukanlah pilihan tepat. Karena kambing akan tetap dijagal jika sudah tidak bisa diperah susunya.

Den Baguse Prab

Orang yang setia untuk mempertanyakan segala hal. Membenci banyak hal dan orang dalam kebencian yang setara dan egaliter.

View all posts by Den Baguse Prab →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *