Apa Salahnya Bilang Menjadi Ibu Rumah Tangga Itu Mudah?

thenation.com

susahtidur.net – “Jadi ibu rumah tangga itu gampang, ya?” tanya saya suatu kali kepada pacar saya setelah melihat sebuah cuitan cukup menarik di jagad Twitter. Jawabannya pun amat menohok, katanya, “Woh, ya jelas, gampang sekali. Membalikan telapak tangan saja kalah gampang dari menjalani peran sebagai ibu rumah tangga!” Katanya sembari mangkel.

Setelah banyak berbicara, ke sana dan kemari, pada akhirnya saya menemukan titik cerah yang membahagiakan. Dan dari itulah saya menulis bahwa menjadi ibu rumah tangga itu ternyata mudah. Amat mudah.

**

Perdebatan mengenai superioritas antara perempuan dan laki-laki sepertinya nggak akan pernah surut. Kesetaraan itu, menurut saya pribadi, adalah suatu barang mahal yang nggak mungkin bisa dibeli oleh umat manusia.

Semakin kita mencari kesetaraan, maka semakin jauh pula kita meninggalkannya. Arti lain, dunia nggak akan pernah setara, termasuk dalam kajian gender sekalipun.

Di media sosial, perdebatan perihal laki-laki dan perempuan nggak bakal ada habisnya. Pro dan kontra, entah yang pro dengan siapa dan kontra dengan siapa, tumpang tindih melingkupi lini masa. Baik perdebatan yang sifatnya receh, sampai perdebatan yang membawa berbagai mazhab, riuh bersemai di media sosial bernama Twitter.

Ya, tentu saja kalau masalah debat Twitter lah yang menyediakan, kalau di Instagram ya adanya caci maki yang nggak ada gunanya.

Dari sekian banyak argumen yang menyenangkan, terdapat satu premis yang ndlogok, namun jika disorot dari sudut pandang sebuah sistem bernama Pekokisme, sejatinya nggak ndlogok-ndlogok amat, lho. Serius. Yakni argumen yang menyatakan bahwa perempuan yang memilih menjadi full-time mother itu telah “menyerahkan masa depannya”.

TERKAIT:  Upaya Melawan Rezim Politik dengan Petisi yang Tampak Sia-sia

Lagi, ada yang mengatakan bahwa tugas menjadi seorang mother itu mudah, nggak seperti mereka yang memiliki role sebagai pencari nafkah. Mereka berpedoman bahwa ranah domestik itu nggak memberikan sebuah ruang lingkup keras sebagaimana tempat kerja atau mencari nafkah.

Menyenangkan, bukan? Inilah sisi baik bahwa berpendapat itu mendapatkan kebebasan. Maka dari itu, di sini saya akan mencoba menyelami logika berpikir ala Pekokisme yang menjalar di berbagai lini pemikiran media sosial. Mari.

Setelah saya selikidi, jebul memang benar, menjadi full-time mother itu mudah. Ah, mudah banget malah. Saya jadi paham alur pikiran orang-orang pemegang teguh mazhab Pekokisme ini. Benar sekali, menjadi ibu itu mudah, ibukota tapi ya.

Sebagian pemegang mazhab Pekokisme ini menganggap bahwa kehamilan adalah “mudah” dan “ringan” ketimbang menjadi kepala keluarga. Mereka menganggap, hamil hanya sembilan bulan, sedangkan bekerja itu selamanya—paling enggak sampai masa pensiun. Coba deh diresapi, nggak salah, kan?

Ah, hamil itu mudah sekali. Kehamilan adalah sebuah faktor yang berurusan dengan ketubuhan seorang perempuan. Pun dalam kehamilan, seorang perempuan ini membawa sebuah janin yang ia rawat di dalam tubuhnya melalui pembentukan organ, tubuh, dan tentu saja pemikiran sang bakal anak.

Hamil ini urusannya dengan momong anak di dalam kandungan. Gini lho, Bund, hidup berjalan seperti bajingan lha wong ngerumat anak yang sudah segede gedebog pisang saja sulitnya Masyaallah, apalagi seorang anak yang masih kinyis-kinyis di dalam kandungan.

TERKAIT:  Hotel Terbaik di Jogja untuk Nganu-nganu Pas Valentine

Perempuan nggak hanya mengalami gejala biologis saja, namun juga sosial. Apakah lingkungan selalu berjalan dengan adil? Ha yo jelas enggak. Seperti yang saya sebutkan di awal, makin kita mencari kesetaraan, makin kita menjauhinya.

Menjadi seorang ibu pasca melahirkan itu mudah, kan? Wah ya jelas mudah sekali. Setelah sang anak besar, tantangannya bukan lagi secara biologis dan tubuh, namun juga lingkungan dan aspek-aspek subordinasi lainnya.

Ketika konsep “keadilan” yang semula hanya pembentuk sistem patriarki di dunia pekerjaan dalam pemberian jatah cuti, di sini kasusnya melebar. Peran domestik adalah sebuah pisau bermata ganda yang dipandang sebelah mata.

“Aku membaca tulisanmu di Rata Kiri yang judulnya Bumi Manusia Kemiskinan,” ujar pacar saya. Lebih jauh lagi, ia mengatakan, “Salah satu pisau analisisnya kamu mengatakan bahwa pernikahan usia muda itu berbahaya bagi reproduksi, sosial, dan ekonomi. Lihat saja, Mas, betapa mudahnya jadi perempuan kala menanggung semuanya.”

Ia mengatakan dengan sebuah sarkas yang ngosak-ngasik. Katanya, ketika perempuan mengalami kehamilan dan pasca-kehamilan, pengalaman apa yang hilang setelah perempuan mengalami itu. “Lantas ketika ada yang mengatakan kala perempuan memutuskan memilih menjadi full-time mother, itu tandanya menyerahkan masa depannya? Asuuu asuuu lucu banget.”

“Jadi perempuan itu mudah, Mas, ha mbok tenan,” kata pacar saya sambil nenteng satu kardus berisikan mie instan. “Ngatur rumah, nyuci cawet, nyapu halaman, nyusui anak, semua itu dilakukan dengan kesadaran yang baik dan benar. Ini perihal rela kan, Mas? Bukan menyerah! Hesss jyan gampang banget jadi perempuan.”

Jika semua berpatokan pada ekonomi, maka peran akan gugur dengan perlahan. Padahal, peran ibu rumah tangga ialah lebih sakral daripada perihal ekonomi belaka. Baik menjadi perempuan karir atau domestik, semua memiliki peran yang baik semisal lingkungan melihatnya dengan adil.

TERKAIT:  Salahnya Logika Deddy Corbuzier saat Mengkritik KPI

“Kami ini nggak pernah baik-baik saja. Milih kerja dikira nggak menghargai suami, milih jadi ibu rumah tangga dikira males—ha males ndasmu, asui!” Sebagai pamungkas, ia mengatakan, “Seperti apa kata Mbak Kalis; perempuan dinilai paling keren kalau punya karier sekaligus ibu rumah tangga. Padahal, pandangan begitu udah ketinggalan zaman. Menurutku ya semua punya peran kan, Mas.”

Ah, memang benar, menjadi ibu rumah tangga itu amat mudah. Seperti apa yang saya kutip dari pacar saya, “Menjadi ibu rumah tangga itu mudah, yang susah ya ketika menghadapi bacot manusia yang menganggap bahwa peran mendidik manusia itu “menyerah dengan hidupnya” jare. Bajingan.”

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *