Cermin Itu Bernama Myanmar

The Hunger Games Salute

“Ah, aparat di mana-mana sama saja. Mereka memberangus suara sipil, dalam medium sebuah perintah pihak atas. Mereka meredam gairah berpendapat, dalam tajuk sebuah utusan majikan. Aparat itu anjing; menggonggong tiada henti, diberi tulang pastilah menggerogoti,” Begitu kata-kata penuh cinta dari salah satu peserta aksi demonstrasi di Myanmar untuk junta militer Tatmadaw. Ya, inilah Rata Kiri

**

susahtidur.net – 3 Maret yang amat berdarah sekaligus kelam bagi warga sipil Myanmar. Mereka mendapatkan perlakuan represif dan bentrok dengan junta militer. Hal ini bertautan dengan kudeta junta militer terhadap pemerintahan yang sah. Dicatat dari Aljazeera, 38 orang tewas dalam unjuk rasa. Christine Schraner Burgener, pejabat PBB utusan Myanmar, mengatakan bahwa hari itu menjadi hari paling berdarah sejak diberlangsungkannya kudeta mulai 1 Februari lalu.

Pemimpin terpilih dan sah, Aung San Suu Kyi, direbut kekuasaannya oleh junta militer Myanmar. Selain Kanselir Aung San Suu Kyi, junta militer yang dipimpin oleh Jenderal Min Aung Hlaing—yang nantinya mengambil rem darurat selama satu tahun sekaligus pemerintahan Myanmar—juga memberangus Presiden Myanmar Win Myint, dan pentolan Partai Liga Nasional Demokrasi (NLD).

Penggerebekan yang terjadi pada dini hari itu sebab musababnya adalah pemilihan parlemen pada November 2020 lalu. Junta militer merasa dirugikan dan dicurangi. Dilansir dari Tirto, Suu Kyi dituding memperluas mayoritas parlemennya dengan mengorbankan perwakilan militer. Namun demikian, komisi pemilihan mengatakan tidak ada bukti yang kuat terkait dengan tudingan itu.

Dendam Kesumat Tatmadaw

Tatmadaw atau militer Myanmar selalu mendapatkan peran di negaranya. Walau Myanmar sempat dihimpit oleh berbagai problematika baik nasional maupun internasional, Tatmadaw rasanya tak pernah kesulitan menancapkan cakarnya di bumi Myanmar. Puncaknya adalah Februari 2021 di mana Tatmadaw “akhirnya sukses” melancarkan kudeta.

TERKAIT:  Terpaksa Merindukan Sukarno

Dalihnya adalah pemilihan parlemen dengan rincian begini; Partai NLD pimpinan Aung San Suu Kyi berhasil memenangkan 396 dari 476 kursi parlemen, sedangkan oposisi sokongan militer, Partai Solidaritas dan Pembangunan (USDP), hanya kebagian 33 kursi.

Sedangkan pihak militer memiliki kontrol yang berpatokan pada Konstitusi 2008. Apa itu Konstitusi 2008? Dilansir dari Myanmar Times, “The 2008 Constitution, which many people deem undemocratic, allocates 25 percent of all parliament seats to the military. Likewise, key security ministries, such as the interior Ministry and Border Affairs Ministry remain in firm control by the military despite the transfer of power to a civilian government in 2016.”

Dengan hasil kemenangan NLD sebesar 396 dari 476 kursi di parlemen, ini tandanya “jatah” 25% kursi bagi Tatmadaw menjadi ancaman. Sekaligus bisa saja posisi penting di bidang keamanan Myanmar lepas dari genggaman. Apalagi dalam Konstitusi 2008 tersebut, memudahkan Tatmadaw masuk dalam teritori kementrian-kementrian penting seperti pertahanan dan perbatasan.

Kita tentu paham bagaimana perasaan menjadi pihak oposisi, pun ketika sedang kalah, Tatmadaw rasanya mengaplikasikan itu dengan sistematis dan terukur. Mereka klaim bahwa kemenangan NLD berasal dari kecurangan. Menurut pihak militer, dilansir dari Tirto, menyatakan ada ketidakberesan pada daftar empat juta pemilih suara yang mengarah pada kecurangan di 179 daerah. Namun, tuduhan itu disanggah komisi pemilu, yang menyebutnya “berlebihan” dan “absurd”.

Kudeta Militer dan Tindakan Represif di Tengahnya

Tak lama kala Burma—nama sebelum Myanmar—lepas dari jajahan Inggris, tepatnya pada 1962, Jenderal Ne Win kudeta Perdana Menteri U Nu. Bergerak sebelum Burma merdeka, tepatnya pada 1947, Perdana Menteri Aung San, ayah dari Aung San Suu Kyi sekaligus Bapak Bangsa Myanmar ini ditembak mati oleh sekelompok pemuda bersenjata bersama dengan jajaran kabinetnya. Setelah Aung San gugur, U Nu sebagai kawannya sejak mahasiswa naik memegang mandat.

TERKAIT:  Kamboja Layu Yogyakarta

U Nu, selain gempuran dari pihak militer, ia juga mendapat guncangan berarti dari Thakin Soe pemimpin Partai Komunis “Merah”. Serta tekanan dari Thakin Than Tun sebagai pemimpin Partai Komunis “Putih” yang menganggap gerakan nasionalis yang dibangun Aung San (yang nantinya banyak mengisi jajaran kabinet U Nu), yakni Anti-Fascist People’s Freedom League (AFPFL) adalah prodak Inggris.

Kelemahan U Nu adalah meletakkan sekala prioritas antara individu, partai, negara, otoritatif pribadi kepada negara. Kala mengurus internal partai, U Nu menugaskan angkatan militer ditunjuk sebagai “pemerintah sementara” di bawah Jenderal Ne Win. Di bawah arahan Jenderal Ne Win, Burma menjadi relatif lebih stabil. Pada 1960, U Nu kembali naik dan hanya butuh waktu 2 tahun pihak militer mengkudetanya atas dasar beberapa stabilitas negara yang tak bisa dilerai U Nu.

Di fase berikutnya, fase kediktatoran konstitusional Ne Win menjadi semarak. Beberapa pakem coba diterapkan oleh Ne Win, salah satu yang ternama adalah sistem filsafat bernama Jalan Sosialisme Burma di mana kombinasi abstrak antara Marxis, Buddhism, dan Nasionalism. Alih-alih sistem filsafat Ne Win merujuk kepada way of life, yang saya tangkap adalah kembalinya manusia kepada fitrah, yakni ekonomi. Sektor besar pasar Cina dan India, dialih kepada intern.

1987 adalah aksi demonstrasi kepada kediktatoran Ne Win. Pemicunya, dilansir dari Tirto, kekecewaan rakyat terhadap krisis pangan, maraknya korupsi di kalangan pejabat, kemerosotan ekonomi, sampai turunnya kualitas pendidikan. Puncaknya terjadi setelah pemerintah melakukan demonetisasi (penghapusan mata uang yang sah).

Ne Win pensiun, gejolak negeri ini belum turun. 8 Agustus 1988 atau peristiwa “8888 Uprising” bergemuruh. Hal ini ditengarai oleh naiknya Jenderal Sein Lwin yang dianggap brutal kepada pro-demokrasi. Aksi demo ini memercikkan peluru-peluru sunyi dari aparat. Tercatat kurang lebih tiga ribu sampai sepuluh ribu nyawa melayang. Harga yang mahal untuk sebuah ketenangan.

TERKAIT:  Senandika Komedi Gelap

3 Maret 2021, The Democratic Voice of Burma, layanan berita online independen, memiliki catatan bahwa 18 orang meninggal di Yangon, 8 orang di pusat kota Monywa, 3 kematian di Mandalay, 2 di Salin. Serta 1 kematian di Mawlamyine, Myingyan dan Kalay.

Dari sekian banyak cerita, terbit pahlawan bernama Kyal Sin alias Deng Jia Xi atau sering disebut Angel. Ia ditembak di kepala, meninggal dengan penuh kehormatan. Tanpa mengurangi jasa korban meninggal lainnya, Angel menjadi simbol bahwa tindakan represif aparat masih acapkali ditemukan di belahan dunia mana pun. Tanpa terkecuali dan sekat.  

Komedi Bernama Indonesia

Indonesia bukan negeri kepulauan, bukan juga negeri yang penuh akan senyuman. Indonesia, kini, lebih tepat jika disebut sebagai negeri punchline kelucuan. Karena tiap tindak tanduk pemerintah, merupakan akumulasi kelucuan yang patut setidaknya diapresiasi berupa tawa. Tawa yang penuh getir, lahir saat nalar perlahan menemui akhir. Saat negara tetangga menemui kasus problematik, Indonesia sebagai kawan hadir menghibur dalam bentuk sebuah kelucuan.

Ya, pemerintah merespon langsung tindakan represif aparat atas peserta aksi di Myanmar. Juru Bicara Kemlu Teuku Faizasyah menyatakan prinsip negara-negara ASEAN memang non-intervensi. Namun, dalam kasus Myanmar, menurutnya keliru jika itu dimaknai sebagai sikap pasif terhadap kekerasan yang terjadi.

Kelucuan terjadi kala terpantik sebuah ironi. Sayangnya, fakta di lapangan mengatakan bahwa seharusnya Myanmar tepat menjadi cermin bagi Indonesia. Menasehati cermin, sama saja menasehati bayangan diri sendiri yang terpantul via cahaya.

Lama-lama, saya jadi suka pepatah ini; sebelum menasehati orang lain dengan menggebu, kadang kita perlu untuk bercermin terlebih dahulu. Ah, lucu sekali memang negeri ini.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *