Marilyn Monroe di Sepanjang 57th Street

thetimes.co.uk

Marilyn Monroe – Aku melintasi 57th Street dengan menggunakan scarf, kaos polo, dan tanpa rias yang melekat pada parasku. Aku melepas seluruh atribut Monroe yang biasa aku kenakan saat beradu peran. Aku adalah perempuan Amerika pada umumnya. Aku melepas atribut seluruh simbol yang ada dalam diriku. Simbol seks? Ayolah, di tahun ini, 1960, siapa yang tak tahu Blonde Bombshell? Namun siapa yang tahu dan bisa melihat diriku secara utuh dan adil? Hanya diriku sendiri, barangkali.

Aku biasa membeli barang satu atau dua kebutuhanku di sebuah kedai. Tanpa rias, beberapa remaja tentu saja menyadari sosok Monroe yang melintasi di hadapan mereka. Kadang, mereka bilang, “Hei, sebentar. Tahukah kau siapa yang aku pikirkan?” Dan mereka mulai membuntutiku. Aku tak mempermasalahkan itu, bisa jadi aku menjadi pelengkap mimpi-mimpinya. Sebuah mimpi remaja Amerika pada dasarnya.

Aku bukan tokoh khayalan, kau tahu. Aku adalah Marilyn Monroe yang nyata. Aku bukan fantasi, aku hidup dan sedang mencincing beberapa roti yang hendak kumakan di kediamanku. Aku melihat para remaja itu secara adil, bahwa bisa saja bertemu denganku, bisa menjadi cerita kala ia berjumpa dengan kawan atau orangtuanya. Menyenangkan. Ya, itu menyenangkan.

Kadang beberapa laki-laki dewasa menyapa, “Tunggu, aku akan memberitahu istriku,” menurutku, itu manis sekali. Aku bisa saja mengubah mood laki-laki itu walau hanya pada hari itu saja. Hari esok? Aku tak bisa menjamin diriku selalu mentas di 57th Street tanpa riasan. Bisa saja nanti malam, aku menampilkan peran dalam film-filmku, contoh saja Gentlemen Prefer Blondes (1953), Seven Years of Itch (1955), The Prince and the Showgirl (1957), Some Like It Hot (1959).

TERKAIT:  Habib Munzir Al-Musawa: Dakwah Akhlak dan Kemanusiaan

Sebelum bermain seni peran, hidupku amat susah. Aku bahkan sempat bersama bibiku, mengantre selama berjam-jam hanya agar bisa mendapatkan sekantong roti sisa seharga 25 sen. Aku memulai awal karir sebagai model, foto telanjangku sempat menjadi konsumsi publik di sebuah foto shoot kebutuhan kalender pada 1949. Lantas semua bak memusuhiku, katanya, laki-lakinya melihat tubuhku. Apakah itu salahku?

Begini, aku hanya ingin ketika seorang laki-laki pulang ke rumah setelah bekerja keras seharian, melihat gambar ini dan berkata ‘wow’. Itu saja, tidak lebih. Aku hanya ingin merasakan bagaimana para pengangkut sampah yang melintasi 57th Street menyapaku, “Hai, Marilyn! Bagaimana perasaanmu pagi ini?” bagiku, itu suatu penghormatan, karena itulah aku menyukai mereka. Saat-saat paling menyenangkan adalah ketika mereka melihat seorang gadis, dengan rambut pirang, lantas mereka berkata, “Oh, ternyata Marilyn Monroe!”

Menurutku, menjadi terkenal maka kau akan memasuki sifat manusia dalam berbagai cara. Suatu ketika aku berniat mencari sebuah rumah, lantas si laki-laki berkata bahwa ia akan mengenalkan diriku kepada istrinya. Lantas si istri berkata, “Akankah kau berkenalan dengan kami?” Hal ini yang tidak aku lihat dalam bisnis seni peran. Beberapa aktor dan sutradara, biasa mereka tidak mengatakan kepadaku, melainkan kepada pers. Aku muncul di surat kabar, menyebar ke seluruh dunia. Aku tidak mengerti kenapa orang-orang tidak lebih sedikit menghormati satu sama lain.

Misalnya, kau membaca berita di koran bahwa ada aktor yang mengatakan kala beradegan cium denganku, rasanya seperti mencium Hitler. Well, aku rasa itu adalah masalah pribadinya. Jika aku harus melakukan adegan cinta yang intim dengan seorang yang benar-benar punya perasaan denganku, maka fantasi akan ikut bermain sebagaimana mustinya.

TERKAIT:  Lennon dalam Lanskap Politik dan Agama

Aku tidak melihat diriku sebagai suatu komoditas, tetapi aku yakin banyak orang seperti itu […] Aku akan berpikir bahwa aku mempunyai banyak teman yang hebat. Mereka melakukan banyak hal. Mereka membicarakan tentang dirimu kepada pers dan teman-teman mereka, mengisahkan cerita dan hasilnya mengecewakan. Ada orang-orang yang menganggap bahwa kau sungguh tidak menarik dalam keseharian hidupmu (Rebel Notes, 78).

Terkadang aku pergi ke pesta di mana tidak ada seorang pun yang mengajakku bicara sepanjang malam. Para perempuan akan bergerombol di pojok ruangan membicarakan watakku yang berbahaya. Mereka takut suami atau kekasih mereka akan memberikanku tempat di atas ranjang mereka (Tirto, Marilyn Monroe: Bintang Gemerlap di Antara Kehampaan Hidup).

Namun dalam seminggu, aku bisa menerima lima ribu pucuk “surat cinta” dari penggemar laki-laki dari penjuru Amerika. Banyak yang melihatku dalam pakaian glamor, lantas berteriak, “Ya Tuhan!” Ah, sungguh, aku takut mati. Aku merasa, dan kadang-kadang aku masih merasa, bahwa aku membodohi seseorang. Aku tidak tahu siapa atau apa, mungkin diriku sendiri. Seorang aktor bukan mesin, kreativitas munculnya dengan humanitas dan karena kau adalah manusia, maka kau merasa menderita (Rebel Notes, 81).

Menjadi tenar itu konyol. Aku merasa bahwa berjalan di 57th street dengan menggunakan polo itu lebih jujur. Semisal ketenaran itu hilang, aku merasa mengetahui bahwa menjadi tenar itu memang konyol. Itulah sesuatu yang aku alami saat ini, namun itu bukan benar-benar tempatku berada.

*) Cara bertutur naratif dalam tulisan ini hanya fiksi belaka, bukan melalui Marilyn Monroe secara langsung. Pun dalam tulisan ini, dikutip dari beberapa pokok penting seperti buku biografi dan Rebel Notes “Aku Satu-satunya”.

Gusti Aditya

Pernah makan belut

View all posts by Gusti Aditya →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *