Distopia Masyarakat Teistik Vis a Vis Utopia Wacana Sekularisasi Total

dari thenorwichradical.com

Sekularisasi Total – Melalui pesan WhatsApp, seorang kawan membagikan sebuah jurnal yang cukup menarik: The Mysteri of Nyai Rara Kidul, Goddess of the Southern Ocean yang ditulis oleh Roy E. Jordan. Beberapa jenak kemudian ia lalu mengirimkan catatan yang ia buat atas jurnal tersebut yang intinya, ungkapan “Ah itu hanya mitos” yang sering dilontarkan masyarakat modern sebagai respon atas fenomena metafisika tradisional terdengar tak senyaring dulu lagi.  

Sinisme dan sikap skeptis yang tumbuh dengan semarak mengiringi lahirnya cara pandang empiristik dan positivistik di kalangan “orang-orang sekolahan” mulai menipis, meski tak lenyap sama sekali. Metafisika tradisional—dan apa pun wujud di dalamnya, termasuk agama—saat ini tengah berupaya merebut kembali posisinya, menolak tumbang dari desakan komoditas rasional masyarakat pasca industri.

Catatan dari kawan saya itu lalu memaksa saya untuk membuka-buka kembali Muqaddimah-nya Ibnu Khaldun, lalu ketemulah pemahaman seperti ini:

Untuk pilihan yang agak pasif, inilah yang disebut dengan siklus sejarah (orang-orang menyebutnya Teori Siklus Ibnu Khaldun). Sejarah bergerak memutar, kembali ke titik awal, untuk kemudian membentuk peristiwa yang berulang. Sejarah akan bergerak dengan pola yang hampir mirip dengan yang sebelumnya pernah terjadi, kendati memang tidak sama persis.

Dengan kata lain, setelah sekian lama ditekan peradaban modern yang berkiblat pada rasionalisme dan empirisisme, metafisika tradisional—lebih khusus agama—tidak bisa mati begitu saja.

Atau—dalam konsep yang lebih pasif lagi—jika meminjam dawuh Gus Baha, manusia mana pun tak sepatutnya cemas berlebihan terhadap masa depan agama. Juga tak semestinya mencoba menggeser andil agama dari kehidupan praktis sehari-hari. Sebab Tuhan akan tetap menjaganya, dengan tangan-Nya sendiri. Dan dalam keyakinan agama yang kebetulan saya anut, hal tersebut adalah maklumat dari langit.

TERKAIT:  Adat yang Mengikis Agama

Maka karena agama merupakan maklumat dari Tuhan, tidak seorang pun bisa menenggelamkannya, bahkan di arus zaman paling bandang sekalipun.

Kristen dan/atau Katholik harus kehilangan Yesus Kristus (Isa), Yahudi yang ditinggal Musa, bahkan Islam yang disebut sebagai agama puncak pun harus merelakan kematian Muhammad Saw. Belum lagi ditambah daftar agama-agama—non Semitik—yang harus ditinggal imam mereka masing-masing. Yang jelas, mereka tetap utuh, meski di bagian tertentu terlihat sangat compang-camping. Setidaknya kita sebut “masih tetap ada” dulu.

Lalu bisa kita saksikan belakangan ini agama merangsek ke permukaan dengan membawa optimisme—dan romantisasi basi—perihal era keemasan moyang-moyang mereka terdahulu. Tapi kelompok beragama masih tetap eksis, bukan? Bahkan kelewat eksis sampai harus offside sana-sini.

Namun, saya tidak mau buru-buru menyimpulkan bahwa kelompok manusia beragama sudah menang. Kali ini saya tidak mau membela kelompok ini secara berlebihan. Karena bagaimanapun, ada narasi yang pincang dalam tubuh mereka. Dan inilah yang bagi saya cukup menyebalkan.

Satu sisi, beberapa dari mereka ingin berjalan beriringan dengan program zaman yang serba digital ini. Namun dalam waktu bersamaan justru mengalami distopia terhadap setiap perubahan dan kemajuan yang sedang berlangsung. Setiap saat tumbuh semacam ketakutan terhadap pesatnya teknologi dan informasi, seolah itu merupakan bencana besar bagi keimanan, moral, dan spiritual. Setiap hal baru yang lahir dari luar mereka buru-buru dilabeli sebagai produk haram yang wajib dijauhi. Dengan begitu, alih-alih lahir generasi kelompok beragama yang “canggih”, yang terlihat justru konservatisme dan fatalisme yang memprihatinkan.

Kemudian kita sama-sama melihat Teori Siklus-nya Ibnun Khaldun bekerja: kelompok beragama terjebak dalam kubangan romantisme masa lalu. Bergemuruh tiap kali menengok ke arah belakang, tapi gagap dan getir manakala harus menatap ke masa depan.

TERKAIT:  Agama, Jalan Pulang

Dampaknya, lagi-lagi, muncul kelompok-kelompok agama yang menghendaki ketertundukan manusia di bawah kaki “Tuhan”. Hukum Tuhan harus diberlakukan tanpa terkecuali dalam aspek manapun. Teriakan-teriakan perihal tegaknya teokrasi timbul-tenggelam di telinga, tanpa mempertimbangkan kegagalan-kegagalan yang lama. Tidak bisa lain! Mereka menginginkan cara hidup yang teistik.

Contoh yang paling kasat mata saja misalnya, lahirnya ISIS dalam skala global, atau Hizbut Tahrir Indonesia dengan wacana khilafahnya itu.

Dari sini, bukan mengagetkan jika muncul pula sekelompok orang yang semakin meminggirkan agama dari kurikulum hidup mereka—sebut saja salah satunya kelompok New Atheists—dengan modus yang lebih baru, dengan gerakan yang makin solid nan agresif, dan tentunya dengan dasar argumen yang lebih mapan untuk menyangkal dalih-dalih kebenaran yang dibawa oleh para misionaris agama.

Lalu seperti yang disebutkan Richard Dawkins, bahwa agama—dan seluruh aspek yang menyertainya—hanyalah delusi. Untuk itu, manusia harus enyah dari sana, karena kesekaratan realitas tak bisa diobati hanya dengan kepasrahan akan janji-janji langit yang semu dan candu itu. Secara materill dan praktis pun manusia harus berevolusi kalau tidak ingin punah di tengah seleksi kemajuan zaman, seperti yang diungkapkan Herbert Spencer.

Kurang lebih sama seperti yang ditulis Den Bagus Prabu dalam Agama dalam Hierarki Sosialnya, sisi lain dari agama memang benar-benar bencana.

Puncaknya, merespon konservatisme dalam narasi teistik-teokratik, sekelompok “orang-orang rasional” ini menawarkan sebuah antitesis berupa wacana sekularisasi total. Di mana berkebalikan dengan kelompok masyarakat teistik yang menghendaki dunia tunduk sepenuhnya di bawah hukum agama dan Tuhan, kelompok sekularistik lebih mendambakan dunia yang benar-benar bersih dari agama. Gambaran dunia yang bagi mereka jauh lebih kondusif dan ideal.

TERKAIT:  Teror

Dalam situasi vis a vis ini, siapa di antara dua kelompok ini yang bakal menang? Agak sulit untuk memberikan prediksi, dan lebih rumit lagi untuk menentukan sikap. Yang jelas, sejauh ini, dunia masih belum condong ke salah satu dari keduanya. Dunia tidak begitu saja tunduk di bawah kampanye teistik-teokratik, sekaligus tidak semudah itu juga terbuai pada cita-cita ideal wacana sekularisasi total. Dan sebelum kepala saya bertambah pening memikirkannya, saya cukupkan sekian saja kolom Rehal edisi minggu ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *