Catatan Menuju Ketinggian #2

catatan menuju ketinggian

susahtidur.net – Sebelum menulis ini, iseng-iseng aku mencoba menimbang berat badanku, beberapa saat setelah melihat foto yang terakhir kali kamu unggah di Facebook 4 September 2020 silam. Kamu tampak lebih cerah dan lebih berisi. Itu artinya, selain bahagia, kamu pasti makin rutin menggunakan produk-produk kecantikan.

Ah, memang sial betul dirimu pernah menerimaku menjadi lelakimu. Lelaki yang karena kegoblokannya telanjur menganggapmu cantik sempurna walaupun kamu sedang kusut-kusutnya. Lelaki yang saking begonya tak pernah merasa perlu mengerti hal-hal seputar produk kecantikan untuk kemudian berinisiatif membelikannya untukmu. Intinya, kamu makin cantik sekarang, itu yang pertama.

Kedua, jika melihat fotomu, aku masih belum yakin kamu berniat untuk diet. Baik untuk alasan kesehatan atau mungkin demi menjaga penampilan. Karena seingatku, dulu waktu kita sedang makan bareng, kamu dengan gayamu yang petakilan itu pernah bilang, selagi makanan-makanan di hadapanmu masih enak, diet bukanlah pilihan. Kamu juga bilang kalau kamu tak terlalu takut menggendut. Persetan soal body shaming, makan suka-suka tetap yang nomor satu. (Tapi aku tak tahu juga kalau cara pandangmu sudah berubah saat ini).

Lalu kita sama-sama membuat rencana lucu: getting fat together. Kita harus “menggendut” bersama. Sebuah rencana yang belakangan ini—setelah menimbang berat badan dan persis sebelum catatan ini kutulis—kusadari benar-benar gagal total. Angka di timbangan menunjukkan 46 kg. Turun dari yang sebelumnya mencapai 48 kg saat kita sering kulineran bersama di satu tahun terakhir menjelang hubungan ini resmi berakhir.

Ini menjadi salah satu rencana kita yang gagal selain mengadakan lamaran setelah kita lulus kuliah.

Ngomong-ngomong soal lulus kuliah, akhir Februari lalu aku baru saja diwisuda, loh. Aku cuma mau bilang kalau aku berhasil memenuhi janjiku ke kamu. Dulu, aku sering bilang kan, untuk memuluskan rencana kita (lamaran setelah lulus kuliah), aku harus lulus lebih cepat dari kamu. Kalau bisa tujuh semester sudah kelar semuanya. Dan aku sudah janji soal itu, maka akan kutepati, dan memang sudah berhasil kutepati.

TERKAIT:  Sepaket Memorabilia #2

Aku lulus persis di semester tujuh, dengan predikat cumlaude, dengan posisi sebagai wartawan di salah satu portal berita di Rembang. Harusnya itu menjadi modal yang cukup untuk melamarmu setelah wisudamu nanti.

Tapi manusia memang selalu begini: ingin merengkuh angan-angannya yang panjang dengan lengannya yang terlampau pendek.

Dulu aku selalu berharap, waktu aku sidang kamu lah yang menemani dan menungguku di luar ruangan. Lebih-lebih waktu wisuda. Harusnya kamu ada di sana, di sampingku, lalu akan kupeluk dirimu seerat mungkin sambil berbisik, “Terimakasih sudah menemani sejauh ini.”

Beruntungnya, aku dikelilingi oleh orang-orang baik. Rozi, Sohib, Syahrul, Khusnul, kamu mengenal mereka kan? Mereka ada pada detik-detik ketika aku gugup menghadapi sidang. Mereka juga yang ada pada momen mengharukan saat aku diwisuda. Harusnya keberadaan mereka sudah lebih dari cukup.

Tapi pada akhirnya aku masih mengharapkanmu hadir. Aku masih sering menatap nanar kontakmu dan dengan kebodohan maksimal masih berharap, kamu tiba-tiba membuka blokirnya lalu menyapaku dengan sangat hangat dan bersahabat.

Dengan sisa-sisa kewarasan yang kumiliki aku masih suka menghayal, sejenak kamu khilaf lantas mengucapkan “Selamat” atas apa yang sudah kulalui; atas semua yang kuusahakan untuk menepati janjiku padamu. Kendati aku sepenuhnya sadar bahwa itu tak akan pernah dan tak akan mungkin terjadi.

Duh, aku terlalu asik menceritakan apa yang sudah kucapai, padahal di sisi lain kamu juga sedang menapaki satu demi satu tangga pencapaianmu sendiri. Dengar-dengar, kamu sudah seminar proposal, ya? Semoga lancar sampai sidang nanti lah.

Dengar-dengar juga, kamu baru saja turun dari Gunung Lawu, pertengahan Februari kemarin kalau aku tak salah ingat. Pendakian pertamamu, dan kamu sudah mencapai puncak Hargo Dumilah setinggi 3265 MDPL. Wow! Itu keren, tahu. Karena terakhir kali kamu berjalan jauh dan sedikit menanjak, seringnya kamu pesimis tak bisa sampai di titik teratas karena keburu capek dan lemas di jalan.

TERKAIT:  Sepaket Memorabilia #3

Kamu memang selalu keren dan hebat! Itu yang membuatku dari dulu tak pernah berhenti kagum kepadamu, bahkan setelah sembilan bulan kita tak pernah bertegur sapa pun, aku masih mengagumimu, sungguh,

Seperti yang pernah kuceritakan di catatan sebelumnya, aku sempat mencoba berhenti mengagumimu, mencoba menjalin hubungan baru dengan perempuan lain. Pada mulanya memang berjalan menyenangkan. Dia perempuan yang asik, seru, dan kebetulan memiliki banyak kesamaan denganku.

Seiring waktu berjalan, di hubungan kami yang baru sebentar ini, dia berhasil membuatku nyaman. Namun di saat bersamaan juga membuatku dihantui rasa takut yang keterlaluan. Karena tiap kali aku mengingat wajah penuh amarahmu sembilan bulan lalu, pukul sepuluh pagi pada pertengahan Juli di halaman rumahmu, dalam diriku menyeruak ketakutan-ketakutan yang tak bisa kukendalikan.

Aku takut menjadi lelaki tak berguna baginya, sebagaimana ketidakmampuanku menjadi lelaki terbaik buatmu. Lebih dari itu, aku takut menyakitinya, sebagiamana kamu pernah terluka oleh caraku yang salah dalam menjaga dan menyenangkanmu.

Catatan ini semakin bertele-tele saja ternyata. Tapi ada sesuatu yang ingin kuceritakan perihal Gunung Lawu kepadamu. Begini, sama sepertimu—tanpa berniat mencocok-cocokkan dan mengkebetulan-kebetulankan—Lawu adalah gunung pertama yang aku capai, satu bulan setelah hubungan kita selesai dengan cara yang sangat menyakitkan bagiku—mungkin juga bagimu. Bedanya, aku menyisirnya lewat jalur Cemoro Sewu, Magetan, sementara kamu menyusurinya dari Candi Cetho, Karanganyar.

Namun pada akhirnya, jejak kaki kita tiba di titik yang sama, bukan?

Ternyata aku salah. Jika gunung masih menjadi cita-cita lama kita, aku ternyata tak sedang mewujudkannya sendirian. Kamu juga sedang mengupayakannya ternyata, walau mungkin bukan aku alasannya. Bagiku sekarang, itu menjadi tak penting. Karena setidaknya, ada kamu di sana. Sebab paling tidak, perjalanan kita sama-sama dimulai dari Lawu, walau masing-masing, walau menjadi asing.

TERKAIT:  Catatan Menuju Metropolitan

Karena catatan ini sudah terlalu panjang, lain waktu saja akan kuceritakan perjalananku ke Lawu. Sebab untuk menggali seluruh ingatan ini, butuh rasa perih dan air mata yang harus dilibatkan. Untuk itu, aku izin istirahat dan makan dulu. Aku masih harus getting fat, meskipun tanpa together lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *